Ini 5 Cedera yang Sering Mengintai di Balik Gaya Hidup Aktif
31 December 2025 |
22:30 WIB
Kesadaran masyarakat untuk menjalani gaya hidup aktif dengan menjaga kebugaran tubuh lewat olahraga terus meningkat mulai dari lari, tenis, hingga padel. Namun, di balik semangat bergerak tersebut ternyata ada risiko cedera yang mengintai tapi sering kali disepelekan.
Muhammad Fahreza Raihan, fisioterapis di klinik Pratama Fisioterapi Bebas Cedera, mengungkapkan saat ini sebagian besar pasien yang datang ke klinik didominasi masyarakat umum yang aktif berolahraga atau memiliki rutinitas harian kurang ergonomis.
Baca juga: Alternatif Baru Cedera Lutut, Rekonstruksi dengan Ligamen Artifisial
Baca juga: Alternatif Baru Cedera Lutut, Rekonstruksi dengan Ligamen Artifisial
“Sekarang kebanyakan yang datang bukan atlet profesional, tapi masyarakat dengan gaya hidup aktif termasuk pekerja kantoran dan ibu rumah tangga,” ujar Reza.
Berdasarkan pengalamannya selama lebih dari satu setengah tahun berpraktik sebagai fisioterapis, Reza mencatat setidaknya ada lima cedera yang paling sering ditangani:
1. Ankle Sprain (Keseleo Pergelangan Kaki)
Keseleo pergelangan kaki adalah cedera yang paling umum, terutama pada pelari, pemain basket, dan olahraga lapangan lainnya. Biasanya terjadi akibat pergelangan kaki terpuntir atau tersandung.
Jika tidak ditangani dengan benar, selain rasa sakit dan pembengkakan, kondisi ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan otot hingga berdampak pada lutut dan pinggul.
2. Tennis Elbow (Nyeri Siku Lateral)
Seiring dengan meningkatnya tren olahraga padel, cedera nyeri si sisi luar siku atau tennis elbow sering muncul akibat penggunaan otot-otot lengan secara berulang, misalnya saat memukul raket tenis dan badminton maupun saat bermain padel.
Menurut Reza, jika dibiarkan, cedera ini bisa mengurangi kekuatan genggaman tangan yang dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa menyakitkan, dan berpotensi menimbulkan peradangan kronis.
3. Cedera Pergelangan Tangan (TFCC – Triangular Fibrocartilage Complex)
TFCC adalah cedera pada jaringan lunak di pergelangan tangan yang biasanya terjadi karena gerakan memutar atau menahan beban berat, misalnya saat bermain tenis meja, badminton, atau olahraga lain yang membutuhkan kontrol tangan yang presisi.
“Tanpa penanganan tepat, cedera ini bisa menurunkan fleksibilitas dan kekuatan pergelangan tangan, bahkan memicu nyeri kronis,” jelasnya.
4. Nyeri Bahu dan Leher
Cedera ini sering muncul pada pekerja kantoran akibat postur duduk lama, menunduk melihat layar komputer atau ponsel, dan kurangnya peregangan. Jika dibiarkan, dapat menyebabkan frozen shoulder, ketegangan otot kronis, dan gangguan mobilitas bahu, sehingga aktivitas sehari-hari terasa terbatas.
5. Nyeri Pinggang
Nyeri pinggang adalah keluhan klasik, tidak hanya pada atlet tapi juga masyarakat umum, termasuk ibu rumah tangga dan pekerja kantoran. Penyebabnya bisa beragam mulai dari postur duduk yang salah, angkat beban tidak benar, atau teknik olahraga yang kurang tepat.
Tanpa penanganan, nyeri pinggang bisa berkembang menjadi cedera kronis, seperti hernia atau degenerasi tulang belakang.
“Cedera-cedera ini sering dianggap sepele. Padahal kalau tidak ditangani dengan benar, bisa berkembang menjadi kondisi kronis yang memengaruhi kualitas hidup,” jelas Reza.
Pencegahan Cedera
Reza juga menjelaskan bahwa cedera olahraga tidak semata-mata disebabkan oleh teknik yang keliru. Banyak faktor lain yang kerap luput dari perhatian, mulai dari kurangnya pemanasan, tidak melakukan cooling down, hingga abainya latihan penguatan otot.“Banyak orang langsung olahraga tanpa pemanasan, selesai olahraga juga tidak cooling down, dan tidak pernah melakukan strengthening. Ini yang bikin risiko cedera makin besar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih adanya anggapan keliru di masyarakat yang menyamakan fisioterapi dengan pijat atau refleksi. Padahal, menurut Reza, fisioterapi memiliki pendekatan yang jauh lebih komprehensif karena tujuannya untuk memperbaiki fungsi otot, menguatkan otot, dan mencegah cedera berulang.
"Ada assessment, latihan penguatan, dan koreksi gerak,” jelasnya.
Di klinik Bebas Cedera, proses fisioterapi dilakukan melalui pemeriksaan menyeluruh, termasuk evaluasi postur tubuh dan hubungan antar sendi, bukan sekadar menangani area yang terasa nyeri.
Terkait waktu yang tepat untuk datang ke klinik fisioterapi, Reza menyarankan masyarakat tidak perlu menunggu hingga cedera menjadi parah. Ia menilai fisioterapi justru ideal dilakukan sebelum atau setelah berolahraga sebagai langkah pencegahan.
“Fisioterapi itu bukan hanya untuk pemulihan, tapi juga untuk menjaga tubuh tetap siap bergerak dan terhindar dari cedera,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.