Merawat Tradisi Menulis di Era Digital Lewat Notebook Handmade dari Brand Khuma
31 December 2025 |
13:00 WIB
Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba digital, aktivitas menulis dengan tangan justru menemukan kembali maknanya. Dari kebutuhan personal inilah Khuma lahir, sebuah brand notebook handmade yang menjadikan proses menulis sebagai pengalaman yang lebih intim, rapi, dan bermakna. Bagi Khuma, menulis bukan sekadar mencatat, melainkan cara untuk kembali terhubung dengan pikiran dan emosi di tengah hiruk pikuk teknologi.
Khuma didirikan oleh Fariza Khumaedi, pria berusia 37 tahun yang akrab disapa Ijak. Nama “Khuma” sendiri diambil dari penggalan nama belakang sang pendiri. Menurut Ijak, pemilihan nama tersebut memiliki makna personal yang cukup dalam. “Khuma ini diambil dari penggalan nama belakang saya. Sebenarnya saya ingin ada legacy pribadi yang tertuang dalam produk-produk yang saya desain dan buat sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Notebook Angkat Dilema Kisah Cinta dalam Sinopsis Terbaru
Ia menyebut proses produksi Khuma sebagai self-manufacture, karena hampir seluruh produk dikerjakan secara mandiri. “Produk Khuma pada dasarnya adalah produk handmade, atau saya pribadi menyebutnya self-manufacture,” kata Ijak.
Pendekatan ini membuatnya dapat menjaga standar kualitas secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan hingga tahap akhir pengerjaan.
Latar belakang terbentuknya Khuma bermula ketika Ijak tengah mengerjakan proyek craft dan furnitur bersama teman-temannya. Ia bertanggung jawab pada bagian desain dan pembuatan prototipe, yang mengharuskannya banyak menggambar dan membuat sketsa. Namun, kebiasaan mencatat di lembaran kertas terpisah justru menimbulkan masalah.
“Kertas-kertas itu sering terpisah satu sama lain, jadi berantakan dan suka hilang kalau lagi dicari,” ungkapnya. Dari persoalan sederhana tersebut, muncul ide untuk membuat buku catatan sendiri agar semua sketsa dan catatan tersimpan lebih rapi dan mudah diakses.
Salah satu brand yang menginspirasi langkah awal Khuma adalah Moleskine. Ijak menyukai desainnya yang simpel dan estetik, tetapi saat itu produk tersebut cukup sulit ditemukan.
“Saya suka karena desainnya simple dan estetik, tapi susah cari produknya pada waktu itu,” ujarnya. Berangkat dari rasa penasaran dan semangat do it yourself, Ijak mulai mempelajari proses pembuatan notebook, mulai dari alat, teknik penjilidan, hingga jenis material yang digunakan. “Saya coba cari tahu bagaimana cara bikinnya, alatnya apa saja, dan material apa saja yang dibutuhkan. Dari passion DIY itulah Khuma bergerak di awal,” tambahnya.
Keunikan notebook Khuma terletak pada konsistensi kualitas. Karena diproduksi secara mandiri, Ijak sangat selektif dalam memilih material, dari kertas hingga finishing produk. “Saya sangat menjaga konsistensi kualitas, supaya customer bisa menggunakan produk kami seoptimal mungkin,” jelasnya.
Khuma juga membuka layanan custom bulk order, memungkinkan pelanggan menyesuaikan material, menambahkan identitas brand, serta menentukan anggaran yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan.
Dari berbagai produk yang dihadirkan, Traveler Notebook Series menjadi representasi paling kuat dari identitas Khuma. Notebook ini dirancang dengan sistem isi ulang, sehingga kertas insert dapat diganti saat penuh. “Produk ini memberi banyak kemungkinan kreasi untuk customer, mulai dari personalisasi dengan charm, stiker, sampai aksesori tambahan,” kata Ijak.
Dalam hal material, Khuma melakukan kurasi ketat. Untuk produk premium, digunakan kertas impor yang minim bleeding saat dipakai dengan tinta fountain pen. Untuk sampul, Khuma memilih premium synthetic leather yang dikenal memiliki daya tahan tinggi dan kualitas yang stabil.
Target pasar Khuma menyasar usia produktif, mulai dari mahasiswa hingga pekerja profesional. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga relevansi di tengah perubahan kebiasaan mencatat akibat teknologi digital.
“Tantangan terbesar kami adalah bagaimana bisa bertahan dan tetap relate di era serba digital,” ungkap Ijak. Karena itu, strategi pemasaran Khuma menekankan hubungan emosional antara pengguna dan produk. “Menulis bukan lagi semata hanya mencatat, tapi juga jadi kegiatan terapi untuk mengelola emosi dan pikiran yang tadinya berantakan,” ujarnya.
Bahkan, Khuma tengah mengembangkan prototipe produk berbasis teknologi NFC sebagai upaya menjembatani dunia analog dan digital. Salah satu pencapaian paling berkesan bagi Ijak adalah ketika Khuma dipercaya mengerjakan bulk order yang digunakan untuk program promosi di Paris. “Itu jadi momen yang sangat berkesan buat saya,” katanya.
Ke depan, Khuma ingin terus bereksplorasi dengan teknologi agar tetap relevan dalam 5–10 tahun mendatang, sembari mulai mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam proses produksinya.
Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini 5 Perbedaan Netbook dan Notebook
Khuma didirikan oleh Fariza Khumaedi, pria berusia 37 tahun yang akrab disapa Ijak. Nama “Khuma” sendiri diambil dari penggalan nama belakang sang pendiri. Menurut Ijak, pemilihan nama tersebut memiliki makna personal yang cukup dalam. “Khuma ini diambil dari penggalan nama belakang saya. Sebenarnya saya ingin ada legacy pribadi yang tertuang dalam produk-produk yang saya desain dan buat sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Notebook Angkat Dilema Kisah Cinta dalam Sinopsis Terbaru
Ia menyebut proses produksi Khuma sebagai self-manufacture, karena hampir seluruh produk dikerjakan secara mandiri. “Produk Khuma pada dasarnya adalah produk handmade, atau saya pribadi menyebutnya self-manufacture,” kata Ijak.
Pendekatan ini membuatnya dapat menjaga standar kualitas secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan hingga tahap akhir pengerjaan.
Latar belakang terbentuknya Khuma bermula ketika Ijak tengah mengerjakan proyek craft dan furnitur bersama teman-temannya. Ia bertanggung jawab pada bagian desain dan pembuatan prototipe, yang mengharuskannya banyak menggambar dan membuat sketsa. Namun, kebiasaan mencatat di lembaran kertas terpisah justru menimbulkan masalah.
“Kertas-kertas itu sering terpisah satu sama lain, jadi berantakan dan suka hilang kalau lagi dicari,” ungkapnya. Dari persoalan sederhana tersebut, muncul ide untuk membuat buku catatan sendiri agar semua sketsa dan catatan tersimpan lebih rapi dan mudah diakses.
Salah satu brand yang menginspirasi langkah awal Khuma adalah Moleskine. Ijak menyukai desainnya yang simpel dan estetik, tetapi saat itu produk tersebut cukup sulit ditemukan.
“Saya suka karena desainnya simple dan estetik, tapi susah cari produknya pada waktu itu,” ujarnya. Berangkat dari rasa penasaran dan semangat do it yourself, Ijak mulai mempelajari proses pembuatan notebook, mulai dari alat, teknik penjilidan, hingga jenis material yang digunakan. “Saya coba cari tahu bagaimana cara bikinnya, alatnya apa saja, dan material apa saja yang dibutuhkan. Dari passion DIY itulah Khuma bergerak di awal,” tambahnya.
Keunikan notebook Khuma terletak pada konsistensi kualitas. Karena diproduksi secara mandiri, Ijak sangat selektif dalam memilih material, dari kertas hingga finishing produk. “Saya sangat menjaga konsistensi kualitas, supaya customer bisa menggunakan produk kami seoptimal mungkin,” jelasnya.
Khuma juga membuka layanan custom bulk order, memungkinkan pelanggan menyesuaikan material, menambahkan identitas brand, serta menentukan anggaran yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan.
Dari berbagai produk yang dihadirkan, Traveler Notebook Series menjadi representasi paling kuat dari identitas Khuma. Notebook ini dirancang dengan sistem isi ulang, sehingga kertas insert dapat diganti saat penuh. “Produk ini memberi banyak kemungkinan kreasi untuk customer, mulai dari personalisasi dengan charm, stiker, sampai aksesori tambahan,” kata Ijak.
Dalam hal material, Khuma melakukan kurasi ketat. Untuk produk premium, digunakan kertas impor yang minim bleeding saat dipakai dengan tinta fountain pen. Untuk sampul, Khuma memilih premium synthetic leather yang dikenal memiliki daya tahan tinggi dan kualitas yang stabil.
Target pasar Khuma menyasar usia produktif, mulai dari mahasiswa hingga pekerja profesional. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga relevansi di tengah perubahan kebiasaan mencatat akibat teknologi digital.
“Tantangan terbesar kami adalah bagaimana bisa bertahan dan tetap relate di era serba digital,” ungkap Ijak. Karena itu, strategi pemasaran Khuma menekankan hubungan emosional antara pengguna dan produk. “Menulis bukan lagi semata hanya mencatat, tapi juga jadi kegiatan terapi untuk mengelola emosi dan pikiran yang tadinya berantakan,” ujarnya.
Bahkan, Khuma tengah mengembangkan prototipe produk berbasis teknologi NFC sebagai upaya menjembatani dunia analog dan digital. Salah satu pencapaian paling berkesan bagi Ijak adalah ketika Khuma dipercaya mengerjakan bulk order yang digunakan untuk program promosi di Paris. “Itu jadi momen yang sangat berkesan buat saya,” katanya.
Ke depan, Khuma ingin terus bereksplorasi dengan teknologi agar tetap relevan dalam 5–10 tahun mendatang, sembari mulai mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam proses produksinya.
Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini 5 Perbedaan Netbook dan Notebook
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.