Beberapa buku yang dijual Libertas Bookstore (Sumber foto: Fahrullah, Pendiri Libertas Bookstore)

Libertas Bookstore, Menjaga Buku Tetap Hidup di Generasi Muda

24 January 2026   |   12:30 WIB
Image
Alwi Rahman Kusnandar Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Di saat menurunnya minat baca dan cepatnya arus digital, Fahrullah seorang pemilik usaha toko buku bernama Libertas Bookstore memilih bertahan dengan buku. Ia mendirikan usaha tersebut sebagai ruang distribusi bacaan sekaligus upaya menjaga buku tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Fahrullah mengaku keberaniannya membuka usaha buku karena baginya buku sudah menjadi teman setia. Selain itu, daripada buku yang telah ia baca menumpuk tidak terpakai, lebih baik buku tersebut menjadi milik orang lain.

“Buku sudah terlanjur jadi rumah tempat pulang ketika dunia terasa bising dan tidak ramah. Daripada buku tersebut hanya menumpuk di kosan, saya memilih membiarkannya hidup, bertemu orang lain, dan mungkin menyelamatkan satu-dua kepala dari kelelahan yang sama seperti saya,” imbuhnya.

Baca juga: Dari Hobi Menjadi Usaha, Kisah Akar Paragraf Sebagai Toko Buku Independen

Fahrullah mengatakan bahwa awalnya buku yang menumpuk bukan untuk dijual tetapi pada tahun 2017 ia membuka lapak baca gratis di jalanan. Lapak tersebut bernama “Perpustakaan Jalanan Baca Kami” yang masih aktif hingga sekarang.

“Lapak ini hanya sekedar jeda dari kerja dan kejenuhan hidup. Dari situ saya sadar bahwa buku selalu menemukan pembacanya sendiri,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, niat menjual buku akhirnya datang yang hanya sebagai cara agar lapak tersebut tetap bisa bernapas. Kemudian Fahrullah mendirikan toko buku resmi dan sebagai reseller penerbit pada 6 Juni 2024.
 

Lebih lanjut Fahrullah menyebutkan buku yang ia tawarkan buku-buku yang mengajak berpikir dan merasakan seperti sastra, filsafat, sejarah, politik, agama dan bacaan kritis. Buku-buku yang menurut Fahrullah buku yang tidak membuat nyaman, tapi jujur dan relevan dengan kegelisahan zaman.

Libertas menyalurkan buku-buku dari berbagai penerbit yang memiliki sistem berbeda dalam penjualannya. Ia mengaku mendapat keuntungan 10-35 persen. Selebihnya adalah kerja manual dengan memilih buku, menyusunnya, dan mengirimnya, serta sering kali menjelaskan alasan buku itu penting.

Fahrullah menyebutkan target pembelinya bisa siapa saja, seperti mahasiswa, buruh, aktivis, penulis, atau orang yang sekedar ingin diam sejenak dari dunia yang terlalu cepat. “Targetnya siapapun yang masih percata bahwa membaca itu bentuk perlawanan kecil,” tambahnya.

Secara finansial, Libertas Books mendapat keuntungan atau omzet sekitar Rp. 1.200.000 per tahun, atau rata-rata Rp. 100.000 per bulan. Menurut Fahrullah, angkat tersebut mungkin kecil, tetapi cukup untuk membayar keyakinan bahwa buku masih layak diperjuangkan.

Permodalan usaha ini pun turut didukung oleh Koperasi Daya Karya Mandiri yang berdomisili di Purwakarta. Dengan simpanan wajib sebesar Rp20.000 per bulan, setiap anggota diwajibkan menjalankan proyek tahunan seperti penerbitan buku dll. Untuk Libertas Bookstore sendiri, proyek tersebut diwujudkan dalam upaya menambah reseller baru mengingat adanya ketentuan minimal pemesanan dari penerbit.

Perjalanan Libertas Bookstore tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan ruang dan modal, serta kondisi pasar cepat hingga kenyataan tidak semua orang mau membeli buku menjadi hambatan yang dihadapi. Di sisi lain, terkadang ia merasakan kesepian saat kawan-kawannya memiliki prioritas hidup masing-masing, Meskipun begitu, menurutnya buku tetap tinggal untuk menemaninya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Fahrullah berharap para pelaku usaha buku tidak sekedar mengejar algoritma dan tren sesaat. Menurutnya buku bukan konten yang cepat habis. “Semoga kita tetap menjaga buku sebagai ruang berpikir, bukan hanya barang dagangan. Digital boleh maju, tapi kedalaman jangan ditinggal,” harapnya.

SEBELUMNYA

The Night Agent Musim Ketiga Hadirkan Konflik Lebih Kompleks

BERIKUTNYA

ChatGPT Kini Mampu Memprediksi Usia Pengguna, Begini Cara Kerjanya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga