Senarai karya Huỳnh Công Nhớ dalam pameran Interstice: A Space Between Two Worlds di RUCI Art Space, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Memaknai Kabut Pecut Sumantri & Cahaya Huynh Cong Nho di RUCI Art Space

14 January 2026   |   12:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Dua kanvas besar itu menampilkan figur yang seolah larut dalam kabut warna yang menyelimuti ruang dan perasaan. Keduanya menghadirkan bayangan samar sosok yang meringkuk, terbungkus gradasi lembut yang membuat karya ini terasa rapuh sekaligus intim.

Tak tampak batas tegas di antara kedua figur tersebut. Segalanya menyatu dalam lapisan blur, menghadirkan kesan seperti fragmen ingatan—memori yang belum sepenuhnya rela dilepaskan oleh sang perupa.

Itulah lukisan Dekap dan Deep Talk (2025) karya Bagus Pecut Sumantri, yang dipamerkan di RUCI Art Space, Jakarta, dalam pameran Interstice: A Space Between Two Worlds hingga 27 Januari 2026.

Baca juga: Menafsir Icarus di Neo Gallery: Antara Ambisi dan Kerentanan

Interstice merupakan pameran duo dari Pecut Sumantri dan Huỳnh Công Nhớ. Didukung RUCI Art Space dan Galerie BAO, pameran ini mempertemukan dua pendekatan estetik yang tidak hanya berbeda, tetapi juga saling menantang dalam membaca pengalaman sehari-hari.

Sesuai tajuknya, pameran ini menjadi ruang antara yang tidak sepenuhnya nyaman. Karya-karya Pecut menghadirkan figur sebagai perasaan yang belum selesai, sengaja dibiarkan mengambang dalam keburaman, seolah menolak kepastian bentuk dan makna.
 

aga

Lukisan Dekap dan Deep Talk (2025) karya Bagus Pecut Sumantri (tengah dan kanan) dalam pameran Interstice: A Space Between Two Worlds. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Di lanskap visual yang berseberangan, karya-karya Huỳnh Công Nhớ justru menghadirkan sosok-sosok yang diterangi cahaya. Aura itu mengingatkan pada ikonografi kekudusan, tetapi sekaligus terasa ganjil karena hadir dalam situasi yang sepenuhnya profan.

Sejak langkah pertama, pengunjung diajak memasuki imaji dua seniman yang bergerak ke arah berlawanan. Lukisan bertema keseharian tampil bukan sebagai dokumentasi, melainkan fragmen yang sengaja dikaburkan atau diapropriasi agar dapat dipertanyakan kembali.

Pada karya-karya Pecut Sumantri, kabut visual menjadi bahasa utama. Namun blur di sini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan cara untuk menerjemahkan perjalanan batin dan kelelahan akan tuntutan pengakuan akan eksistensi manusia.

“Di fase proses berkesenian sekarang, saya memang lebih butuh ketenangan. Dari sinilah lukisan-lukisan yang saya buat akhirnya saya blurkan,” kata perupa berusia 41 tahun itu saat dihubungi Hypeabis.id.

Proses kreatif Pecut menjadi kunci untuk membaca kecenderungan tersebut. Dia memulai dari sketsa, mengolahnya ke bentuk realisme, lalu dengan sadar membiarkan gambar itu larut kembali dalam keburaman.

Tahapan ini dia maknai sebagai cermin perjalanan hidup. Sketsa, paparnya, menandai fase kanak-kanak ketika kesalahan masih bisa diperbaiki, sementara realisme menjadi metafora masa remaja yang sarat ego dan kebutuhan akan pengakuan.

Dari kegelisahan personal itulah Pecut kemudian menengok sejarah seni, bukan untuk meniru, tetapi untuk menguji kembali relevansinya. Refleksi ini tampak dalam karya Sunflower After Van Gogh (2025) yang mengapropriasi Tournesols karya Vincent van Gogh dari tahun 1888.

Menggunakan medium cat minyak di atas kanvas berukuran 110 x 90 sentimeter, karya ini memberi kehidupan baru pada citra lama dalam konteks kontemporer. Namun alih-alih memuliakan ikon klasik, Pecut justru menyamarkannya, untuk menyatakan bahwa sejarah seni pun tidak kebal dari keraguan.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by RUCI Art Space (@ruci.art)



Jika Pecut bekerja lewat kabut, Huỳnh Công Nhớ bergerak melalui cahaya. Dalam lukisan-lukisannya, sosok tanpa wajah kerap tampil berdoa di bawah lingkaran sinar (halo), bukan sebagai simbol kesucian, melainkan penanda momen ketika seseorang menyadari keberadaannya sendiri.

Mayoritas karya Huỳnh menampilkan figur anonim dengan gestur sehari-hari yang ditemani halo di sekitar kepala subjek. Salah satunya The Winter Prayers #03 (2024) yang mengapropriasi The Last Supper, lalu menggeser maknanya dari peristiwa religius menuju pengalaman personal yang jauh lebih sunyi.

Ada pula seri The Prayer (2025) yang menampilkan sekelompok orang sedang berdoa, berpikir, atau sekadar berbincang. Alih-alih memisahkan figur sebagai individu yang tersucikan, simbol halo justru mengikat mereka dalam kesadaran kolektif, yang seakan mengalami proses desakralisasi.

Di titik inilah Huỳnh tidak lagi sekadar menghadirkan spiritualitas, tetapi mengganggu maknanya. Sebab, yang sakral tidak selalu lahir dari ritual, melainkan dari kehadiran manusia yang sepenuhnya sadar akan realitas, betapapun banal dan rapuhnya.

Cara pandang ini barangkali berkaitan dengan latar belakangnya sebagai pembuat film. Huỳnh terbiasa berpikir melalui bingkai dan tindakan membingkai, sehingga setiap lukisan terasa seperti potongan adegan yang membekukan momen kesadaran di luar alur waktu biasa.

Kurator Linh Lê mengatakan, pameran ini memang bertujuan membuka ruang perenungan tentang iman, kepercayaan, dan kondisi manusia. Namun alih-alih menawarkan jawaban, karya-karya yang dipamerkan justru mengundang kegelisahan yang harus dihadapi masing-masing pengunjung.

“Datang dari sejarah, budaya, dan konteks sosial-politik berbeda, lukisan-lukisan mereka tetap membuka sebuah ruang bersama. Di ruang itu, kehidupan biasa beserta perjuangannya yang kerap terabaikan diberi tempat untuk hadir, bertahan, dan dipandang serius,” katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Film One Battle After Another Raih Empat Piala di Golden Globe 2026

BERIKUTNYA

Gaji Habis Terus? Buku Ini Bongkar Kebiasaan Finansial Anak Muda

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga