Langkah Kecil di Industri Besar, Perjalanan Brand Dystert Darlig di Bisnis Pakaian
28 January 2026 |
15:00 WIB
Di Indonesia, industri pakaian berkembang begitu pesat dengan kehadiran berbagai brand lokal yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Sebagian telah tumbuh menjadi nama besar, sementara sebagian lainnya masih berjuang mencari bentuk dan arah usahanya.
Di balik dominasi brand-brand yang sudah mapan, tentunya banyak brand yang masih coba dirintis, agar banyak dikenal orang, bahkan menjadi sebuah brand besar. Seperti Ilhamsyah (22), pendiri brand Dystert Darlig, yang merintis usahanya dari kondisi serba terbatas.
Baca juga: Libertas Bookstore, Menjaga Buku Tetap Hidup di Generasi Muda
Tahun 2022 menjadi saksi bisu awal perjalanan Ilham di industri ini dengan nama Dystert. Bersama dua rekannya, Uya dan Uwil, Ilham membangun brand ini dengan modal dan desain yang seadanya.
Saat pertama mencoba usaha ini, mereka hanya memproduksi dan menjual sekitar lima artikel di tahap awal. Namun, setelah seluruh produk terjual, Dystert justru kehilangan arah. Ketiadaan konsep yang matang membuat mereka memutuskan berhenti sejenak.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 2024, Dystert kembali dihidupkan dengan semangat baru. Nama Dystert Darlig pun lahir sebagai penanda era baru. Kali ini, Ilham menggandeng Rival sebagai rekan baru, sementara Uwil memilih keluar karena alasan tertentu. Dengan formasi yang berbeda, Dystert Darlig kembali berproduksi dan terus berjalan hingga sekarang.
Bagi Ilham, Dystert bukan sekadar brand pakaian. Latar belakang hobinya di bidang desain grafis menjadi alasan utama ia terjun ke dunia fashion. Ia melihat desain bukan hanya soal visual, tetapi juga medium untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman hidup.
“Desain biasanya lahir dari apa yang saya rasakan dalam hidup, atau hal-hal yang banyak orang alami,” ujarnya. Musik dan film kerap menjadi pemantik ide sebelum ia menuangkannya ke dalam visual yang kemudian diwujudkan menjadi artikel pakaian.
Setelah desain selesai, proses produksi dijalani dengan penuh perhatian. Mulai dari pemilihan bahan, teknik sablon, hingga pengemasan dan pengiriman, semuanya diupayakan agar konsumen mendapatkan kualitas terbaik. Meski demikian, Ilham mengaku tidak terlalu memikirkan soal keunikan atau nilai pembeda dibanding brand lain. Baginya, penilaian itu sepenuhnya diserahkan kepada publik.
Dalam hal target, Dystert Darlig tidak memasang ambisi berlebihan. Mereka memilih menjalani proses apa adanya, meski tetap berharap suatu hari bisa tumbuh menjadi brand yang lebih besar. Menariknya, Ilham juga mengaku jarang merasa ragu atau takut dalam menjalani usaha ini. “Semua sudah ada jalannya,” jelas Ilham.
Untuk pemasaran, Dystert Darlig mengandalkan jaringan pertemanan dan media sosial. Hingga saat ini, Ilham bersyukur karena belum menemui kendala berarti dalam menjalankan brand tersebut.
Sistem penjualan yang digunakan masih berbasis pre-order, dengan harga sekitar Rp150.000 per potong. Dari sistem ini, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp1.000.000 hingga Rp5.000.000, tergantung jumlah produksi.
Ilham berharap Dystert Darlig dapat terus berkembang tanpa hambatan berarti. Ia ingin brand ini tetap berjalan lancar dan mampu bertahan di tengah dinamika industri fashion.
Menutup perbincangan, Ilham menyampaikan pesan sederhana bagi siapa pun yang ingin memulai usaha kreatif. “Jangan ragu. Selama sudah ada niat, tinggal dijalani. Jangan takut memulai apa yang kamu suka. Kalau itu memang passion-mu, hidupi dan jangan menyerah,” tutupnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di balik dominasi brand-brand yang sudah mapan, tentunya banyak brand yang masih coba dirintis, agar banyak dikenal orang, bahkan menjadi sebuah brand besar. Seperti Ilhamsyah (22), pendiri brand Dystert Darlig, yang merintis usahanya dari kondisi serba terbatas.
Baca juga: Libertas Bookstore, Menjaga Buku Tetap Hidup di Generasi Muda
Tahun 2022 menjadi saksi bisu awal perjalanan Ilham di industri ini dengan nama Dystert. Bersama dua rekannya, Uya dan Uwil, Ilham membangun brand ini dengan modal dan desain yang seadanya.
Saat pertama mencoba usaha ini, mereka hanya memproduksi dan menjual sekitar lima artikel di tahap awal. Namun, setelah seluruh produk terjual, Dystert justru kehilangan arah. Ketiadaan konsep yang matang membuat mereka memutuskan berhenti sejenak.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 2024, Dystert kembali dihidupkan dengan semangat baru. Nama Dystert Darlig pun lahir sebagai penanda era baru. Kali ini, Ilham menggandeng Rival sebagai rekan baru, sementara Uwil memilih keluar karena alasan tertentu. Dengan formasi yang berbeda, Dystert Darlig kembali berproduksi dan terus berjalan hingga sekarang.
Bagi Ilham, Dystert bukan sekadar brand pakaian. Latar belakang hobinya di bidang desain grafis menjadi alasan utama ia terjun ke dunia fashion. Ia melihat desain bukan hanya soal visual, tetapi juga medium untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman hidup.
“Desain biasanya lahir dari apa yang saya rasakan dalam hidup, atau hal-hal yang banyak orang alami,” ujarnya. Musik dan film kerap menjadi pemantik ide sebelum ia menuangkannya ke dalam visual yang kemudian diwujudkan menjadi artikel pakaian.
Setelah desain selesai, proses produksi dijalani dengan penuh perhatian. Mulai dari pemilihan bahan, teknik sablon, hingga pengemasan dan pengiriman, semuanya diupayakan agar konsumen mendapatkan kualitas terbaik. Meski demikian, Ilham mengaku tidak terlalu memikirkan soal keunikan atau nilai pembeda dibanding brand lain. Baginya, penilaian itu sepenuhnya diserahkan kepada publik.

Beberapa Produk Dystert Darlig (Sumber foto: Ilhamsyah, Owner Dystert Darlig)
Dalam hal target, Dystert Darlig tidak memasang ambisi berlebihan. Mereka memilih menjalani proses apa adanya, meski tetap berharap suatu hari bisa tumbuh menjadi brand yang lebih besar. Menariknya, Ilham juga mengaku jarang merasa ragu atau takut dalam menjalani usaha ini. “Semua sudah ada jalannya,” jelas Ilham.
Untuk pemasaran, Dystert Darlig mengandalkan jaringan pertemanan dan media sosial. Hingga saat ini, Ilham bersyukur karena belum menemui kendala berarti dalam menjalankan brand tersebut.
Sistem penjualan yang digunakan masih berbasis pre-order, dengan harga sekitar Rp150.000 per potong. Dari sistem ini, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp1.000.000 hingga Rp5.000.000, tergantung jumlah produksi.
Ilham berharap Dystert Darlig dapat terus berkembang tanpa hambatan berarti. Ia ingin brand ini tetap berjalan lancar dan mampu bertahan di tengah dinamika industri fashion.
Menutup perbincangan, Ilham menyampaikan pesan sederhana bagi siapa pun yang ingin memulai usaha kreatif. “Jangan ragu. Selama sudah ada niat, tinggal dijalani. Jangan takut memulai apa yang kamu suka. Kalau itu memang passion-mu, hidupi dan jangan menyerah,” tutupnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.