Evolusi Modest Fashion Indonesia: Dari Revolusi Hijab ke Identitas Baru
04 January 2026 |
09:00 WIB
Industri modest fashion menjadi motor baru ekonomi syariah di Indonesia, seiring menguatnya identitas dan kesadaran konsumen Muslim. Hal ini tidak lepas dari pergeseran sosial, budaya, hingga spiritual masyarakat Muslim di Tanah Air yang berlangsung dalam beberapa fase penting.
Perkembangan modest fashion di Indonesia mencerminkan transformasi yang jauh melampaui perubahan selera berpakaian. Pakar marketing sekaligus Managing Partner Inventure Yuswohady menilai, fondasi utama modest fashion tidak bisa dilepaskan dari fenomena revolusi hijab yang terjadi sekitar 2009–2010.
Baca juga: Indonesia Mantapkan Langkah Jadi Kiblat Modest Fashion Dunia
Pada periode tersebut, penggunaan hijab melonjak tajam dan mengalami pergeseran makna sosial. Hijab yang sebelumnya dianggap tidak lazim, berubah menjadi simbol identitas, kebanggaan, sekaligus arus utama.
“Dulu wanita berhijab itu jarang, bahkan dianggap aneh. Sekarang justru berbalik, yang tidak berhijab malah merasa tidak nyaman,” ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Perubahan ini, menurut Yuswohady, menciptakan validasi sosial yang kuat. Ketika mayoritas lingkungan mulai berhijab, tekanan sosial mempercepat adopsi massal.
Hijab pun tidak lagi sekadar representasi kesalehan personal, melainkan bagian dari gaya hidup sehari-hari. Revolusi ini menjadi landasan kultural yang mengokohkan perkembangan modest fashion di Indonesia.
Gelombang berikutnya datang dari peristiwa global yang tak terduga, yaitu pandemi Covid-19. Gangguan rantai pasok dan keterbatasan akses terhadap produk luar negeri mendorong masyarakat melirik produk lokal. Dari situ muncul sentimen kelokalan yang kian menguat.
“Waktu pandemi itu, sentimen kelokalan meningkat. Orang mulai bangga dengan produk lokal,” kata Yuswohady.
Dia mengatakan, kebanggaan terhadap merek dalam negeri tidak bersifat sementara. Pandemi meninggalkan jejak psikologis yang mendorong preferensi jangka panjang terhadap produk lokal.
Di industri fashion, kondisi ini menjadi katalis bagi pertumbuhan label modest fashion lokal yang mengombinasikan kreativitas desain dengan nilai budaya dan spiritualitas yang dekat dengan konsumen.
Fase ketiga ditandai dengan kejenuhan terhadap merek global. Yuswohady melihat adanya proses komoditisasi brand internasional, di mana merek-merek besar dunia tidak lagi memiliki daya tarik eksklusif seperti sebelumnya. Sebaliknya, konsumen Indonesia kini menemukan kebanggaan baru pada brand lokal yang merepresentasikan nilai keislaman, keanggunan timur, dan selera modern.
Lebih lanjut, Yuswohady menerangkan, kekuatan modest fashion Indonesia terletak pada pondasi budaya. Akar budaya Jawa dan Melayu membentuk preferensi masyarakat terhadap kesopanan dan keseimbangan dalam berpenampilan.
Ketika arus global membawa tren berpakaian yang lebih terbuka, masyarakat tidak sepenuhnya mengadopsinya, melainkan melakukan seleksi kultural. “Secara budaya, fashion kita itu memang modis, dalam arti menjaga kesopanan,” jelasnya.
Dari dinamika tersebut, lahirlah arah baru industri mode Muslim yang memadukan nilai-nilai Islam dengan modernitas global. Yuswohady menyebutnya sebagai The New Cool, yakni identitas Islam yang dikalibrasi dengan nilai-nilai Barat.
Contohnya terlihat pada desain jas Ramadan atau hijab minimalis modern yang merepresentasikan sintesis antara kesalehan dan gaya hidup kontemporer. “Simbol-simbol keislaman yang dikalibrasi dengan modernitas, itu yang membuat modest fashion relevan dan universal,” katanya.
Bagi Yuswohady, fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan transformasi identitas. Islam tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang konservatif, melainkan menjadi bagian dari wacana modernitas global. Dari sisi bisnis, kondisi ini menempatkan pelaku industri modest fashion pada posisi strategis.
“Mereka tidak perlu menciptakan pasar baru. Tinggal menunggangi momentum yang sudah terbentuk,” tegasnya.
Dengan fondasi yang berakar pada budaya, agama, dan kebanggaan nasional, Yuswohady meyakini tren modest fashion akan terus bertahan dalam jangka panjang dan menjadi salah satu kekuatan industri mode Indonesia di panggung global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Perkembangan modest fashion di Indonesia mencerminkan transformasi yang jauh melampaui perubahan selera berpakaian. Pakar marketing sekaligus Managing Partner Inventure Yuswohady menilai, fondasi utama modest fashion tidak bisa dilepaskan dari fenomena revolusi hijab yang terjadi sekitar 2009–2010.
Baca juga: Indonesia Mantapkan Langkah Jadi Kiblat Modest Fashion Dunia
Pada periode tersebut, penggunaan hijab melonjak tajam dan mengalami pergeseran makna sosial. Hijab yang sebelumnya dianggap tidak lazim, berubah menjadi simbol identitas, kebanggaan, sekaligus arus utama.
“Dulu wanita berhijab itu jarang, bahkan dianggap aneh. Sekarang justru berbalik, yang tidak berhijab malah merasa tidak nyaman,” ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Perubahan ini, menurut Yuswohady, menciptakan validasi sosial yang kuat. Ketika mayoritas lingkungan mulai berhijab, tekanan sosial mempercepat adopsi massal.
Hijab pun tidak lagi sekadar representasi kesalehan personal, melainkan bagian dari gaya hidup sehari-hari. Revolusi ini menjadi landasan kultural yang mengokohkan perkembangan modest fashion di Indonesia.
Gelombang berikutnya datang dari peristiwa global yang tak terduga, yaitu pandemi Covid-19. Gangguan rantai pasok dan keterbatasan akses terhadap produk luar negeri mendorong masyarakat melirik produk lokal. Dari situ muncul sentimen kelokalan yang kian menguat.
“Waktu pandemi itu, sentimen kelokalan meningkat. Orang mulai bangga dengan produk lokal,” kata Yuswohady.
Dia mengatakan, kebanggaan terhadap merek dalam negeri tidak bersifat sementara. Pandemi meninggalkan jejak psikologis yang mendorong preferensi jangka panjang terhadap produk lokal.
Di industri fashion, kondisi ini menjadi katalis bagi pertumbuhan label modest fashion lokal yang mengombinasikan kreativitas desain dengan nilai budaya dan spiritualitas yang dekat dengan konsumen.
Fase ketiga ditandai dengan kejenuhan terhadap merek global. Yuswohady melihat adanya proses komoditisasi brand internasional, di mana merek-merek besar dunia tidak lagi memiliki daya tarik eksklusif seperti sebelumnya. Sebaliknya, konsumen Indonesia kini menemukan kebanggaan baru pada brand lokal yang merepresentasikan nilai keislaman, keanggunan timur, dan selera modern.
Lebih lanjut, Yuswohady menerangkan, kekuatan modest fashion Indonesia terletak pada pondasi budaya. Akar budaya Jawa dan Melayu membentuk preferensi masyarakat terhadap kesopanan dan keseimbangan dalam berpenampilan.
Ketika arus global membawa tren berpakaian yang lebih terbuka, masyarakat tidak sepenuhnya mengadopsinya, melainkan melakukan seleksi kultural. “Secara budaya, fashion kita itu memang modis, dalam arti menjaga kesopanan,” jelasnya.
Dari dinamika tersebut, lahirlah arah baru industri mode Muslim yang memadukan nilai-nilai Islam dengan modernitas global. Yuswohady menyebutnya sebagai The New Cool, yakni identitas Islam yang dikalibrasi dengan nilai-nilai Barat.
Contohnya terlihat pada desain jas Ramadan atau hijab minimalis modern yang merepresentasikan sintesis antara kesalehan dan gaya hidup kontemporer. “Simbol-simbol keislaman yang dikalibrasi dengan modernitas, itu yang membuat modest fashion relevan dan universal,” katanya.
Bagi Yuswohady, fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan transformasi identitas. Islam tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang konservatif, melainkan menjadi bagian dari wacana modernitas global. Dari sisi bisnis, kondisi ini menempatkan pelaku industri modest fashion pada posisi strategis.
“Mereka tidak perlu menciptakan pasar baru. Tinggal menunggangi momentum yang sudah terbentuk,” tegasnya.
Dengan fondasi yang berakar pada budaya, agama, dan kebanggaan nasional, Yuswohady meyakini tren modest fashion akan terus bertahan dalam jangka panjang dan menjadi salah satu kekuatan industri mode Indonesia di panggung global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.