Borobudur Writers and Cultural Festival 2025 Hadir di Cirebon, Angkat Tema Islam Nusantara
12 November 2025 |
09:59 WIB
Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) ke-14 akan digelar pada 20–22 November 2025 di Keraton Kacirebonan, Cirebon. Tahun ini, festival yang memadukan kajian budaya, sastra, dan arkeologi tersebut mengusung tema Estetika Nisan-nisan Islam Nusantara dan Dunia Ketuhanan Tarekat Syattariyah di Cirebon.
Adapun, tema ini dipilih sebagai penghormatan bagi arkeolog Uka Tjandrasasmita (1934–2010), tokoh penting dalam pengembangan studi arkeologi Islam Nusantara.
Baca juga: Borobudur Writers and Cultural Festival 2024 di Situs Muarajambi
Festival literasi ini terselenggara melalui kolaborasi Majelis Seni dan Tradisi Cirebon (Mesti) serta Perhimpunan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Kegiatan ini menyoroti warisan sejarah, spiritualitas, dan estetika Islam Nusantara yang berakar kuat di tanah Cirebon.
BWCF 2025 nantinya akan menghadirkan sejumlah pakar untuk membahas simbol dan aksara pada makam-makam tua di Nusantara yang sarat nilai estetika, spiritualitas, serta makna filosofis. Di antaranya, arkeolog asal Prancis Prof. Dr. Daniel Perret yang meneliti nisan kuno Aceh, serta Bastian Zulyeno, Ph.D. dari Universitas Indonesia yang meneliti epitaf bercorak sufistik dari Iran.
Penunjukan Cirebon sebagai tuan rumah mencerminkan kekayaan warisan Islam pesisir serta tradisi manuskrip Tarekat Syattariyah yang mengakar kuat di wilayah ini. Festival juga akan membahas peran ajaran Syattariyah dalam menginspirasi gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, termasuk pengaruhnya terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro sebagaimana dijelaskan oleh sejarawan Prof. Dr. Peter Carey.
Selain simposium dan kuliah kebudayaan, BWCF 2025 akan menampilkan Malam Puisi Cirebon–Gaza yang menghadirkan penyair terkemuka seperti Zawawi Imron, Acep Zamzam Noer, Hikmat Gumelar, dan Nenden Lilis. Acara ini juga akan menghadirkan penyair Palestina–Australia Dr. Samah Sabawi, penulis naskah drama Tales of a City by the Sea dan buku puisi Cactus Pear for My Beloved yang masuk nominasi Stella Prize 2025.
Sementara itu, sebagai bentuk penghormatan kepada Uka Tjandrasasmita—pionir arkeologi Islam Nusantara—BWCF 2025 akan turut menampilkan pidato kebudayaan oleh Dr. Helene Njoto bertajuk “Tribute untuk Uka Tjandrasasmita: Membaca Kembali Sendang Duwur dan Masjid-Masjid Kuno Nusantara.”
Sendang Duwur merupakan situs purbakala Islam di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dikenal juga sebagai Masjid Sendang Duwur atau Makam Sunan Sendang, situs ini menyimpan peninggalan bersejarah seperti masjid kuno, mimbar, batu nisan keramat, gapura, serta tiang dan pendapa berukir.
Uka Tjandrasasmita meneliti situs ini dan menerbitkan hasil kajiannya pada 1975 dalam tulisan berjudul Islamic Antiquity of Sendang Duwur. Dalam pidatonya di BWCF 2025, Dr. Helene Njoto—yang juga pernah meneliti situs tersebut—akan mengulas kembali temuan dan pemikiran Uka sebagai wujud apresiasi terhadap warisannya dalam studi arkeologi Islam Indonesia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Adapun, tema ini dipilih sebagai penghormatan bagi arkeolog Uka Tjandrasasmita (1934–2010), tokoh penting dalam pengembangan studi arkeologi Islam Nusantara.
Baca juga: Borobudur Writers and Cultural Festival 2024 di Situs Muarajambi
Festival literasi ini terselenggara melalui kolaborasi Majelis Seni dan Tradisi Cirebon (Mesti) serta Perhimpunan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Kegiatan ini menyoroti warisan sejarah, spiritualitas, dan estetika Islam Nusantara yang berakar kuat di tanah Cirebon.
BWCF 2025 nantinya akan menghadirkan sejumlah pakar untuk membahas simbol dan aksara pada makam-makam tua di Nusantara yang sarat nilai estetika, spiritualitas, serta makna filosofis. Di antaranya, arkeolog asal Prancis Prof. Dr. Daniel Perret yang meneliti nisan kuno Aceh, serta Bastian Zulyeno, Ph.D. dari Universitas Indonesia yang meneliti epitaf bercorak sufistik dari Iran.
Penunjukan Cirebon sebagai tuan rumah mencerminkan kekayaan warisan Islam pesisir serta tradisi manuskrip Tarekat Syattariyah yang mengakar kuat di wilayah ini. Festival juga akan membahas peran ajaran Syattariyah dalam menginspirasi gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, termasuk pengaruhnya terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro sebagaimana dijelaskan oleh sejarawan Prof. Dr. Peter Carey.
Selain simposium dan kuliah kebudayaan, BWCF 2025 akan menampilkan Malam Puisi Cirebon–Gaza yang menghadirkan penyair terkemuka seperti Zawawi Imron, Acep Zamzam Noer, Hikmat Gumelar, dan Nenden Lilis. Acara ini juga akan menghadirkan penyair Palestina–Australia Dr. Samah Sabawi, penulis naskah drama Tales of a City by the Sea dan buku puisi Cactus Pear for My Beloved yang masuk nominasi Stella Prize 2025.
Sementara itu, sebagai bentuk penghormatan kepada Uka Tjandrasasmita—pionir arkeologi Islam Nusantara—BWCF 2025 akan turut menampilkan pidato kebudayaan oleh Dr. Helene Njoto bertajuk “Tribute untuk Uka Tjandrasasmita: Membaca Kembali Sendang Duwur dan Masjid-Masjid Kuno Nusantara.”
Sendang Duwur merupakan situs purbakala Islam di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dikenal juga sebagai Masjid Sendang Duwur atau Makam Sunan Sendang, situs ini menyimpan peninggalan bersejarah seperti masjid kuno, mimbar, batu nisan keramat, gapura, serta tiang dan pendapa berukir.
Uka Tjandrasasmita meneliti situs ini dan menerbitkan hasil kajiannya pada 1975 dalam tulisan berjudul Islamic Antiquity of Sendang Duwur. Dalam pidatonya di BWCF 2025, Dr. Helene Njoto—yang juga pernah meneliti situs tersebut—akan mengulas kembali temuan dan pemikiran Uka sebagai wujud apresiasi terhadap warisannya dalam studi arkeologi Islam Indonesia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.