Pengunjung melihat salah satu maket rumah adat suku Kajang, di wilayah Desa Tana Toa, Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam pameran Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia, di Galeri Emiria Soenasa, TIM, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Memahami Ruang Hidup Suku Kajang di Pameran Ekskursi UI

27 January 2026   |   20:17 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Deretan maket rumah panggung itu hadir sederhana. Beratap rumbia dengan lantai papan kayu, rumah ini nyaris tanpa ornamen. Namun ada yang menarik di sana. Pada bagian atas maket tertulis: Bola na Mattang, yang berarti rumah Pak Mattang.

Maket ini merupakan replika rumah Pak Mattang, di Dusun Balagana, satu dari sembilan dusun di wilayah Desa Tana Toa, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Maket ditampilkan dalam pameran Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia, di Galeri Emiria Soenassa, TIM, Jakarta.

Baca juga: Pameran Hoarse Horse & Undangan Masuk ke Dunia yang Tak Jinak

Ekskursi Arsitektur UI merupakan kegiatan tahunan Departemen Arsitektur Universitas Indonesia sejak 1965. Pada ajang ke-60 kali ini, mereka mengangkat tajuk Anjaga Ahere, Mengantara di Tana, yang secara harfiah berarti menjaga akhirat antara tanah.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menampilkan arsitektur dari Suku Dayak Iban, kali ini Ekskursi Arsitektur UI 2025 memang sengaja menampilkan arsitektur vernakular masyarakat Suku Kajang, di Tanah Toa yang terbagi antara Kajang Luar dan Kajang Dalam.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan tidak hanya tentang Toraja. Ada arsitektur Kajang yang sederhana secara bentuk, tetapi kaya sistem dan nilai,” ujar Ketua Pelaksana Ekskursi UI 2025, Maira Aisya Pananto.

Keunikan Tanah Toa terletak pada keberadaan Kajang Dalam, wilayah yang menolak modernisasi dan teknologi. Di area ini, warga tidak diperbolehkan menggunakan alas kaki, wajib berpakaian hitam, serta melarang dokumentasi digital.

Larangan tersebut berangkat dari Pasang Ri Kajang, ajaran leluhur yang menekankan kesederhanaan, kesetaraan, dan kedekatan manusia dengan tanah sebagai Ibu Pertiwi. Uniknya, prinsip ini tidak diturunkan dalam bentuk tulisan, tapi secara lisan.

Sebaliknya, Kajang Luar memperlihatkan perjumpaan dengan dunia modern. Material baru mulai masuk, barung barung atau ruang tambahan kerap dijadikan permanen, dan teknologi perlahan diterima, termasuk adanya fasilitas seperti puskesmas, sekolah, dan pasar.
 

ahh

Maket rumah adat suku Kajang. (Sumber foto: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
 

Konsep transisi inilah yang diolah menjadi benang merah pameran. Pengunjung diajak bergerak dari representasi Kajang Luar menuju Kajang Dalam, mengikuti gradasi modernisasi yang terjadi antardusun, termasuk melepas sepatu saat masuk ke wilayah Kajang Dalam.

Pendekatan ini tak ayal menempatkan pameran bukan sekadar ruang display, melainkan simulasi pengalaman memasuki wilayah adat, lengkap dengan perubahan material, struktur, dan tata ruang dengan sekat pembatas bertuliskan papan nama antardusun satu dengan yang lain.

Rumah Kajang umumnya berbentuk panggung dengan konstruksi kayu bitti (Vitex cofassus) yang dapat dibongkar pasang. Seluruh elemen, dari kolom hingga dinding, disusun agar mudah diubah sesuai kebutuhan. Salah satunya dengan barung barung, struktur temporer yang dipasang saat ada hajatan, kematian, atau kebutuhan ruang tambahan.

Menurut Maira, sistem ini menunjukkan bagaimana ruang tidak bersifat kaku, melainkan tumbuh bersama komunitas. Di Kajang Dalam, sifat temporer tersebut juga dijaga ketat oleh adat. Setiap seksion menampilkan maket rumah, denah, detail konstruksi, yang memperlihatkan perubahan tersebut.

“Arsitektur Kajang tidak dibangun untuk bertahan selamanya, tetapi untuk mengikuti ritme hidup penghuninya,” imbuh Maira.


