6 Kota Kuno yang Hilang dari Peradaban & Belum Ditemukan
04 January 2026 |
20:30 WIB
Penelitian terhadap peradaban masa lampau terus digali para arkeolog. Namun di balik banyaknya penemuan situs kuno dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah kota besar dari sejarah kuno tetap menjadi misteri karena belum pernah ditemukan secara fisik, meskipun keberadaannya tercatat dalam dokumen sejarah dan artefak.
Dari catatan sejarah, para ahli meyakini paling tidak terdapat enam kota kuno yang pernah eksis sebagai pusat kekuasaan atau pemukiman berpengaruh. Akan tetapi, keberadaan kota-kota tersebut hingga kini belum teridentifikasi lokasinya di permukaan bumi.
Lantas apa saja kota kuno yang hilang dari peradaban dan masih dicari terus keberadaannya? Simak ulasannya di bawah ini yuk, Genhype.
Mengutip Live Science, Kota Akkad juga disebut Agade adalah ibu kota Kekaisaran Akkadia, yang berkembang pesat antara 2350 dan 2150 SM. Pada puncaknya, kekaisaran ini membentang dari Teluk Persia hingga Anatolia.
Banyak penaklukannya terjadi selama pemerintahan "Sargon dari Akkad," yang hidup sekitar 2300 SM. Salah satu bangunan terpenting di Akkad sendiri adalah "Eulmash," sebuah kuil yang didedikasikan untuk Ishtar, dewi perang, kecantikan, dan kesuburan.
Al-Yahudu berarti "kota" atau "wilayah" Yehuda, sebuah tempat di kekaisaran Babilonia tempat orang Yahudi tinggal setelah kerajaan Yehuda ditaklukkan oleh raja Babilonia Nebukadnezar II pada 587 SM. Dia mengirim sebagian penduduk ke pengasingan, sebuah praktik yang sering dilakukan oleh bangsa Babilonia setelah menaklukkan suatu wilayah.
Diperkirakan ada sekitar 200 tablet kuno atau prasasti dari pemukiman tersebut yang menunjukkan bahwa orang-orang yang diasingkan serta tinggal di pemukiman ini tetap beriman dan menggunakan Yahweh, nama Tuhan, dalam nama mereka.
Lokasi Al-Yahudu belum diidentifikasi oleh para arkeolog, tetapi seperti banyak kota yang hilang, kemungkinan terletaknya di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Irak. Pasalnya, tablet-tablet kuno yang menjelaskan peradaban ini muncul di pasar barang antik.
Tidak lama setelah invasi AS ke Irak pada 2003, ribuan tablet kuno dari sebuah kota bernama "Irisagrig" mulai muncul di pasar barang antik. Dari tablet-tablet tersebut, para cendekiawan dapat mengetahui bahwa Irisagrig terletak di Irak dan berkembang sekitar 4.000 tahun yang lalu.
Lempengan-lempengan batu itu mengungkapkan bahwa para penguasa kota kuno tersebut tinggal di istana-istana yang menampung banyak anjing. Mereka juga memelihara singa yang diberi makan ternak.
Mereka yang merawat singa, yang disebut sebagai "gembala singa" mendapatkan jatah bir dan roti. Prasasti-prasasti itu juga menyebutkan sebuah kuil yang didedikasikan untuk Enki, dewa kenakalan dan kebijaksanaan, dan mengatakan bahwa festival terkadang diadakan di dalam kuil tersebut.
Para ahli berpendapat bahwa para penjarah menemukan dan menjarah Irisagrig sekitar waktu invasi AS tahun 2003 terjadi. Para arkeolog belum menemukan kota tersebut hingga saat ini, dan para penjarah yang menemukannya belum muncul dan mengidentifikasi lokasinya.
Firaun Mesir Amenemhat I (berkuasa sekitar 1981 hingga 1952 SM) memerintahkan pembangunan ibu kota baru. Ibu kota ini dikenal sebagai Itjtawy dan nama tersebut dapat diterjemahkan sebagai "penakluk Dua Negeri" atau "Amenemhat adalah penakluk Dua Negeri."
Seperti namanya, Amenemhat menghadapi banyak kekacauan. Masa pemerintahannya berakhir dengan pembunuhannya.
Meskipun Amenemhat dibunuh, Itjtawy tetap menjadi ibu kota Mesir hingga sekitar 1640 SM, ketika bagian utara Mesir dikuasai oleh kelompok yang dikenal sebagai "Hyksos," dan kerajaan itu runtuh.
Meskipun Itjtawy belum ditemukan, para arkeolog memperkirakan lokasinya berada di suatu tempat di dekat situs Lisht, di Mesir tengah. Narasi tersebut diperkuat karena banyak makam elit, termasuk piramida milik Amenemhat I, terletak di Lisht.
Thinis, juga dikenal sebagai Tjenu, merupakan kota kuno di Mesir selatan yang berkembang pesat di awal sejarah peradaban kuno. Menurut penulis kuno Manetho, di sanalah beberapa raja awal Mesir memerintah sekitar 5.000 tahun yang lalu, ketika Mesir sedang disatukan.
Ibu kota Mesir dipindahkan ke Memphis tidak lama setelah penyatuan dan Thinis menjadi ibu kota sebuah nome (provinsi Mesir) selama periode Kerajaan Lama (sekitar 2649 hingga 2150 SM), seperti yang dicatat oleh Ali Seddik Othman, seorang inspektur di Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Jurnal Abydos.
Thinis belum pernah teridentifikasi meskipun diyakini berada di dekat Abydos, yang terletak di Mesir selatan. Sebab, banyak anggota elit masyarakat, termasuk keluarga kerajaan, dimakamkan di dekat Abydos, sekitar 5.000 yang lalu.
Waššukanni adalah ibu kota kekaisaran Mitanni, yang berdiri antara sekitar 1550 SM dan 1300 SM dan meliputi sebagian wilayah Suriah timur laut, Anatolia selatan, dan Irak utara. Kekaisaran ini menghadapi persaingan ketat dari kekaisaran Het di utara dan kekaisaran Asyur di selatan, dan wilayahnya secara bertahap hilang ke tangan mereka.
Waššukanni belum pernah ditemukan dan beberapa sarjana berpendapat bahwa kota itu mungkin terletak di Suriah timur laut. Orang-orang yang tinggal di ibu kota, bahkan di sebagian besar wilayah kekuasaannya, dikenal sebagai "Hurria" dan mereka memiliki bahasa sendiri yang dikenal hingga saat ini dari teks-teks kuno.
Dari catatan sejarah, para ahli meyakini paling tidak terdapat enam kota kuno yang pernah eksis sebagai pusat kekuasaan atau pemukiman berpengaruh. Akan tetapi, keberadaan kota-kota tersebut hingga kini belum teridentifikasi lokasinya di permukaan bumi.
Lantas apa saja kota kuno yang hilang dari peradaban dan masih dicari terus keberadaannya? Simak ulasannya di bawah ini yuk, Genhype.
1. Akkad
Mengutip Live Science, Kota Akkad juga disebut Agade adalah ibu kota Kekaisaran Akkadia, yang berkembang pesat antara 2350 dan 2150 SM. Pada puncaknya, kekaisaran ini membentang dari Teluk Persia hingga Anatolia. Banyak penaklukannya terjadi selama pemerintahan "Sargon dari Akkad," yang hidup sekitar 2300 SM. Salah satu bangunan terpenting di Akkad sendiri adalah "Eulmash," sebuah kuil yang didedikasikan untuk Ishtar, dewi perang, kecantikan, dan kesuburan.
2. Al-Yahudu
Al-Yahudu berarti "kota" atau "wilayah" Yehuda, sebuah tempat di kekaisaran Babilonia tempat orang Yahudi tinggal setelah kerajaan Yehuda ditaklukkan oleh raja Babilonia Nebukadnezar II pada 587 SM. Dia mengirim sebagian penduduk ke pengasingan, sebuah praktik yang sering dilakukan oleh bangsa Babilonia setelah menaklukkan suatu wilayah.Diperkirakan ada sekitar 200 tablet kuno atau prasasti dari pemukiman tersebut yang menunjukkan bahwa orang-orang yang diasingkan serta tinggal di pemukiman ini tetap beriman dan menggunakan Yahweh, nama Tuhan, dalam nama mereka.
Lokasi Al-Yahudu belum diidentifikasi oleh para arkeolog, tetapi seperti banyak kota yang hilang, kemungkinan terletaknya di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Irak. Pasalnya, tablet-tablet kuno yang menjelaskan peradaban ini muncul di pasar barang antik.
3. Irisagrig
Tidak lama setelah invasi AS ke Irak pada 2003, ribuan tablet kuno dari sebuah kota bernama "Irisagrig" mulai muncul di pasar barang antik. Dari tablet-tablet tersebut, para cendekiawan dapat mengetahui bahwa Irisagrig terletak di Irak dan berkembang sekitar 4.000 tahun yang lalu.Lempengan-lempengan batu itu mengungkapkan bahwa para penguasa kota kuno tersebut tinggal di istana-istana yang menampung banyak anjing. Mereka juga memelihara singa yang diberi makan ternak.
Mereka yang merawat singa, yang disebut sebagai "gembala singa" mendapatkan jatah bir dan roti. Prasasti-prasasti itu juga menyebutkan sebuah kuil yang didedikasikan untuk Enki, dewa kenakalan dan kebijaksanaan, dan mengatakan bahwa festival terkadang diadakan di dalam kuil tersebut.
Para ahli berpendapat bahwa para penjarah menemukan dan menjarah Irisagrig sekitar waktu invasi AS tahun 2003 terjadi. Para arkeolog belum menemukan kota tersebut hingga saat ini, dan para penjarah yang menemukannya belum muncul dan mengidentifikasi lokasinya.
4. Itjtawy
Firaun Mesir Amenemhat I (berkuasa sekitar 1981 hingga 1952 SM) memerintahkan pembangunan ibu kota baru. Ibu kota ini dikenal sebagai Itjtawy dan nama tersebut dapat diterjemahkan sebagai "penakluk Dua Negeri" atau "Amenemhat adalah penakluk Dua Negeri." Seperti namanya, Amenemhat menghadapi banyak kekacauan. Masa pemerintahannya berakhir dengan pembunuhannya.
Meskipun Amenemhat dibunuh, Itjtawy tetap menjadi ibu kota Mesir hingga sekitar 1640 SM, ketika bagian utara Mesir dikuasai oleh kelompok yang dikenal sebagai "Hyksos," dan kerajaan itu runtuh.
Meskipun Itjtawy belum ditemukan, para arkeolog memperkirakan lokasinya berada di suatu tempat di dekat situs Lisht, di Mesir tengah. Narasi tersebut diperkuat karena banyak makam elit, termasuk piramida milik Amenemhat I, terletak di Lisht.
5. Thinis
Thinis, juga dikenal sebagai Tjenu, merupakan kota kuno di Mesir selatan yang berkembang pesat di awal sejarah peradaban kuno. Menurut penulis kuno Manetho, di sanalah beberapa raja awal Mesir memerintah sekitar 5.000 tahun yang lalu, ketika Mesir sedang disatukan. Ibu kota Mesir dipindahkan ke Memphis tidak lama setelah penyatuan dan Thinis menjadi ibu kota sebuah nome (provinsi Mesir) selama periode Kerajaan Lama (sekitar 2649 hingga 2150 SM), seperti yang dicatat oleh Ali Seddik Othman, seorang inspektur di Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Jurnal Abydos.
Thinis belum pernah teridentifikasi meskipun diyakini berada di dekat Abydos, yang terletak di Mesir selatan. Sebab, banyak anggota elit masyarakat, termasuk keluarga kerajaan, dimakamkan di dekat Abydos, sekitar 5.000 yang lalu.
6. Waššukanni
Waššukanni adalah ibu kota kekaisaran Mitanni, yang berdiri antara sekitar 1550 SM dan 1300 SM dan meliputi sebagian wilayah Suriah timur laut, Anatolia selatan, dan Irak utara. Kekaisaran ini menghadapi persaingan ketat dari kekaisaran Het di utara dan kekaisaran Asyur di selatan, dan wilayahnya secara bertahap hilang ke tangan mereka.Waššukanni belum pernah ditemukan dan beberapa sarjana berpendapat bahwa kota itu mungkin terletak di Suriah timur laut. Orang-orang yang tinggal di ibu kota, bahkan di sebagian besar wilayah kekuasaannya, dikenal sebagai "Hurria" dan mereka memiliki bahasa sendiri yang dikenal hingga saat ini dari teks-teks kuno.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.