Peluncuran Buku Sejarah Indonesia Versi Termutakhir Tandai Penetapan Hari Sejarah 14 Desember
15 December 2025 |
18:07 WIB
Kementerian Kebudayaan resmi meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, di Jakarta, Minggu, 14 Desember 2025. Terdiri atas 10 Jilid, buku ini mendedah sejarah perjalanan awal Nusantara, hingga situasi termutakhir setelah Reformasi.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengklaim, penyusunan buku ini merupakan respons nyata negara terhadap aspirasi para sejarawan mengenai perlunya pengayaan penulisan sejarah Indonesia yang sudah cukup lama tak dilakukan secara komprehensif.
Buku tersebut, paparnya, disusun dalam sepuluh jilid utama dan satu jilid faktaneka serta indeks. Berlangsung selama satu tahun, penulisan buku melibatkan kolaborasi masif dari 123 orang yang terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum dari 34 perguruan tinggi.
Baca juga: Peluncuran Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dijadwalkan 14 Desember 2025, Bertepatan dengan Hari Sejarah Nasional
Kementerian Kebudayaan hanya sebagai fasilitator, sementara substansi dan metodologi penulisan sepenuhnya ditentukan secara independen oleh tim penulis, editor jilid dan editor umum. Hal ini dilakukan untuk menjamin otonomi akademik dan objektivitas narasi sejarah yang dibangun.
"Dalam kurun waktu dua dekade, telah lahir banyak penelitian sejarah dan arkeologi dengan temuan-temuan baru yang penting untuk dikonstruksikan kembali dalam narasi sejarah bangsa,” katanya dalam taklimat resmi.
Selaras, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa proses penyusunan buku tersebut juga dilakukan melalui tahapan panjang, ketat, dan terukur sepanjang Januari hingga November 2025.
Menurut Restu, penulisannya tidak dimaksudkan sebagai sekadar buku teks konvensional, melainkan sebagai narasi dinamika historis bangsa Indonesia. Dalam konstruksi narasinya, buku ini menempatkan Indonesia sebagai subjek utama sejarah.
"Kami memastikan setiap tahap penulisan berjalan sesuai kaidah akademik, mulai dari sinkronisasi metodologi, penyuntingan substansi, diskusi publik, hingga penyelarasan bibliografi,” ujar Restu Gunawan.
Dalam momen yang sama Kementerian Kebudayaan juga mendorong peningkatan kesadaran sejarah dengan penetapan Hari Sejarah melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 206/M/2025 yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 8 Desember 2025 di Jakarta.
Tanggal 14 Desember dipilih merujuk pada pelaksanaan Seminar Sejarah Indonesia pertama yang berlangsung pada 14–18 Desember 1957 di Yogyakarta, sebuah tonggak penting dalam sejarah historiografi Indonesia.
Fadli menambahkan bahwa penetapan Hari Sejarah dan peluncuran buku ini memiliki makna simbolik dan substantif yang saling menguatkan. Hadirnya buku juga diharapkan menjadi sumber penting dalam membangun kesadaran tentang asal-usul bangsa, sejarah, identitas dan jati diri nasional.
“Soft launching buku ini pada 14 Desember bukan hanya perayaan intelektual, tetapi juga penegasan bahwa negara memiliki tanggungjawab untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Sejarah adalah fondasi, jika kehilangan sejarah berarti kehilangan arah kebangsaan,” tegasnya.
Sebagai tambahan informasi, penyusunan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dinakhodai oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum. (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. (Universitas Diponegoro), dan Prof. Jajat Burhanudin, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Kendati dianggap sebagai langkah penting untuk memutakhirkan data sejarah, proses penyusunan buku ini tidak lepas dari sorotan publik, terutama dari kalangan akademisi. Salahn datag dari arkeolog dan ahli prasejarah senior Truman Simanjuntak, yang sempat terlibat namun kemudian memilih mundur.
Truman juga menyoroti kemungkinan adanya campur tangan kekuasaan dalam penyusunan konsepsi ilmiah buku tersebut. Menurutnya, hal ini berpotensi mengganggu independensi akademik yang seharusnya dijaga dalam setiap proyek ilmiah. Salah satu contohnya adalah penggantian istilah ‘prasejarah’ menjadi ‘sejarah awal’.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengklaim, penyusunan buku ini merupakan respons nyata negara terhadap aspirasi para sejarawan mengenai perlunya pengayaan penulisan sejarah Indonesia yang sudah cukup lama tak dilakukan secara komprehensif.
Buku tersebut, paparnya, disusun dalam sepuluh jilid utama dan satu jilid faktaneka serta indeks. Berlangsung selama satu tahun, penulisan buku melibatkan kolaborasi masif dari 123 orang yang terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum dari 34 perguruan tinggi.
Baca juga: Peluncuran Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dijadwalkan 14 Desember 2025, Bertepatan dengan Hari Sejarah Nasional
Kementerian Kebudayaan hanya sebagai fasilitator, sementara substansi dan metodologi penulisan sepenuhnya ditentukan secara independen oleh tim penulis, editor jilid dan editor umum. Hal ini dilakukan untuk menjamin otonomi akademik dan objektivitas narasi sejarah yang dibangun.
"Dalam kurun waktu dua dekade, telah lahir banyak penelitian sejarah dan arkeologi dengan temuan-temuan baru yang penting untuk dikonstruksikan kembali dalam narasi sejarah bangsa,” katanya dalam taklimat resmi.
Selaras, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa proses penyusunan buku tersebut juga dilakukan melalui tahapan panjang, ketat, dan terukur sepanjang Januari hingga November 2025.
Menurut Restu, penulisannya tidak dimaksudkan sebagai sekadar buku teks konvensional, melainkan sebagai narasi dinamika historis bangsa Indonesia. Dalam konstruksi narasinya, buku ini menempatkan Indonesia sebagai subjek utama sejarah.
"Kami memastikan setiap tahap penulisan berjalan sesuai kaidah akademik, mulai dari sinkronisasi metodologi, penyuntingan substansi, diskusi publik, hingga penyelarasan bibliografi,” ujar Restu Gunawan.
Dalam momen yang sama Kementerian Kebudayaan juga mendorong peningkatan kesadaran sejarah dengan penetapan Hari Sejarah melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 206/M/2025 yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 8 Desember 2025 di Jakarta.
Tanggal 14 Desember dipilih merujuk pada pelaksanaan Seminar Sejarah Indonesia pertama yang berlangsung pada 14–18 Desember 1957 di Yogyakarta, sebuah tonggak penting dalam sejarah historiografi Indonesia.
Fadli menambahkan bahwa penetapan Hari Sejarah dan peluncuran buku ini memiliki makna simbolik dan substantif yang saling menguatkan. Hadirnya buku juga diharapkan menjadi sumber penting dalam membangun kesadaran tentang asal-usul bangsa, sejarah, identitas dan jati diri nasional.
“Soft launching buku ini pada 14 Desember bukan hanya perayaan intelektual, tetapi juga penegasan bahwa negara memiliki tanggungjawab untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Sejarah adalah fondasi, jika kehilangan sejarah berarti kehilangan arah kebangsaan,” tegasnya.
Sebagai tambahan informasi, penyusunan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dinakhodai oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum. (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. (Universitas Diponegoro), dan Prof. Jajat Burhanudin, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Kendati dianggap sebagai langkah penting untuk memutakhirkan data sejarah, proses penyusunan buku ini tidak lepas dari sorotan publik, terutama dari kalangan akademisi. Salahn datag dari arkeolog dan ahli prasejarah senior Truman Simanjuntak, yang sempat terlibat namun kemudian memilih mundur.
Truman juga menyoroti kemungkinan adanya campur tangan kekuasaan dalam penyusunan konsepsi ilmiah buku tersebut. Menurutnya, hal ini berpotensi mengganggu independensi akademik yang seharusnya dijaga dalam setiap proyek ilmiah. Salah satu contohnya adalah penggantian istilah ‘prasejarah’ menjadi ‘sejarah awal’.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.