Dokumentasi Manual

Memulai residensi sejak Juli 2025, proses Ekskursi UI di Tanah Toa tidak berlangsung instan. Sebanyak 30 mahasiswa turba ke Tanah Kajang, dengan lima orang tim inti datang lebih dulu untuk mengurus perizinan adat, serta memperkenalkan maksud kedatangan mereka.

Salah satu yang menarik dari eksibisi ini adalah menampilkan dokumentasi manual dikarenakan adanya larangan dokumentasi digital di wilayah Kajang Dalam. Walhasil, kamera dan perekam suara ditinggalkan, diganti sketsa tangan, catatan lapangan, dan ingatan spasial.

Larangan dokumentasi digital di wilayah Kajang Dalam memaksa mahasiswa mengubah kebiasaan riset arsitektur. Arsitektur tidak lagi ditangkap sebagai gambar, melainkan sebagai pengalaman tubuh.

Namun menurut Maira, metode ini justru membuka cara pandang baru terhadap arsitektur sebagai ruang hidup, bukan objek visual semata. Proses tersebut juga menuntut ketelitian dan kesabaran yang jarang ditemui dalam riset berbasis teknologi.

Lebih dari satu bulan tinggal di Dusun Balagana, setiap harinya para mahasiswa ulang-alik menuju dusun-dusun lain, termasuk ke perbatasan Kajang Dalam. Di lapangan, mereka juga berbagi peran untuk mendokumentasikan berbagai aspek.

Ada yang fokus menggambar denah dan potongan rumah, ada yang merekam keseharian warga melalui tulisan, ada pula yang mengamati lanskap dan topografi kawasan. Semua data kemudian dikompilasi menjadi arsip kolektif.

 

Salah satu sketsa manual rumah adat suku Kajang Dalam, di wilayah Desa Tana Toa, Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam pameran Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia, di Galeri Emiria Soenasa, TIM, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

                                                                                                    

 

Salah satu sketsa manual rumah adat suku Kajang Dalam, di wilayah Desa Tana Toa, Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam pameran Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia, di Galeri Emiria Soenasa, TIM, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pendekatan ini membuat dokumentasi menjadi lebih personal. Setiap garis pada gambar membawa ingatan tentang percakapan dengan pemilik rumah, aktivitas harian, serta batas-batas yang ditetapkan adat yang kemudian diterjemahkan ulang ke dalam pameran.

Alih-alih menyajikan dokumentasi secara linear, tim kuratorial juga memilih menghadirkan narasi spasial yang berlapis. Pengunjung tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga jejak proses di baliknya.

Perbedaan pendekatan antara Kajang Luar dan Kajang Dalam terasa jelas. Jika di Kajang Luar arsip foto mendominasi, maka di Kajang Dalam sketsa dan interpretasi visual menjadi medium utama. Kontras ini sekaligus menegaskan batas adat yang dihormati sepanjang riset.

Film dokumenter yang ditampilkan juga mengikuti semangat serupa. Alih-alih eksploratif secara visual, film ini lebih banyak mengandalkan ritme suara, teks, dan potongan keseharian. Film seolah menjadi perpanjangan dari catatan lapangan, bukan sekadar rangkuman visual.

Selain buku utama, kehadiran zine juga menjadi penanda penting Ekskursi UI 2025. Zine dirancang sebagai medium ringan yang menggabungkan sketsa, foto, dan narasi singkat. Format ini memungkinkan publik mengakses riset arsitektur tanpa harus masuk ke bahasa akademik yang berat.

Di antara pengunjung, hadir pula Tedi, Keisha, dan Akbar, siswa kelas 8 SMP 1 Cikini. Mereka singgah secara spontan saat hendak berkunjung ke Perpustakaan PDS HB Jassin, Jakarta. Rasa penasaran menjadi alasan utama mereka masuk ke ruang pamer.

Proses pencatatan manual yang ditampilkan turut mencuri perhatian mereka. Sketsa tangan yang dibuat tanpa bantuan kamera atau penggaris dinilai sebagai tantangan tersendiri. “Enggak boleh pakai kamera, tapi tetap bisa gambar detail rumahnya, itu susah sih,” ujar Keisha.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Park Shin Hye Menyamar di Dunia Sekuritas dalam Undercover Miss Hong

BERIKUTNYA

Rekomendasi Mikrofon Nirkabel Buat Ngonten

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga