Ilustrasi kecerdasan buatan. (Sumber gambar: Rawpixel.com/Freepik)

Euforia Kecerdasan Buatan Berkembang Sejak Era Yunani Kuno

04 January 2026   |   19:47 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Fenomena kecerdasan buatan ternyata telah ada jauh sebelum era milenium. Euforia ini muncul dalam mitologi ratusan hingga ribuan tahun silam, dari Yunani Kuno hingga legenda kepala logam seorang Paus abad ke-10. Dosen Senior Studi Digital Universitas Melbourne, Michael Falk, menerangkan fenomena optimisme dan khayalan teknologi artificial intelligence (AI) saat ini dipandang sebagai kelanjutan dari tradisi naratif lama tentang penciptaan makhluk cerdas.

AI modern, menurut analisisnya, sering dibumbui harapan yang bersifat mitos daripada realitas ilmiah. “Jadi mengapa para investor begitu bersemangat memberikan uang kepada orang-orang yang menjual sistem AI? Salah satu alasannya mungkin karena AI adalah teknologi mitos,” ujarnya dikutip dari Live Science, Minggu (4/1/2026).

Baca juga: Artificial Intelligence (AI) Bukan Ancaman buat Pekerja Kreatif, Tetapi Teman

Mitos Yunani Kuno tentang Prometheus memberi gambaran awal tentang ambisi manusia menciptakan atau menguasai kecerdasan. Dalam legenda yang tertulis pada puisi Hesiod, Theogony dan Works and Days, serta dalam drama Prometheus Bound, sang Titan dikatakan mencuri api dari Hephaestus, dewa pandai besi. 

Dengan menyembunyikan api di dalam batang adas, Prometheus turun ke bumi dan memberikannya kepada umat manusia. Sebagai hukuman, dia dirantai ke sebuah gunung, tempat seekor elang berkunjung setiap hari untuk memakan hatinya.

Karunia Prometheus menurut Falk bukan sekadar karunia api, tetapi karunia kecerdasan. Dalam Prometheus Bound, dia menyatakan bahwa sebelum karunia itu, manusia melihat tanpa melihat dan mendengar tanpa mendengar. 

Setelah Prometheus memberikan karunianya, manusia dapat menulis, membangun rumah, membaca bintang, melakukan perhitungan matematika, menjinakkan hewan, membangun kapal, menciptakan obat-obatan, menafsirkan mimpi, dan memberikan persembahan yang layak kepada para dewa.

Sementara itu, catatan sejarah juga mencatat figur Gerbert dari Aurillac, yang kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II pada akhir abad ke-10. Dalam legenda yang paling relevan di era euforia AI saat ini, adalah tentang "kepala perunggu" Gerbert. 

Legenda ini diceritakan pada 1120an oleh sejarawan Inggris William of Malmesbury, dalam bukunya, Deeds of the English Kings. Dituliskan dalam buku tersebut bahwa Gerbert sangat berpengetahuan luas dalam bidang astronomi, sebuah ilmu prediksi. 

Para astronom dapat menggunakan astrolabe untuk memprediksi posisi bintang dan meramalkan peristiwa kosmologis seperti gerhana. Menurut William, Gerbert menggunakan pengetahuannya tentang astronomi untuk membuat kepala yang bisa berbicara. 

Setelah mengamati pergerakan bintang dan planet, dia membuat kepala dari perunggu yang dapat menjawab pertanyaan ya atau tidak, semacam chatbot purba. Walau kebenaran faktual dari kisah tersebut diperdebatkan, narasinya mencerminkan bagaimana masyarakat awal menghubungkan pengetahuan astronomi dan mekanis dengan gagasan mesin cerdas.

“Pada masa itu, astronomi adalah ilmu prediksi yang paling ampuh. William yang bijaksana dan terpelajar setidaknya bersedia mempertimbangkan gagasan bahwa kemajuan gemilang dalam astronomi mungkin memungkinkan seorang Paus untuk membangun chatbot cerdas,” tutur Falk.

Melampaui Yunani dan Eropa Abad Pertengahan, beberapa tokoh seperti penemu automata Jacques de Vaucanson pada abad ke-18 menghabiskan beberapa dekade mengerjakan apa yang dia sebut sebagai "anatomi bergerak." Pada 1741, dia mempresentasikan rencana kepada Akademi Lyons untuk membangun "imitasi semua operasi hewan." 

Dua puluh tahun kemudian, dia melakukannya lagi. Vaucanson mendapatkan dukungan dari Raja Louis XV untuk membangun simulasi sistem peredaran darah. Dia mengklaim dapat membangun tubuh buatan yang lengkap dan hidup. Karya-karyanya yang meniru gerak tubuh dan fungsi biologis manusia sempat memicu imajinasi luas tentang kemungkinan mesin yang sepenuhnya hidup. 

Falk menyebut, fenomena investor dan publik yang mengejar AI saat ini serupa dengan gelombang “hype” teknologi di masa lalu, yang dibentuk oleh narasi kuat tentang masa depan yang transformatif. “Jika Vaucanson mampu menciptakan tubuh manusia baru, bukankah dia juga bisa memperbaiki tubuh yang sudah ada? Inilah janji beberapa perusahaan AI saat ini,” lugasnya.

SEBELUMNYA

Harga Komponen Naik, Vendor Smartphone Pantau Situasi

BERIKUTNYA

6 Kota Kuno yang Hilang dari Peradaban & Belum Ditemukan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga