Koleksi Jewel by Bepe Atelier. (Sumber gambar: Instagram Jewel by Bepe Atelier)

Pendar Cuan Bisnis Berkelanjutan, Dari Daur Ulang Hingga Kesetaraan Gender

04 January 2026   |   10:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Gerakan sustainable fashion bukan lagi sekadar jargon. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ini menjelma menjadi identitas dan pernyataan sikap para pelaku industri kreatif, termasuk di ranah aksesori dan tas. Bukan hanya soal ramah lingkungan, fesyen berkelanjutan kini juga bicara nilai, empati, dan dampak sosial yang nyata.

Di tengah arus tersebut, muncul nama Jewel by Bepe Atelier yang digawangi Adityo BP. Alih-alih memilih jalur konvensional, Adityo menjadikan limbah sebagai medium artistik sekaligus filosofi berkarya. “Bahwa ada keindahan dan potensi bahkan di dalam kekurangan atau ketidaksempurnaan,” ujarnya ketika berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Evolusi Modest Fashion Indonesia: Dari Revolusi Hijab ke Identitas Baru

Botol plastik bekas yang kerap dipandang sebelah mata justru diolah menjadi aksesori bernilai estetika tinggi. Botol-botol itu diproses sedemikian rupa hingga membentuk desain floral yang lembut, lalu dipadukan dengan batu-batuan serta logam seperti stainless steel dan perak berkualitas. 

Dari tangan para artisan, lahirlah berbagai jenis aksesori fesyen yang cantik seperti kalung, anting, hairpins, hingga bros. “Banyak ide baru muncul dari permintaan custom pelanggan, yang digunakan untuk pernikahan, sangjit, dan momen spesial lainnya,” tutur Adityo.

Kendati demikian, perjalanan daur ulang ini jelas tak instan. Mengolah limbah menjadi perhiasan membutuhkan teknik nonkonvensional, kesabaran, dan keahlian yang tak banyak dimiliki. 

Aditya menghadapi tantangan utama yakni bagaimana mengolah limbah menjadi karya yang layak, menarik, indah, dan tahan lama sebagai aksesoris atau perhiasan. Jewel by Bepe lantas mengembangkan teknik tersendiri yang pada prosesnya membutuhkan waktu, keahlian seniman, dan artisan yang cukup langka. 

Mereka dilatih dan harus memahami visi Jewel by Bepe serta menghasilkan karya dengan detail dan kehalusan tinggi. Tantangan lainnya adalah mengubah persepsi masyarakat, yang sering kali masih terpaku pada konsep aksesoris maupun perhiasan konvensional untuk dianggap bernilai.

Jika Jewel by Bepe berbicara soal transformasi material, jenama Rorokenes membawa narasi keberlanjutan ke ranah yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan Syanaz Nadya Winanto Putri, sustainability diterjemahkan sebagai praktik kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan pengurangan kemiskinan.
 

Koleksi tas Rorokenes. (Sumber gambar: Rorokenes)

Koleksi tas Rorokenes. (Sumber gambar: Rorokenes)


Di lingkungan kerja Rorokenes, pria dan perempuan diperlakukan setara. Hak-hak pekerja diperhatikan secara serius, mulai dari cuti haid, cuti mendampingi istri melahirkan, gaji sesuai UMR, fasilitas K3, hingga jaminan kesehatan. Tak ada ruang bagi eksploitasi, apalagi mempekerjakan anak di bawah umur.

Komitmen ini juga meluas ke komunitas yang diberdayakan. Rorokenes tidak hanya memberi pelatihan, tetapi membangun kelompok subsisten agar masyarakat berpenghasilan rendah bisa mandiri. Perempuan diajari menganyam, laki-laki dilatih menjahit, dan seluruh prosesnya dipantau, bahkan hingga literasi keuangan dan kebiasaan menabung bersama.

Bagi Syanaz, keberhasilan pemberdayaan bukan sekadar angka produksi, melainkan dampak ekonomi yang benar-benar dirasakan. “Artinya bukan cuman sekedar gender empowerment, tapi di situ juga ada poverty reduction-nya, pengurangan kemiskinan,” jelasnya kepada Hypeabis.id.

Dari sisi lingkungan, Rorokenes menerapkan pengelolaan limbah yang ketat. Sampah produksi ditekan hingga di bawah 5 persen, sementara sisanya disalurkan ke pengrajin lokal untuk didaur ulang. 

Penggunaan kulit dipilih karena daya pakainya yang panjang dan masih bisa diolah kembali di akhir masa pakai. Bahan baku lokal dari peternak yang bertanggung jawab menjadi kekuatan lain jenama ini. 

Di tengah gempuran produk murah dari luar negeri, nilai keberlanjutan dan local content justru menjadi pembeda utama. “Jika tidak mengaplikasikan SDGs dengan baik, kita bakal kalah dengan produk China. Tidak ada added value. Mau main di perang harga, tidak akan bisa,” tega Syanaz. 

Strategi ini terbukti efektif. Tas-tas Rorokenes, mulai dari tas kulit, tas anyaman, hingga tas daur ulang kayu, menemukan pasar global. 

Ribuan unit terjual setiap bulan ke berbagai negara, dari Asia hingga Eropa dan Amerika. Bahkan, kualitasnya pernah “terlalu bagus” hingga tertahan di bandara internasional saat hendak dipamerkan. Secara tidak langsung tas asli buatan pengrajin Indonesia ini telah diakui berkualitas internasional, sejajar dengan tas-tas branded seperti Louis Vuitton, Bottega, Chanel, Gucci, Hermes, atau Dolce Gabbana.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Evolusi Modest Fashion Indonesia: Dari Revolusi Hijab ke Identitas Baru

BERIKUTNYA

Ancaman Heatstroke pada Pelari, Penting Kenali Gejalanya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga