Senarai karya dalam pameran Spiritualitas Urban: Mencari Hening dalam Gemuruh di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pameran Spiritualitas Urban: Menemukan Hening di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

07 January 2026   |   08:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah denyut kota yang nyaris tak pernah berhenti, kebutuhan untuk melambat justru semakin terasa. Ritme kehidupan urban yang serba cepat, penuh tuntutan, dan minim ruang hening mendorong banyak orang mencari cara untuk menata ulang makna hidup.

Bagi sebagian warga kota, spiritualitas hadir sebagai ruang jeda—tempat untuk bernapas, merenung, dan kembali terhubung dengan diri sendiri di tengah riuh realitas sehari-hari.

Baca juga: Merayakan Seni Tanpa Label di Pameran Inklusif

Pencarian akan keheningan tersebut diwujudkan melalui pameran Spiritualitas Urban: Mencari Hening dalam Gemuruh yang digelar di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta. Dikuratori oleh Efix Mulyadi dan Frans Sartono, pameran ini menghadirkan beragam karya yang merefleksikan relasi antara spiritualitas dan kehidupan urban, serta berlangsung hingga 30 Januari 2026.

Begitu memasuki galeri, pengunjung langsung disambut The Life (2024) karya Gunawan Bonaventura. Karya berdimensi 210 x 122 sentimeter, ini menghadirkan imaji parade kesenian tradisi yang merekam pertemuan antara gemuruh kota dan kerinduan akan ruang hening.

Sepintas tampak sosok Penthul Tembem, karakter dari seni tradisi Madiun, Jawa Timur. Ada pula seorang anak kecil yang menyeret mobil-mobilan dari kulit jeruk, menengadah pada figur surreal, dengan rombongan penari dan abdi berkuda berbaris di belakangnya.

Dibuat dengan teknik hardboard cut di atas kanvas, Gunawan menyebut karyanya sebagai “sinopsis pertunjukan” yang menampilkan banyak cerita sekaligus. Lukisan itu menjadi panggung besar penuh dinamika, ada yang datang, pergi, lahir, dan mati.

“Warna kecokelatan dalam karya ini metafora kedekatan saya dengan tanah, tempat saya sering berbincang dengan kelas pekerja dan rakyat akar rumput,” ujarnya.
 

Karya

Lukisan The Life (2024) karya Gunawan Bonaventura, dalam pameran Spiritualitas Urban: Mencari Hening dalam Gemuruh di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Bergeser ke sisi lain, pengunjung bertemu karya Subandi Giyanto, berjudul Kemakmuran Adalah Impian (2025). Sekilas menampilkan seekor babi, tetapi keunikan muncul dari bagaimana seniman tersebut mengisi bidang tubuh hewan itu dengan motif karakter wayang.

Subandi memang piawai menggambar wayang. Salah satu contohnya adalah Kudaku Berwuku Kuranti (2021), yang menampilkan figur kuda dengan efek transparan dan wayang warna-warni di dalam maupun di luar tubuhnya. Hadir pula makhluk-makhluk mitologis dari tradisi Nusantara.

Kuda, papar Subandi, merupakan personifikasi dari pribadi yang kuat. Dalam budaya Jawa, ia menjadi simbol kekayaan dan pangkat tinggi. Terkait teknik melukis, Subandi menyebut pendekatannya sebagai teknik mencadari—memberi selaput tipis semacam cadar di atas kanvas.

Selain lukisan di atas kanvas, pameran ini menampilkan deretan lukisan kaca koleksi Bentara Budaya. Visualnya beragam, mulai dari kisah pewayangan, mitologi, hingga tema spiritualitas yang terinspirasi dari kitab suci, karya para maestro lukis kaca Indonesia.

Sebagaimana karya lawasan, kisah wayang dalam bagian ini mendominasi. Salah satunya Karno Tanding (1986) karya Rastika, yang menggambarkan pertarungan Karna melawan Arjuna dalam komposisi simetris.

Ada pula lukisan Buroq, makhluk tunggangan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mi'raj. Dalam karya Hasri (1986), anatomi makhluk mitologis itu disusun dengan kaligrafi Arab sebagai isen dekoratif.

Kurator Efix Mulyadi menegaskan bahwa pameran ini tidak berangkat dari konsep spiritualitas yang kaku atau dogmatis. Para seniman mengolah tema itu secara personal, sekaligus membuka ruang bagi penonton untuk merasakan getaran batin mereka sendiri.

Efix melihat gejala masyarakat urban yang kian mencari dimensi batiniah di tengah tekanan hidup modern. Hal tersebut tercermin dari karya-karya yang ditampilkan, termasuk Sepayung Berdua (tanpa tahun) karya Kusdono, yang merefleksikan kehidupan masyarakat kota.
 

Karya

Lukisan kaca Sepayung Berdua (tanpa tahun) karya Kusdono, (Kiri) dalam pameran Spiritualitas Urban: Mencari Hening dalam Gemuruh di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Senada, Frans Sartono menyebut bagaimana seniman hari ini menghadirkan simbol modernitas—misalnya mobil Bugatti—namun tetap menempatkan jejak spiritual lewat goresan, warna, dan energi komposisi, seperti terlihat pada karya Subandi Giyanto.

Frans juga mengaitkan mitos buto ijo dengan kritik sosial dalam lagu Tul Jaenak karya Koes Plus, yang memetaforakan keserakahan, kekuasaan, dan korupsi. Di pameran ini, refleksi tersebut muncul dalam Buto Pink karya Barlin Srikaton.

“Buto ijo itu, dari wawancara saya dengan Yok Koeswoyo, selalu ada. Hanya wujudnya berganti, bukan lagi raksasa, melainkan korupsi dan sebagainya,” ujarnya.

Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat, yang membuka pameran, menekankan pentingnya ruang seperti ini dalam perkembangan masyarakat urban. “Kota besar sering merampas ruang refleksi, dan seni memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri,” katanya.

Komarudin menambahkan bahwa arus teknologi dan informasi membuat manusia modern kerap terjebak dalam kecepatan yang meniadakan kontemplasi. Seni, imbuhnya, membantu memulihkan dimensi batin yang tersisih dari kehidupan digital.

“Lewat pameran ini, kita diajak melakukan inner journey, perjalanan ke dalam. Kalau perjalanan keluar bisa diukur jaraknya, inner journey membawa kita pada pencarian yang lebih dalam, lebih luas, lebih tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Tarif Museum Nasional Naik, Pengelola Janji Layanan Setara Museum Dunia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Tarif Museum Nasional Naik, Pengelola Janji Layanan Setara Museum Dunia

BERIKUTNYA

Mengenal Diet Karnivora yang Viral dan Kontroversial

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga