Budi Nusyirwan (53) akrab disapa Bukrie (sumber : bukrie /instagram)

Slow Living, Hidup Berkesadaran di Era Serba Cepat

27 December 2025   |   21:27 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Like
Di tengah derasnya arus tren gaya hidup, istilah slow living belakangan sering muncul sebagai jawaban atas kehidupan yang kian riuh. Banyak orang membayangkannya sebagai gaya hidup berpindah ke desa, menjadi petani, hidup sederhana, atau menjalani ritme seperti pensiunan.

Namun bagi Budi Nusyirwan (53), wirausahawan di bidang digital, slow living sejatinya bukan tentang tempat, profesi, atau kecepatan langkah hidup tetapi soal memberi ruang pada diri untuk lebih sadar akan apa yang dilakukan.

Baca juga: Hypereport: Menjalani Hidup yang Bermakna dengan Slow Food & Slow Living

Kendati bekerja di industri digital yang serba cepat, pria yang akrab disapa Bukrie (Budi Kriting) ini tetap bisa bekerja produktif tanpa merasa dikejar waktu. Bahkan hingga kini dia masih tetap tinggal di Jakarta yang sering dianggap terlalu sibuk untuk menjalani slow living.

“Saya bekerja, saya produktif, saya tetap tinggal di Jakarta. Slow living bukan soal melarikan diri dari kota, tapi menghadapi hidup dengan penuh kesadaran,” ujar pria kelahiran Jakarta ini.

Menurut Bukrie, slow living bukan berarti memperlambat hidup tetapi hadir sepenuhnya pada setiap aktivitas baik saat bekerja, mengambil keputusan, mengatur emosi, hingga merespons hal-hal di luar kendali. 

Gaya hidup pindah ke desa dan bercocok tanam memang menjadi salah satu bentuk slow living tetapi bukan esensinya. Karena itu konsep slow living ini bisa diterapkan di kota besar maupun desa, oleh anak muda hingga pensiunan, oleh pengusaha, buruh, dokter, atau pekerja kreatif.

Menurutnya, slow living bukanlah gaya hidup baru, melainkan sebuah istilah asing untuk pola hidup yang sebetulnya sudah akrab di budaya masyarakat Indonesia. “Orang Jawa itu hidup sadar dengan konsep alon-alon asal kelakon. Itu bukan soal lambat, tapi soal menyikapi dan berpikir,” katanya.

Bagi ayah dari dua orang putra ini, slow living merupakan sebuah kemampuan menyadari apa yang sedang dijalani, mengenali apa yang dirasakan, dan merespons hidup dengan penuh kesadaran. Konsep ini, menurutnya, berkelindan dengan filosofi Stoikisme, mindfulness, hingga bermuara pada frugal living.
 
Pria yang hobi menjelajah ini menjelaskan bahwa hidup berkesadaran sering disalahpahami sebagai sekadar “tenang” atau “pelan”. Padahal inti slow living adalah fokus dan menikmati apa yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Kesadaran inilah yang membuat seseorang mampu memilah mana hal yang dapat dikendalikan dan mana yang berada di luar kendalinya, sebuah prinsip Stoikisme.  Banyak orang, lanjutnya, justru menghabiskan energi untuk memikirkan hal-hal di luar kendalinya, termasuk obsesi mencari validasi di media sosial.

Menurut Bukrie, ujung dari slow living itu adalah frugal living yaitu merasa cukup dan bijak menentukan apa yang dibutuhkan “Manusia itu cenderung tidak pernah merasa cukup. Frugal itu sadar apa yang memang kita butuhkan,” ujarnya.

Dia percaya slow living penting diadopsi generasi muda yang hidup dalam tekanan, terutama di era digital yang kompetitif. Tugas kuliah, karier awal, tekanan sosial, hingga dorongan untuk selalu produktif membuat mereka rentan kehilangan jeda.

“Sibuk tidak apa-apa, tapi harus sadar kapan berhenti, kapan bilang iya atau tidak. Harus hadir pada apa yang dikerjakan. Berikan jeda, karena jeda itu membuat hidup tidak terasa seperti dikejar-kejar,” tuturnya.

Kesadarannya terhadap slow living semakin terbentuk setelah menonton video seorang kreator bernama Gani melalui channel youtube Gani The Yong yang menjelaskan konsep itu secara sederhana.

Namun dia kemudian menyadari bahwa gaya hidup itu sebenarnya sudah dijalankan sejak kecil, terinspirasi dari ayahnya yang hidup sederhana, stoik, dan tenang dalam menjalankan profesinya sebagai dokter.
 
 Baca juga: Isa Bajaj dan Warung Eropa: Bisnis yang Tumbuh dari Slow Living

SEBELUMNYA

6 Destinasi Wisata Arab Saudi di Musim Dingin, Pesona Riyadh sampai Laut Merah

BERIKUTNYA

Kaleidoskop 2025: Peristiwa-peristiwa Penting di Dunia Kesehatan Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga