Pengunjung memotret salah satu karya dalam pameran Hoarse Horse di ISA Art Gallery, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.ic/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pameran Hoarse Horse & Undangan Masuk ke Dunia yang Tak Jinak

24 January 2026   |   16:46 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah lukisan bergambar kuda meringkik tampil menohok di ISA Art Gallery. Mulut-mulutnya terbuka lebar dengan lidah terjulur dan gigi terekspos. Ekspresi yang muncul sulit ditebak antara tawa, teriakan, atau dengusan liar. Di bidang atas kanvas terdapat tulisan tangan berbunyi “JOIN THE CLUB!” yang melayang seperti ajakan ambigu.

Kuda-kuda tersebut tidak tampil jinak, melainkan gelisah dan nyaris karikatural. Mata mereka melirik dan rahangnya terdistorsi. Hoarse Horse adalah judul lukisan tersebut. Dibuat oleh Ida Lawrence, karya ini seolah mengajak pengunjung masuk ke sebuah klub dunia kebinatangan manusia. Dunia setengah hewan dan setengah metafora yang menolak untuk ditafsirkan secara tunggal.

“Saya membuat sketsa lukisan tersebut saat saya bekerja di camp rekreasi musim panas untuk anak-anak di Berlin. Saat itu saya menyebut grup saya The Hoarse Horse dan anak-anak tersebut tidak tahu apa yang saya bicarakan,” katanya.

Baca juga: Pameran Spiritualitas Urban: Menemukan Hening di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Menggantung pada rantai, lukisan tersebut hanyalah salah satu karya dalam pameran tunggal Ida Lawrence bertajuk Hoarse Horse. Pameran ini berlangsung hingga 7 Februari 2026. Melalui pameran ini, Lawrence mengeksplorasi humor, kesalahan bahasa, dan absurditas hidup sehari-hari.
 

ahah

 Salah satu karya dalam pameran Hoarse Horse di ISA Art Gallery, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.ic/Prasetyo Agung Ginanjar)


Ida Lawrence merupakan seniman Indonesia Australia yang saat ini tinggal di Berlin, Jerman. Dia dikenal melalui karya-karyanya yang memadukan narasi, teks, dan gambar. Pengalaman personal serta pengamatan sosial kultural menjadi sumber utama dalam praktiknya.

Lawrence sempat menempuh pendidikan seni di National Art School dan Sydney College of the Arts di Australia. Dia juga belajar tari tradisional Indonesia di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Karya-karyanya telah dipamerkan di Berlin, Australia, Indonesia, dan Singapura.

Dalam Hoarse Horse, Lawrence mengeksplorasi salah baca dan salah dengar bukan sebagai kecelakaan. Praktik ini justru digunakan sebagai strategi untuk melonggarkan makna. Humor kemudian merembes lewat celah bahasa dan gambar sehingga memunculkan ambiguitas baru.

Dalam lukisan berjudul Karla’s Fox Story, misalnya, Lawrence menghadirkan kisah tentang sepatu temannya yang hilang dicuri rubah. Namun karya ini tidak disajikan seperti lukisan pada umumnya. Lawrence menambahkan kata-kata dan teka-teki dalam susunan yang mengarahkan pembacaan.

Karya tersebut terdiri dari tiga bingkai atau triptych kanvas berukuran 40 x 30 sentimeter. Di dalamnya tertulis pertanyaan sekaligus jawaban dari Karla mengenai peristiwa kehilangan sepatu tersebut. Pada kanvas ketiga yang ditempatkan di balik dinding, terlihat lukisan seekor rubah yang mengenakan sepatu milik temannya.


Bahasa yang Goyah

Absurditas karya Lawrence juga tampak dalam lukisan berjudul Artist Statement tahun 2025. Karya ini terdiri dari dua kanvas atau diptych lukisan akrilik di atas polycotton berukuran 155 x 240 sentimeter. Bentuknya menyerupai catatan ingatan yang tumpah dengan tulisan tangan berlapis dan koreksi yang tidak selesai.

Alih-alih menyajikan pernyataan artistik yang rapi, Lawrence justru mengacaukan fungsi pernyataan itu sendiri. Penggunaan bahasa Inggris yang bercampur dengan konteks lokal terasa menonjol. Pendekatan ini dapat dibaca sebagai penanda posisi subjek yang berada di antara.

Seperti banyak lukisannya, karya ini menempatkan teks bukan sebagai penjelas. Tulisan, kata, atau humor yang digoreskan sang seniman justru menjadi medan tafsir tempat kata berubah menjadi gambar. Artinya, dalam senarai karya Lawrence cerita hadir sebagai bentuk visual.

Dalam konteks ini, Lawrence tidak sekadar menawarkan permainan visual atau humor. Yang dia dorong adalah cara membaca yang goyah dan tidak stabil. Pengunjung diajak menyadari bahwa makna tidak pernah benar-benar utuh, melainkan lahir dari kesalahan, selip lidah, dan kegagalan memahami.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by IndoArtNow (@indoartnow)



Pameran ini juga disertai sebuah film karya Monika Proba. “Kami pertama kali bertemu di Indonesia pada 2011 saat sama-sama kuliah di ISI Yogyakarta. Saat itu domba sering terlihat merumput bebas di area kampus,” imbuhnya.

Dalam video berdurasi sembilan menit tersebut, Lawrence juga melontarkan refleksi filosofis. Salah satunya muncul ketika dia mendapat pertanyaan sederhana tentang hewan favoritnya. Jawaban Lawrence adalah manusia karena ketertarikannya pada fauna justru membantunya memahami perilaku manusia.

Yasmine (20 tahun) menjadi salah satu pengunjung yang menikmati pameran ini. Mahasiswa asal Depok, Jawa Barat itu mengaku tidak memahami seluruh karya secara utuh. Namun pengalaman tersebut justru memantik pertanyaan baru dalam memaknai realitas.

“Sejauh ini saya bisa memahami beberapa karyanya. Yang paling ngena karya Karla’s Fox Story. Meski ada juga karya yang tidak bisa saya pahami karena penuh simbolisme dan tidak ada penjelasannya,” katanya.

Dalam konteks Hoarse Horse, ketidakpahaman itu tidak hadir sebagai kegagalan. Pameran ini justru menjadi ruang kerja yang dibuka Ida Lawrence, tempat bahasa, gambar, dan humor dibiarkan salah dengar, tersendat, dan terus bergerak.

SEBELUMNYA

Pembalap Max Verstappen Sabet Driver of the Year di Autosport Awards

BERIKUTNYA

Pendalaman Karakter Pemain Kugi & Keenan di Musikal Perahu Kertas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga