Kisah Perjalanan Usaha Kuliner Salad Buah Dapur Bunda indie
31 December 2025 |
16:00 WIB
Berawal dari dapur rumah dan kejenuhan setelah resign dari dunia perbankan, Pety Indriani (43) yang akrab disapa Indy berhasil merintis usaha kuliner sehat yang hingga kini tetap bertahan dan terus memiliki pelanggan setia: Dapur Bunda Indie.
Usaha ini telah ia jalani sejak 2018, jauh sebelum tren makanan sehat ramai seperti sekarang. “Saat itu aku lihat peluang bisnis kuliner sehat masih jarang,” ujar Indy mengenang awal langkahnya.
Baca juga: Gen Z dan Millenial Malaysia Gandrungi Wisata ke Indonesia, dari Kuliner Lokal hingga Brand Indie
Setelah bertahun-tahun bekerja di dunia perbankan, Indy memutuskan resign dan sempat merasa kehilangan arah. Rutinitas yang tiba-tiba berhenti membuatnya mencari kegiatan baru yang lebih bermakna.
Titik balik itu datang ketika ia mendapat tawaran untuk menangani katering karyawan dari sebuah instansi. Dari permintaan tersebut, muncul satu menu khusus yang diminta: camilan sehat. “Dari situlah aku mulai kepikiran bikin salad buah,” ceritanya.
Bagi Indy, makanan enak tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari visual. “Kalau tampilannya saja sudah menarik, aku yakin orang akan tertarik buat coba,” katanya. Prinsip ini yang kemudian mendorongnya memelopori konsep salad buah dengan hiasan buah di bagian topping. Tidak sekadar dicampur, buah-buahan ditata cantik sehingga terlihat segar, ceria, dan menggugah selera.
Soal kualitas, Indy dikenal sangat konsisten. Ia memilih buah-buahan premium, memastikan tingkat kematangan pas, serta meracik sendiri mayo dan yogurt melalui berbagai percobaan. “Aku coba berkali-kali sampai nemu rasa yang benar-benar cocok di mulut,” ujarnya.
Semua produknya dibuat fresh setiap kali ada pesanan. Salah satu ciri khas yang membuat Dapur Bunda Indie mudah dikenali adalah dressing berwarna pink dengan rasa strawberry. “Kayaknya aku yang pertama pakai dressing pink untuk salad buah,” katanya sambil tersenyum.
Target pasar Dapur Bunda Indie adalah mereka yang ingin memulai hidup sehat, terutama perempuan. Prinsip bisnis Indy pun sederhana namun kuat: kepuasan pelanggan adalah prioritas utama. “Kalau customer puas, harga bukan lagi persoalan. Untung boleh kecil, tapi yang beli banyak,” tuturnya.
Saat pandemi COVID-19, usahanya justru mengalami lonjakan permintaan. Meski banyak kompetitor bermunculan dengan harga jauh lebih murah, Indy tetap teguh mempertahankan kualitas. “Yang murah bisa kalah sama yang berkualitas,” katanya yakin. Ia pun memanfaatkan layanan pesan antar online untuk menjangkau pelanggan yang enggan keluar rumah.
Kini, dengan omzet berkisar Rp1–3 juta per bulan, Dapur Bunda Indie tetap bertahan dengan pelanggan yang loyal dan minim keluhan. Bahkan, produknya pernah dibawa hingga ke Madinah dan Malaysia, membuktikan kualitas dan daya tahannya.
Ke depan, Indy memiliki harapan sederhana namun penuh makna: membuka toko offline dengan beragam menu sehat, bukan hanya salad buah. Sebuah mimpi yang tumbuh dari dapur kecil, keberanian untuk memulai, dan konsistensi menjaga kualitas.
Baca juga: 10 Makanan Khas Thailand yang Wajib Dicoba untuk Pengalaman Kuliner Tak Terlupakan
Usaha ini telah ia jalani sejak 2018, jauh sebelum tren makanan sehat ramai seperti sekarang. “Saat itu aku lihat peluang bisnis kuliner sehat masih jarang,” ujar Indy mengenang awal langkahnya.
Baca juga: Gen Z dan Millenial Malaysia Gandrungi Wisata ke Indonesia, dari Kuliner Lokal hingga Brand Indie
Setelah bertahun-tahun bekerja di dunia perbankan, Indy memutuskan resign dan sempat merasa kehilangan arah. Rutinitas yang tiba-tiba berhenti membuatnya mencari kegiatan baru yang lebih bermakna.
Titik balik itu datang ketika ia mendapat tawaran untuk menangani katering karyawan dari sebuah instansi. Dari permintaan tersebut, muncul satu menu khusus yang diminta: camilan sehat. “Dari situlah aku mulai kepikiran bikin salad buah,” ceritanya.
Bagi Indy, makanan enak tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari visual. “Kalau tampilannya saja sudah menarik, aku yakin orang akan tertarik buat coba,” katanya. Prinsip ini yang kemudian mendorongnya memelopori konsep salad buah dengan hiasan buah di bagian topping. Tidak sekadar dicampur, buah-buahan ditata cantik sehingga terlihat segar, ceria, dan menggugah selera.
Soal kualitas, Indy dikenal sangat konsisten. Ia memilih buah-buahan premium, memastikan tingkat kematangan pas, serta meracik sendiri mayo dan yogurt melalui berbagai percobaan. “Aku coba berkali-kali sampai nemu rasa yang benar-benar cocok di mulut,” ujarnya.
Semua produknya dibuat fresh setiap kali ada pesanan. Salah satu ciri khas yang membuat Dapur Bunda Indie mudah dikenali adalah dressing berwarna pink dengan rasa strawberry. “Kayaknya aku yang pertama pakai dressing pink untuk salad buah,” katanya sambil tersenyum.
Target pasar Dapur Bunda Indie adalah mereka yang ingin memulai hidup sehat, terutama perempuan. Prinsip bisnis Indy pun sederhana namun kuat: kepuasan pelanggan adalah prioritas utama. “Kalau customer puas, harga bukan lagi persoalan. Untung boleh kecil, tapi yang beli banyak,” tuturnya.
Saat pandemi COVID-19, usahanya justru mengalami lonjakan permintaan. Meski banyak kompetitor bermunculan dengan harga jauh lebih murah, Indy tetap teguh mempertahankan kualitas. “Yang murah bisa kalah sama yang berkualitas,” katanya yakin. Ia pun memanfaatkan layanan pesan antar online untuk menjangkau pelanggan yang enggan keluar rumah.
Kini, dengan omzet berkisar Rp1–3 juta per bulan, Dapur Bunda Indie tetap bertahan dengan pelanggan yang loyal dan minim keluhan. Bahkan, produknya pernah dibawa hingga ke Madinah dan Malaysia, membuktikan kualitas dan daya tahannya.
Ke depan, Indy memiliki harapan sederhana namun penuh makna: membuka toko offline dengan beragam menu sehat, bukan hanya salad buah. Sebuah mimpi yang tumbuh dari dapur kecil, keberanian untuk memulai, dan konsistensi menjaga kualitas.
Baca juga: 10 Makanan Khas Thailand yang Wajib Dicoba untuk Pengalaman Kuliner Tak Terlupakan
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.