Eksplorasi Tubuh & Distorsi dalam Pameran New Paintings ROH Projects
03 February 2026 |
21:01 WIB
Lukisan kuda itu tampil dengan sapuan warna merah muda, marun, ungu, dan cokelat yang ekspresif yang menghadirkan nuansa emosional mendalam sekali. Bentuknya tidak utuh, seolah terdistorsi dan terus bergerak, dengan garis kasar serta tetesan cat penuh gestural.
Di atasnya sang penunggang tampak melebur. Hadir distorsif sosok tersebut terekam dalam pola figuratif sekaligus abstrak, seolah merefleksikan kehidupan yang tidak pernah benar benar stabil dan rapuh.
Lukisan berjudul Friends (2025) ini merupakan karya seniman Wei Jia dalam pameran bertajuk New Paintings di ROH Projects, Jakarta. Berlangsung hingga 22 Februari 2025, pameran ini menghadirkan karya terbaru seniman kontemporer Asia.
Baca juga: Memahami Ruang Hidup Suku Kajang di Pameran Ekskursi UI
Selain Wei Jia, New Paintings juga menampilkan karya karya Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, dan Tith Kanitha. Melalui eksplorasi dwimatra, para seniman mengolah kegelisahan yang serupa tentang tubuh yang meluruh, identitas yang goyah, serta realitas yang tidak lagi utuh dan mudah dipastikan.
Wei Jia merupakan seniman asal China yang berbasis di Chongqing dan mengajar di Departemen Seni Grafis Sichuan Fine Arts Institute. Sejak awal dekade 2000 an, dia mulai membawa medium cat akrilik dari praktik seni grafis ke dalam lukisan, membangun bahasa visual yang bertumpu pada gestur dan distorsi.
Keunikan dari karya Wei adalah caranya mengolah hakikat manusia dengan menyoroti tema singularitas dan universalitas. Refleksi ini hadir, salah satunya, dalam karya Embracing (Sun and Stars) yang kembali menghadirkan figur manusia dan kuda dalam bentuk terdistorsi.
Alih alih menampilkan figur secara representasional, Wei membiarkan tubuh tubuh itu larut dalam sapuan kuas yang ekspresif. Berdimensi 250 x 205 cm dan menggunakan medium akrilik di atas kanvas, karya ini menegaskan tubuh sebagai ruang tarik menarik antara kehadiran dan penghilangan.
Namun, distorsi visual tidak dimaksudkan untuk mengaburkan makna, melainkan membuka ruang tafsir atas tubuh yang terus berubah, tertekan, dan bernegosiasi dengan zamannya. Pendekatan visual yang berangkat dari tubuh juga tampak dalam karya karya Nadya Jiwa.
Bedanya, seniman jebolan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung ini mengelaborasi figur melalui sensibilitas pengetahuan dan pengalaman personal yang lebih dekat ke ranah spiritual. Walhasil, kesan yang muncul saat memandang karya karyanya terasa jelas sekaligus ganjil.
Tubuh atau figur yang dilusi oleh Nadya juga dihadirkan sebagai citra yang tidak sepenuhnya utuh, seolah membawa ingatan yang terputus putus dan sulit dirumuskan secara pasti. Ketegangan ini salah satunya tampak dalam karya Sirens (2025) dan Penyandaan I (2025).
Resonansi pameran ini juga terasa di kalangan pengunjung. Hanin, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, mengaku mengetahui ROH Project dari media sosial. Dia menikmati pengalaman melihat karya secara langsung. Kesan utamanya adalah rasa kagum terhadap kekuatan visual yang dihadirkan.
Sementara itu, Afrilla yang baru pertama kali berkunjung ke ROH Project menilai kekuatan visual sebagai daya tarik utama. Dia paling tertarik pada lukisan kuda dengan warna warna mencolok yang menurutnya sangat fotogenik. “Yang paling sering difoto itu yang kuda, karena warnanya colorful banget, visualnya bagus,” kata dia.
Sejak pertengahan 2025, ROH membuka ruang baru bernama b side yang difokuskan pada praktik artistik eksperimental, dialogis, dan responsif terhadap konteks ruang. Berlokasi sekitar lima menit berjalan kaki dari galeri utama, b-side berada di kawasan Jalan Surabaya, Jakarta.
Berbeda dari galeri utama, b-side hadir dalam skala yang lebih kecil. Namanya merujuk pada jejak kawasan Jalan Surabaya yang dikenal sebagai pusat jual beli barang antik, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang alternatif dan pelengkap bagi program utama ROH.
Terbaru, b-side menghadirkan karya karya Immartyas dalam pameran bertajuk Keloid. Judul ini merujuk pada luka yang tumbuh menonjol dan sulit hilang. Susunan kain tipis yang bertumpuk mengingatkan pada luka yang diperban, upaya penyembuhan yang justru meninggalkan bekas permanen.
Ruang pamer yang intim justru menguatkan pengalaman melihat karya karya Immar. Dia mengeksplorasi media campuran seperti sutra, lilin, pigmen, kertas, dan polimer menjadi karya abstrak. Alih alih menggunakan kanvas, Immar memilih silk sutra dan organza sebagai medium utama.
Hasilnya adalah karya karya seperti Billiton 1933 (2026), Isle (2025), dan Phosphene (2025) yang dapat dilihat dari dua sisi, depan dan belakang. Proses pengerjaan karya pun dilakukan dari sisi belakang, yang oleh Immar dimaknai sebagai pengalaman melihat dari sisi negatif.
“Proses pembuatan karya ini memang dari belakang, jadi seperti benar benar bekerja dengan menerawang dalam gelap. Aku melihat itu sebagai pengalaman untuk menerawang apa yang sudah dikubur sama negara,” kata dia.
Pendekatan artistiknya juga menjauh dari praktik melukis konvensional. Immar tidak membangun bentuk berdasarkan rencana visual tertentu. Karya justru lahir dari air yang mengering, lem yang membeku, dan kain yang bereaksi secara alami, menjadikan material sebagai agen yang turut berbicara.
Meski tidak memiliki pengalaman langsung sebagai penyintas peristiwa 1965 atau 1998, Immar menegaskan posisinya sebagai warga yang hidup di tengah warisan peristiwa tersebut. “Menurutku mustahil peristiwa itu tidak mempengaruhi semua warga Indonesia,” kata dia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di atasnya sang penunggang tampak melebur. Hadir distorsif sosok tersebut terekam dalam pola figuratif sekaligus abstrak, seolah merefleksikan kehidupan yang tidak pernah benar benar stabil dan rapuh.
Lukisan berjudul Friends (2025) ini merupakan karya seniman Wei Jia dalam pameran bertajuk New Paintings di ROH Projects, Jakarta. Berlangsung hingga 22 Februari 2025, pameran ini menghadirkan karya terbaru seniman kontemporer Asia.
Baca juga: Memahami Ruang Hidup Suku Kajang di Pameran Ekskursi UI
Selain Wei Jia, New Paintings juga menampilkan karya karya Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, dan Tith Kanitha. Melalui eksplorasi dwimatra, para seniman mengolah kegelisahan yang serupa tentang tubuh yang meluruh, identitas yang goyah, serta realitas yang tidak lagi utuh dan mudah dipastikan.
Wei Jia merupakan seniman asal China yang berbasis di Chongqing dan mengajar di Departemen Seni Grafis Sichuan Fine Arts Institute. Sejak awal dekade 2000 an, dia mulai membawa medium cat akrilik dari praktik seni grafis ke dalam lukisan, membangun bahasa visual yang bertumpu pada gestur dan distorsi.
Keunikan dari karya Wei adalah caranya mengolah hakikat manusia dengan menyoroti tema singularitas dan universalitas. Refleksi ini hadir, salah satunya, dalam karya Embracing (Sun and Stars) yang kembali menghadirkan figur manusia dan kuda dalam bentuk terdistorsi.
Alih alih menampilkan figur secara representasional, Wei membiarkan tubuh tubuh itu larut dalam sapuan kuas yang ekspresif. Berdimensi 250 x 205 cm dan menggunakan medium akrilik di atas kanvas, karya ini menegaskan tubuh sebagai ruang tarik menarik antara kehadiran dan penghilangan.

Lukisan berjudul Friends (2025) karya seniman Wei Jia dalam pameran bertajuk New Paintings di ROH Projects, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Namun, distorsi visual tidak dimaksudkan untuk mengaburkan makna, melainkan membuka ruang tafsir atas tubuh yang terus berubah, tertekan, dan bernegosiasi dengan zamannya. Pendekatan visual yang berangkat dari tubuh juga tampak dalam karya karya Nadya Jiwa.
Bedanya, seniman jebolan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung ini mengelaborasi figur melalui sensibilitas pengetahuan dan pengalaman personal yang lebih dekat ke ranah spiritual. Walhasil, kesan yang muncul saat memandang karya karyanya terasa jelas sekaligus ganjil.
Tubuh atau figur yang dilusi oleh Nadya juga dihadirkan sebagai citra yang tidak sepenuhnya utuh, seolah membawa ingatan yang terputus putus dan sulit dirumuskan secara pasti. Ketegangan ini salah satunya tampak dalam karya Sirens (2025) dan Penyandaan I (2025).
Resonansi pameran ini juga terasa di kalangan pengunjung. Hanin, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, mengaku mengetahui ROH Project dari media sosial. Dia menikmati pengalaman melihat karya secara langsung. Kesan utamanya adalah rasa kagum terhadap kekuatan visual yang dihadirkan.
Sementara itu, Afrilla yang baru pertama kali berkunjung ke ROH Project menilai kekuatan visual sebagai daya tarik utama. Dia paling tertarik pada lukisan kuda dengan warna warna mencolok yang menurutnya sangat fotogenik. “Yang paling sering difoto itu yang kuda, karena warnanya colorful banget, visualnya bagus,” kata dia.
Ruang Baru
Sejak pertengahan 2025, ROH membuka ruang baru bernama b side yang difokuskan pada praktik artistik eksperimental, dialogis, dan responsif terhadap konteks ruang. Berlokasi sekitar lima menit berjalan kaki dari galeri utama, b-side berada di kawasan Jalan Surabaya, Jakarta.Berbeda dari galeri utama, b-side hadir dalam skala yang lebih kecil. Namanya merujuk pada jejak kawasan Jalan Surabaya yang dikenal sebagai pusat jual beli barang antik, sekaligus menegaskan posisinya sebagai ruang alternatif dan pelengkap bagi program utama ROH.
Terbaru, b-side menghadirkan karya karya Immartyas dalam pameran bertajuk Keloid. Judul ini merujuk pada luka yang tumbuh menonjol dan sulit hilang. Susunan kain tipis yang bertumpuk mengingatkan pada luka yang diperban, upaya penyembuhan yang justru meninggalkan bekas permanen.
Ruang pamer yang intim justru menguatkan pengalaman melihat karya karya Immar. Dia mengeksplorasi media campuran seperti sutra, lilin, pigmen, kertas, dan polimer menjadi karya abstrak. Alih alih menggunakan kanvas, Immar memilih silk sutra dan organza sebagai medium utama.
Hasilnya adalah karya karya seperti Billiton 1933 (2026), Isle (2025), dan Phosphene (2025) yang dapat dilihat dari dua sisi, depan dan belakang. Proses pengerjaan karya pun dilakukan dari sisi belakang, yang oleh Immar dimaknai sebagai pengalaman melihat dari sisi negatif.
“Proses pembuatan karya ini memang dari belakang, jadi seperti benar benar bekerja dengan menerawang dalam gelap. Aku melihat itu sebagai pengalaman untuk menerawang apa yang sudah dikubur sama negara,” kata dia.
Pendekatan artistiknya juga menjauh dari praktik melukis konvensional. Immar tidak membangun bentuk berdasarkan rencana visual tertentu. Karya justru lahir dari air yang mengering, lem yang membeku, dan kain yang bereaksi secara alami, menjadikan material sebagai agen yang turut berbicara.
Meski tidak memiliki pengalaman langsung sebagai penyintas peristiwa 1965 atau 1998, Immar menegaskan posisinya sebagai warga yang hidup di tengah warisan peristiwa tersebut. “Menurutku mustahil peristiwa itu tidak mempengaruhi semua warga Indonesia,” kata dia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.