Ilustrasi orang yang sedang belanja (Sumber gambar : Freepik)

Dampak dari Kecanduan Belanja dalam Kehidupan Sehari-hari

31 December 2025   |   02:30 WIB
Image
Nursoko Andhika Setiawan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Belanja kerap dianggap sebagai aktivitas yang wajar dan menyenangkan. Bagi sebagian orang, membeli barang baru dapat menjadi bentuk hadiah untuk diri sendiri setelah bekerja keras atau sekadar cara melepas penat. Namun, di balik kesenangan tersebut, terdapat kondisi yang sering luput disadari, yakni kecanduan belanja atau compulsive buying disorder.

Kondisi ini membuat seseorang terus mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kemampuan finansial, bahkan ketika kondisi keuangan sudah tidak memungkinkan. Melansir Healthline, kecanduan belanja merujuk pada dorongan kuat dan berulang untuk membeli sesuatu, bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan yang sulit dikendalikan.

Baca juga:  Indonesia Peringkat 2 Dunia untuk Belanja Online, Promo Jadi Magnet Utama

Berbeda dengan belanja sesekali sebagai hiburan, perilaku ini justru menimbulkan masalah serius dalam kehidupan seseorang. Dampaknya tidak hanya terbatas pada keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional, hubungan sosial, hingga kesehatan mental.

Seseorang yang mengalami kecanduan belanja sering kali terjebak dalam lingkaran antara rasa senang sesaat dan penyesalan berkepanjangan. Secara medis, kecanduan belanja belum diakui secara resmi sebagai gangguan kejiwaan tersendiri oleh American Psychiatric Association. Meski demikian, banyak pakar kesehatan mental meyakini bahwa perilaku ini memiliki karakteristik adiksi yang jelas.

Dorongan yang sulit ditahan, rasa puas sementara setelah membeli barang, serta keinginan untuk mengulang perilaku tersebut menjadi pola yang sering muncul. Oleh karena itu, kecanduan belanja tetap dipandang sebagai masalah serius yang perlu mendapat perhatian.

Pada praktiknya, kecanduan belanja tidak selalu terbatas pada jenis barang tertentu. Ada orang yang terobsesi membeli pakaian, perhiasan, atau produk kecantikan, namun ada pula yang membeli hampir segala hal, mulai dari makanan hingga aset bernilai besar. Aktivitas membeli ini memicu lonjakan emosi positif atau euforia singkat. Ketika otak mengaitkan belanja dengan perasaan senang tersebut, seseorang akan terdorong untuk terus mengulanginya demi mendapatkan sensasi yang sama, meskipun dampaknya merugikan.

Penelitian mengenai kecanduan belanja masih menunjukkan hasil yang beragam. Sebagian studi menyebutkan bahwa perempuan lebih rentan mengalaminya, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki risiko yang relatif setara. Yang jelas, kecanduan belanja dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang ekonomi.

Masalahnya, banyak penderita kecanduan belanja pandai menyembunyikan kondisi mereka. Dari luar, mereka bisa tampak sukses, mapan, dan memiliki gaya hidup yang baik. Namun, di balik itu semua, tidak jarang mereka menanggung beban utang yang besar. Rasa bersalah dan penyesalan sering muncul setelah berbelanja, tetapi dorongan untuk kembali membeli barang tetap sulit dihentikan. Kondisi ini membuat seseorang semakin terjebak dalam masalah keuangan dan tekanan emosional.

Mengatasi kecanduan belanja bukan perkara mudah, karena belanja merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang tetap perlu membeli kebutuhan pokok, pakaian, dan keperluan lainnya. Oleh sebab itu, solusi tidak terletak pada menghentikan belanja sepenuhnya, melainkan pada pengelolaan perilaku dan pengendalian dorongan. Dalam beberapa kasus, pembatasan akses keuangan dan bantuan dari orang terdekat diperlukan pada tahap awal pemulihan.

Pendekatan yang paling sering digunakan dalam menangani kecanduan belanja adalah terapi perilaku dan konseling individu. Melalui terapi, seseorang dapat belajar mengendalikan impuls, mengenali pemicu emosional yang mendorong perilaku belanja, serta membangun pola pikir dan kebiasaan yang lebih sehat. Terapi juga membantu mengungkap kemungkinan adanya masalah emosional yang lebih dalam, seperti stres berkepanjangan, kecemasan, atau depresi.

Dukungan sosial memegang peranan penting dalam proses pemulihan. Keluarga, teman, dan komunitas pendukung dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Program manajemen keuangan dan kelompok pemulihan juga menjadi sarana yang bermanfaat untuk membangun kebiasaan baru yang lebih sehat.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, kecanduan belanja dapat membawa seseorang ke kondisi keuangan yang semakin terpuruk. Namun, harapan untuk pulih selalu ada. Walaupun kemungkinan kambuh tetap terbuka, dengan dukungan yang tepat dan strategi pengelolaan diri yang baik, seseorang dapat kembali mengendalikan perilaku belanjanya. Pada akhirnya, kecanduan belanja bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah tantangan yang dapat diatasi demi kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.

Baca juga:  Simak 7 Tips Atasi Kecanduan Belanja Online

SEBELUMNYA

Foto-Foto Lucu di Blok M, Cek 5 Photobooth yang Lagi Hits

BERIKUTNYA

Dari Karya Tangan ke Lilin Beraroma, Ketekunan di Balik Handmade by Dires

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga