Romo Mudji Wafat pada Usia 71 Tahun, Ini Jejak Karya Pentingnya
29 December 2025 |
10:39 WIB
Kabar duka tengah menyelimuti dunia kebudayaan dan kerohanian Indonesia. Franciscus Xavier Mudji Sutrisno, yang lebih dikenal sebagai Romo Mudji, dikabarkan telah meninggal dunia pada usia 71 tahun pada Minggu malam, 28 Desember 2025.
Kepergian seorang imam, budayawan, penulis, dan seniman sketsa ini meninggalkan rasa kehilangan mendalam, terutama di kalangan intelektual, seniman, serta para pegiat refleksi spiritual di Indonesia.
Baca juga: Borobudur Writers and Cultural Festival 2025 Hadir di Cirebon, Angkat Tema Islam Nusantara
Romo Mudji, yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri dari Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) ini semasa hidupnya banyak bergelut di dunia seni dan budaya. Dalam ranah pemikiran, ia produktif menulis esai, refleksi rohani, hingga puisi yang mempertautkan iman dengan realitas sosial Indonesia.
Melalui tulisan-tulisannya, Romo Mudji kerap menyoroti isu pendidikan karakter, keadilan, dan kepekaan terhadap penderitaan manusia. Gagasan-gagasannya hadir dengan bahasa reflektif sehingga mampu mengajak dengan mudah para pembaca merenung sekaligus bersikap kritis terhadap keadaan sekitar.
Selain lewat kata-kata, Romo Mudji juga menyalurkan pengalaman batinnya melalui sketsa. Dia memandang sketsa sebagai medium bahasa alternatif, terutama ketika ungkapan verbal tak lagi mampu memadai kedalaman pengalaman spiritual.
Romo Mudji juga dikenal sebagai akademisi. Sebagai dosen filsafat dan sosiologi yang dekat dengan mahasiswa, dia aktif membuka ruang dialog tentang nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan peran iman dalam kehidupan modern.
Tak mengherankan bila semasa hidupnya, karya-karyanya baik berupa tulisan maupun sketsa punya nilai penting dalam lanskap dunia kerohanian dan kebudayaan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa karya dari puluhan karya yang merekam kontribusinya bagi dunia pemikiran, seni, dan refleksi iman di Indonesia.
Buku Sejarah Filsafat Nusantara: Alam Pikiran Indonesia karya Mudji Sutrisno membahas bagaimana Indonesia, secara historis, masih berada dalam proses pendefinisian diri oleh kekuatan kolonialisme gaya baru, terutama dalam ranah sosial, politik, dan ekonomi. Pembedaan antara negara maju dan negara berkembang menempatkan Barat sebagai pusat, sementara Indonesia kerap menjadi objek.
Melalui penelusuran pemikiran para pendiri bangsa seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Sukarno, buku ini menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati bertumpu pada kesadaran sejarah dan visi geopolitik yang kuat.
Buku ini merupakan ikhtiar untuk menggali dan menghidupkan kembali filsafat politik Nusantara agar bangsa Indonesia mampu merancang zamannya sendiri. Tujuannya adalah mendorong Indonesia untuk benar-benar merdeka, bukan hanya hidup dalam arus sejarah, tetapi hadir sebagai subjek yang sadar, aktif, dan berdaulat.
Rekah Lembah: Puisi & Sketsa bukan hanya kumpulan 56 puisi dan 52 sketsa karya Mudji Sutrisno. Di dalamnya, pembaca diajak menyelami dunia kreatif yang melampaui teks dan visual semata.
Sebanyak 12 puisi, hampir seluruhnya diambil dari kumpulan puisi yang ada di dalam buku ini, kemudian juga diolah kembali menjadi lagu. Dengan demikian, buku ini menghadirkan tiga lapis pengalaman estetik sekaligus, yakni melalui puisi, sketsa, dan musikalisasi puisi.
Buku ini menjelaskan kebudayaan sebagai tindakan manusia yang selalu diberi makna, baik oleh orang biasa maupun kaum terpelajar. Kebudayaan tidak dilihat sebagai sesuatu yang kaku atau sekadar warisan, melainkan sebagai cara manusia memahami dan menjalani hidupnya.
Para pemikir seperti Clifford Geertz dan Talcott Parsons menekankan bahwa kebudayaan berfungsi memberi arah, nilai, dan arti dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, manusia dipahami sebagai pelaku aktif yang sadar bahwa kebudayaan adalah hasil dari tindakan dan pilihan mereka sehari-hari. Dari proses memberi makna tersebut, lahirlah berbagai karya dan ekspresi budaya yang menampilkan “wajah-wajah” kebudayaan.
Kebudayaan bisa dipahami sekaligus sebagai proses dan sebagai hasil, yang selalu hadir melalui manusia sebagai makhluk pemberi makna. Buku ini merangkum perjalanan pemikiran penulis selama 60 tahun dalam mengumpulkan esai-esai yang merekam dan merefleksikan beragam wajah kebudayaan dalam kehidupan manusia.
Menyusul runtuhnya pemerintahan Orde Baru, masyarakat dituntut untuk belajar dengan cepat, terutama mengenai politik, sosial, dan ekonomi. Padatnya agenda reformasi tidak sebanding dengan waktu belajar yang dimiliki masyarakat, terlebih karena pengalaman berorganisasi yang terbatas serta warisan depolitisasi sebelumnya.
Akibatnya, gagasan reformasi yang semula digerakkan mahasiswa perlahan terhenti ketika diambil alih oleh para politikus dan kelompok yang lebih siap dengan teori serta struktur kekuasaan.
Keprihatinan Mudji Sutrisno terhadap kondisi bangsa ini dituangkan melalui kumpulan tulisannya di berbagai media massa yang kemudian dibukukan. Buku ini membahas isu-isu penting seperti politik dan etika politik, kekerasan struktural, demokrasi, relasi pola pikir dan kekuasaan, hingga tantangan kredibilitas negara hukum.
Buku ini membahas beragam krisis peradaban yang berlangsung di bumi Indonesia, disertai kisah-kisah yang merefleksikan kenyataan krisis tersebut. Perspektif kebudayaan menjadi landasan utama dalam membaca dan menilai berbagai persoalan yang diangkat.
Melalui rangkaian pertanyaan reflektif, pembaca diajak untuk lebih sadar dalam mengendalikan diri lewat pendalaman batin. Sikap dan tindakan yang berangkat dari nurani jernih serta kecerdasan budi ditekankan sebagai jalan menuju kesejahteraan bersama dan peradaban pencerahan dalam jangka panjang.
Buku ini menjelaskan bahwa pengalaman manusia tentang “diri” dan hubungannya dengan “Sang Diri” atau Allah tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh akal semata, juga tidak bisa diungkapkan secara utuh melalui kata-kata. Bahasa hanya mampu mewakili pengalaman religius secara simbolik dan terbatas.
Semakin dalam dan kaya pengalaman spiritual seseorang, justru semakin sulit pengalaman itu dijelaskan dengan bahasa, sehingga muncullah apa yang disebut sebagai paradoks spiritualitas. Melalui pemikiran Zen Buddhis dari tradisi Timur dan pengalaman batin Santo Fransiskus dari Asisi, buku ini menawarkan sebuah “jalan pembebasan” bagi manusia.
Jalan ini mengajak pembaca untuk menembus keterbatasan rasio dan bahasa, guna menemukan inti diri sekaligus mendekat pada Realitas Ilahi. Dengan demikian, buku ini membimbing manusia menuju pencerahan di tengah kompleksitas dan paradoks kehidupan.
Romo Mudji menyalurkan pengalaman spiritualnya tidak hanya lewat kata, tetapi juga melalui seni sketsa. Ia kerap menyebut sketsa sebagai medium bahasa alternatif ketika ungkapan verbal tak lagi memadai.
Sketsa-sketsanya dihadirkan dalam garis-garis yang sederhana, namun sarat makna, merekam keheningan batin, hubungan manusia dengan Tuhan, serta dinamika perjalanan iman. Kesederhanaan visual justru menjadi ruang refleksi yang mendalam.
Berbagai pameran lukisan dan sketsa telah ia selenggarakan, antara lain Dari Stupa ke Stupa (2014) di Taman Ismail Marzuki, Paskah Gabah: via Crucis (2016), serta Kumandang ing Sepi (2017 dan 2018). Pameran terbarunya bertajuk Dari Gereja ke Gereja, yang menampilkan 55 karya sketsa gereja di Jakarta, berlangsung pada September 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kepergian seorang imam, budayawan, penulis, dan seniman sketsa ini meninggalkan rasa kehilangan mendalam, terutama di kalangan intelektual, seniman, serta para pegiat refleksi spiritual di Indonesia.
Baca juga: Borobudur Writers and Cultural Festival 2025 Hadir di Cirebon, Angkat Tema Islam Nusantara
Romo Mudji, yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri dari Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) ini semasa hidupnya banyak bergelut di dunia seni dan budaya. Dalam ranah pemikiran, ia produktif menulis esai, refleksi rohani, hingga puisi yang mempertautkan iman dengan realitas sosial Indonesia.
Melalui tulisan-tulisannya, Romo Mudji kerap menyoroti isu pendidikan karakter, keadilan, dan kepekaan terhadap penderitaan manusia. Gagasan-gagasannya hadir dengan bahasa reflektif sehingga mampu mengajak dengan mudah para pembaca merenung sekaligus bersikap kritis terhadap keadaan sekitar.
Selain lewat kata-kata, Romo Mudji juga menyalurkan pengalaman batinnya melalui sketsa. Dia memandang sketsa sebagai medium bahasa alternatif, terutama ketika ungkapan verbal tak lagi mampu memadai kedalaman pengalaman spiritual.
Romo Mudji juga dikenal sebagai akademisi. Sebagai dosen filsafat dan sosiologi yang dekat dengan mahasiswa, dia aktif membuka ruang dialog tentang nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan peran iman dalam kehidupan modern.
Tak mengherankan bila semasa hidupnya, karya-karyanya baik berupa tulisan maupun sketsa punya nilai penting dalam lanskap dunia kerohanian dan kebudayaan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa karya dari puluhan karya yang merekam kontribusinya bagi dunia pemikiran, seni, dan refleksi iman di Indonesia.
1. Sejarah Filsafat Nusantara: Alam Pikiran Indonesia
Buku Sejarah Filsafat Nusantara: Alam Pikiran Indonesia karya Mudji Sutrisno membahas bagaimana Indonesia, secara historis, masih berada dalam proses pendefinisian diri oleh kekuatan kolonialisme gaya baru, terutama dalam ranah sosial, politik, dan ekonomi. Pembedaan antara negara maju dan negara berkembang menempatkan Barat sebagai pusat, sementara Indonesia kerap menjadi objek.Melalui penelusuran pemikiran para pendiri bangsa seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Sukarno, buku ini menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati bertumpu pada kesadaran sejarah dan visi geopolitik yang kuat.
Buku ini merupakan ikhtiar untuk menggali dan menghidupkan kembali filsafat politik Nusantara agar bangsa Indonesia mampu merancang zamannya sendiri. Tujuannya adalah mendorong Indonesia untuk benar-benar merdeka, bukan hanya hidup dalam arus sejarah, tetapi hadir sebagai subjek yang sadar, aktif, dan berdaulat.
2. Rekah Lembah: Puisi & Sketsa
Rekah Lembah: Puisi & Sketsa bukan hanya kumpulan 56 puisi dan 52 sketsa karya Mudji Sutrisno. Di dalamnya, pembaca diajak menyelami dunia kreatif yang melampaui teks dan visual semata.Sebanyak 12 puisi, hampir seluruhnya diambil dari kumpulan puisi yang ada di dalam buku ini, kemudian juga diolah kembali menjadi lagu. Dengan demikian, buku ini menghadirkan tiga lapis pengalaman estetik sekaligus, yakni melalui puisi, sketsa, dan musikalisasi puisi.
3. Membaca Rupa Wajah Kebudayaan
Buku ini menjelaskan kebudayaan sebagai tindakan manusia yang selalu diberi makna, baik oleh orang biasa maupun kaum terpelajar. Kebudayaan tidak dilihat sebagai sesuatu yang kaku atau sekadar warisan, melainkan sebagai cara manusia memahami dan menjalani hidupnya.Para pemikir seperti Clifford Geertz dan Talcott Parsons menekankan bahwa kebudayaan berfungsi memberi arah, nilai, dan arti dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, manusia dipahami sebagai pelaku aktif yang sadar bahwa kebudayaan adalah hasil dari tindakan dan pilihan mereka sehari-hari. Dari proses memberi makna tersebut, lahirlah berbagai karya dan ekspresi budaya yang menampilkan “wajah-wajah” kebudayaan.
Kebudayaan bisa dipahami sekaligus sebagai proses dan sebagai hasil, yang selalu hadir melalui manusia sebagai makhluk pemberi makna. Buku ini merangkum perjalanan pemikiran penulis selama 60 tahun dalam mengumpulkan esai-esai yang merekam dan merefleksikan beragam wajah kebudayaan dalam kehidupan manusia.
4. Demokrasi, Semudah Ucapankah?
Menyusul runtuhnya pemerintahan Orde Baru, masyarakat dituntut untuk belajar dengan cepat, terutama mengenai politik, sosial, dan ekonomi. Padatnya agenda reformasi tidak sebanding dengan waktu belajar yang dimiliki masyarakat, terlebih karena pengalaman berorganisasi yang terbatas serta warisan depolitisasi sebelumnya. Akibatnya, gagasan reformasi yang semula digerakkan mahasiswa perlahan terhenti ketika diambil alih oleh para politikus dan kelompok yang lebih siap dengan teori serta struktur kekuasaan.
Keprihatinan Mudji Sutrisno terhadap kondisi bangsa ini dituangkan melalui kumpulan tulisannya di berbagai media massa yang kemudian dibukukan. Buku ini membahas isu-isu penting seperti politik dan etika politik, kekerasan struktural, demokrasi, relasi pola pikir dan kekuasaan, hingga tantangan kredibilitas negara hukum.
5. Krisis Peradaban
Buku ini membahas beragam krisis peradaban yang berlangsung di bumi Indonesia, disertai kisah-kisah yang merefleksikan kenyataan krisis tersebut. Perspektif kebudayaan menjadi landasan utama dalam membaca dan menilai berbagai persoalan yang diangkat.Melalui rangkaian pertanyaan reflektif, pembaca diajak untuk lebih sadar dalam mengendalikan diri lewat pendalaman batin. Sikap dan tindakan yang berangkat dari nurani jernih serta kecerdasan budi ditekankan sebagai jalan menuju kesejahteraan bersama dan peradaban pencerahan dalam jangka panjang.
6. Zen Buddhis: Ketimuran Dan Paradoks Spiritualitas
Buku ini menjelaskan bahwa pengalaman manusia tentang “diri” dan hubungannya dengan “Sang Diri” atau Allah tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh akal semata, juga tidak bisa diungkapkan secara utuh melalui kata-kata. Bahasa hanya mampu mewakili pengalaman religius secara simbolik dan terbatas. Semakin dalam dan kaya pengalaman spiritual seseorang, justru semakin sulit pengalaman itu dijelaskan dengan bahasa, sehingga muncullah apa yang disebut sebagai paradoks spiritualitas. Melalui pemikiran Zen Buddhis dari tradisi Timur dan pengalaman batin Santo Fransiskus dari Asisi, buku ini menawarkan sebuah “jalan pembebasan” bagi manusia.
Jalan ini mengajak pembaca untuk menembus keterbatasan rasio dan bahasa, guna menemukan inti diri sekaligus mendekat pada Realitas Ilahi. Dengan demikian, buku ini membimbing manusia menuju pencerahan di tengah kompleksitas dan paradoks kehidupan.
7. Pameran Sketsa
Romo Mudji menyalurkan pengalaman spiritualnya tidak hanya lewat kata, tetapi juga melalui seni sketsa. Ia kerap menyebut sketsa sebagai medium bahasa alternatif ketika ungkapan verbal tak lagi memadai.Sketsa-sketsanya dihadirkan dalam garis-garis yang sederhana, namun sarat makna, merekam keheningan batin, hubungan manusia dengan Tuhan, serta dinamika perjalanan iman. Kesederhanaan visual justru menjadi ruang refleksi yang mendalam.
Berbagai pameran lukisan dan sketsa telah ia selenggarakan, antara lain Dari Stupa ke Stupa (2014) di Taman Ismail Marzuki, Paskah Gabah: via Crucis (2016), serta Kumandang ing Sepi (2017 dan 2018). Pameran terbarunya bertajuk Dari Gereja ke Gereja, yang menampilkan 55 karya sketsa gereja di Jakarta, berlangsung pada September 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.