Setelah 54 Tahun, NASA Bakal Kirim Manusia ke Bulan pada 8 Februari 2026
02 February 2026 |
15:09 WIB
Lebih dari lima dekade sejak manusia terakhir kali menginjakkan kaki di Bulan, NASA kini bersiap memulai kembali penerbangan berawak ke satelit alami Bumi tersebut. Melalui misi Artemis II, empat astronaut dijadwalkan meluncur pada 8 Februari 2026.
Misi ini akan menjadi penerbangan manusia pertama ke Bulan sejak Apollo meluncur pada 17 pada Desember 1972.
Melansir pada informasi resmi NASA, Artemis II akan membawa Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, serta Spesialis Misi Christina Koch dari NASA. Mereka akan bergabung dengan Jeremy Hansen, Spesialis Misi dari Badan Antariksa Kanada.
Selama sekitar 10 hari, kru akan menjalani penerbangan mengelilingi Bulan untuk menguji sistem utama roket Space Launch System dan kapsul Orion dalam kondisi luar angkasa sesungguhnya.
Baca juga: NASA dan Google Kembangkan AI sebagai Asisten Medis Astronaut di Luar Angkasa
Uji coba ini memegang peran penting dalam program Artemis sebagai tahap krusial sebelum rencana pendaratan manusia di Bulan pada 2027. Seluruh sistem yang diuji akan menentukan kesiapan penerbangan berawak jangka panjang ke luar orbit Bumi.
Selain aspek teknis, Artemis II juga mencatatkan sejumlah tonggak sejarah: Victor Glover menjadi orang kulit berwarna pertama yang terbang menuju Bulan, Christina Koch menjadi perempuan pertama dalam penerbangan manusia ke Bulan, dan Jeremy Hansen menandai misi pertama yang membawa astronaut non-Amerika mengelilingi Bulan.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Artemis II berpotensi mencatat jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dalam penerbangan antariksa. Potensi tersebut bergantung pada waktu peluncuran dan lintasan yang dipilih selama misi berlangsung.
Jika skenario ini tercapai, kru Artemis II akan terbang lebih jauh dari Bumi dibandingkan rekor sebelumnya yang dipegang misi Apollo 13 pada 1970, dengan jarak maksimum sekitar 400.171 kilometer.
NASA sempat menunda jadwal peluncuran misi Artemis II dari 6 Februari menjadi 8 Februari 2026 akibat cuaca dingin ekstrem di Cape Canaveral, Florida. Pada 30 Januari 2026, NASA juga mengumumkan penjadwalan ulang latihan pengisian bahan bakar roket (wet dress rehearsal) ke 2 Februari 2026 guna memberikan waktu tambahan bagi tim teknis untuk mempersiapkan sistem peluncuran.
Apabila peluncuran pada 8 Februari tidak dapat dilakukan, NASA telah menyiapkan jendela peluncuran cadangan pada 10 dan 11 Februari.
Berbeda dengan misi Apollo yang secara langsung mendaratkan astronaut di permukaan Bulan, Artemis II dirancang sebagai misi penerbangan mengelilingi Bulan tanpa pendaratan. Misi ini akan menggunakan lintasan free-return trajectory, yakni jalur penerbangan yang memungkinkan wahana kembali ke Bumi secara alami dengan memanfaatkan gravitasi Bulan.
Dalam skenario tersebut, kru diperkirakan menempuh perjalanan sekitar tiga hari dari Bumi menuju Bulan. Setibanya di sekitar Bulan, para astronaut akan menghabiskan waktu sekitar satu hari untuk mengamati dan mendokumentasikan sisi jauh Bulan yang tidak dapat terlihat dari Bumi sebelum kapsul Orion kembali menuju planet asal.
Saat memasuki atmosfer Bumi, kapsul Orion diproyeksikan melaju dengan kecepatan sekitar 40.000 kilometer per jam. Kecepatan ini diklaim akan menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah penerbangan antariksa berawak dan menjadi uji krusial bagi sistem perlindungan panas Orion.
Setelah Apollo 17 mengakhiri era pendaratan manusia di Bulan pada 14 Desember 1972, tidak ada lagi misi berawak yang melampaui orbit rendah Bumi. Kini, NASA melalui program Artemis berupaya membuka kembali jalur eksplorasi ke ruang angkasa dalam.
Artemis II menandai langkah awal menuju tujuan jangka panjang NASA, yaitu membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan. Misi ini juga menjadi pijakan strategis untuk mempersiapkan ekspedisi manusia ke Mars di masa depan, sekaligus sebagai tanda dimulainya babak baru pada misi eksplorasi antariksa selanjutnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Misi ini akan menjadi penerbangan manusia pertama ke Bulan sejak Apollo meluncur pada 17 pada Desember 1972.
Melansir pada informasi resmi NASA, Artemis II akan membawa Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, serta Spesialis Misi Christina Koch dari NASA. Mereka akan bergabung dengan Jeremy Hansen, Spesialis Misi dari Badan Antariksa Kanada.
Selama sekitar 10 hari, kru akan menjalani penerbangan mengelilingi Bulan untuk menguji sistem utama roket Space Launch System dan kapsul Orion dalam kondisi luar angkasa sesungguhnya.
Baca juga: NASA dan Google Kembangkan AI sebagai Asisten Medis Astronaut di Luar Angkasa
Uji coba ini memegang peran penting dalam program Artemis sebagai tahap krusial sebelum rencana pendaratan manusia di Bulan pada 2027. Seluruh sistem yang diuji akan menentukan kesiapan penerbangan berawak jangka panjang ke luar orbit Bumi.
Selain aspek teknis, Artemis II juga mencatatkan sejumlah tonggak sejarah: Victor Glover menjadi orang kulit berwarna pertama yang terbang menuju Bulan, Christina Koch menjadi perempuan pertama dalam penerbangan manusia ke Bulan, dan Jeremy Hansen menandai misi pertama yang membawa astronaut non-Amerika mengelilingi Bulan.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Artemis II berpotensi mencatat jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dalam penerbangan antariksa. Potensi tersebut bergantung pada waktu peluncuran dan lintasan yang dipilih selama misi berlangsung.
Jika skenario ini tercapai, kru Artemis II akan terbang lebih jauh dari Bumi dibandingkan rekor sebelumnya yang dipegang misi Apollo 13 pada 1970, dengan jarak maksimum sekitar 400.171 kilometer.
NASA sempat menunda jadwal peluncuran misi Artemis II dari 6 Februari menjadi 8 Februari 2026 akibat cuaca dingin ekstrem di Cape Canaveral, Florida. Pada 30 Januari 2026, NASA juga mengumumkan penjadwalan ulang latihan pengisian bahan bakar roket (wet dress rehearsal) ke 2 Februari 2026 guna memberikan waktu tambahan bagi tim teknis untuk mempersiapkan sistem peluncuran.
Apabila peluncuran pada 8 Februari tidak dapat dilakukan, NASA telah menyiapkan jendela peluncuran cadangan pada 10 dan 11 Februari.
Berbeda dengan misi Apollo yang secara langsung mendaratkan astronaut di permukaan Bulan, Artemis II dirancang sebagai misi penerbangan mengelilingi Bulan tanpa pendaratan. Misi ini akan menggunakan lintasan free-return trajectory, yakni jalur penerbangan yang memungkinkan wahana kembali ke Bumi secara alami dengan memanfaatkan gravitasi Bulan.
Dalam skenario tersebut, kru diperkirakan menempuh perjalanan sekitar tiga hari dari Bumi menuju Bulan. Setibanya di sekitar Bulan, para astronaut akan menghabiskan waktu sekitar satu hari untuk mengamati dan mendokumentasikan sisi jauh Bulan yang tidak dapat terlihat dari Bumi sebelum kapsul Orion kembali menuju planet asal.
Saat memasuki atmosfer Bumi, kapsul Orion diproyeksikan melaju dengan kecepatan sekitar 40.000 kilometer per jam. Kecepatan ini diklaim akan menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah penerbangan antariksa berawak dan menjadi uji krusial bagi sistem perlindungan panas Orion.
Setelah Apollo 17 mengakhiri era pendaratan manusia di Bulan pada 14 Desember 1972, tidak ada lagi misi berawak yang melampaui orbit rendah Bumi. Kini, NASA melalui program Artemis berupaya membuka kembali jalur eksplorasi ke ruang angkasa dalam.
Artemis II menandai langkah awal menuju tujuan jangka panjang NASA, yaitu membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan. Misi ini juga menjadi pijakan strategis untuk mempersiapkan ekspedisi manusia ke Mars di masa depan, sekaligus sebagai tanda dimulainya babak baru pada misi eksplorasi antariksa selanjutnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.