Ilustrasi lansia aktif. (Sumber foto: Unsplash/Hoi An and Da Nang Photographer)

Akvitas Sederhana yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia hingga 76 Persen

05 January 2026   |   16:00 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Menari lebih dari sekali seminggu dapat menurunkan risiko demensia hingga 76 persen dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah menari sama sekali. Dilansir dari VegOut, temuan ini berasal dari studi besar New England Journal of Medicine 2003, yang hingga kini dianggap berpengaruh soal aktivitas rekreasi dan kesehatan kognitif lansia.

Studi tersebut memantau 469 orang dewasa berusia di atas 75 tahun selama lebih dari lima tahun untuk menilai bagaimana berbagai aktivitas fisik dan mental memengaruhi risiko demensia. Hasilnya mengejutkan: di antara semua aktivitas fisik yang diteliti—termasuk berenang, bersepeda, dan tenis, menari adalah satu-satunya yang menunjukkan efek perlindungan signifikan terhadap penurunan kognitif.

Temuan ini kembali mendapat perhatian publik setelah Dr. Trisha Pasricha, asisten profesor kedokteran di Harvard Medical School, menyorotinya dalam sebuah video untuk The Washington Post pada Desember 2025. Ia menekankan bahwa keunikan menari terletak pada kemampuannya menggabungkan aktivitas fisik, mental, dan sosial secara bersamaan—sesuatu yang jarang ditemukan pada bentuk olahraga lain.

Menari menuntut otak bekerja dengan cara yang lebih kompleks dibandingkan olahraga repetitif. Seorang penari harus mengambil keputusan dalam hitungan detik, menyelaraskan gerakan tubuh dengan irama musik, mengingat pola langkah, serta menyesuaikan diri dengan pasangan atau lingkungan sosial di sekitarnya.

Kombinasi tuntutan ini mengaktifkan berbagai area otak secara simultan. Berbeda dengan aktivitas yang gerakannya cenderung berulang dan dapat dilakukan secara otomatis, tarian terutama tarian sosial yang bersifat improvisatif memaksa otak terus memproses informasi baru dan melakukan penyesuaian cepat.

Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada Januari 2025 memperkuat temuan ini. Studi tersebut menyebut tarian sebagai “strategi pencegahan terintegrasi” karena secara bersamaan melibatkan sistem motorik, sensorik, kognitif, dan sosial. Bahkan pada individu dengan gangguan kognitif ringan atau demensia, intervensi berbasis tari menunjukkan manfaat yang bermakna.

Manfaat menari tidak berhenti pada kesehatan kognitif. Secara kardiovaskular, menari membantu memperkuat otot jantung dan meningkatkan fungsi pembuluh darah, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Heart and Mind pada Januari 2025.
Fisioterapis Cleveland Clinic, Kellie Grabfelder, menjelaskan bahwa menari meningkatkan detak jantung dan aliran darah sekaligus memperbaiki kekuatan otot, mobilitas, fleksibilitas, dan keseimbangan.

Dalam 30 menit, aktivitas ini dapat membakar hingga 300 kalori, tergantung intensitas dan berat badan. Selain itu, pelepasan endorfin selama menari berkontribusi pada peningkatan suasana hati dan penurunan stres.

Aspek sosial juga memainkan peran penting. Tinjauan sistematis tahun 2023 menemukan bahwa intervensi berbasis gerakan tari secara signifikan meningkatkan konektivitas sosial dan rasa kebersamaan pada lansia—faktor penting dalam melawan isolasi sosial, yang sendiri merupakan risiko demensia.


Apa yang Bisa Dilakuan Selanjutnya?

Efek perlindungan menari tampaknya paling kuat pada gaya yang menuntut improvisasi dan koordinasi sosial, seperti ballroom, salsa, swing, atau tari berpasangan lainnya, dibandingkan rutinitas yang sepenuhnya dihafal. Pusat komunitas, studio tari, dan pusat lansia kini semakin banyak menawarkan kelas pemula dengan pendekatan ramah usia.

Bagi yang lebih nyaman memulai dari rumah, tutorial daring juga menjadi alternatif yang mudah diakses. Namun, para peneliti menekankan satu hal utama: konsistensi. Manfaat kognitif terbesar diperoleh dari menari lebih dari sekali seminggu, bukan dari partisipasi sesekali.

Di tengah meningkatnya prevalensi demensia global, temuan ini menyampaikan pesan sederhana namun kuat: menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan intervensi medis rumit. Terkadang, cukup dengan bergerak mengikuti musik—dan menikmati prosesnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Inggris Larang Perebusan Lobster Hidup lewat Klarifikasi UU Kesejahteraan Hewan

BERIKUTNYA

Yungblud Kolaborasi dengan The Smashing Pumpkins di Lagu Zombie

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga