Subak Jatiluwih Bali (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Menjelajah Ekowisata Subak Jatiluwih yang Memesona

14 December 2025   |   18:41 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Pada 2012, Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan sistem subak di Bali sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD). Cakupan wilayahnya tersebar di lima kabupaten, yakni Bangli, Gianyar, Tabanan, Buleleng, dan Badung, dengan total luas mencapai lebih dari 19.500 hektare.

Di antara kawasan tersebut, Jatiluwih yang terletak di kaki Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Tabanan, tumbuh menjadi salah satu ikon utama subak yang diburu wisatawan. Keindahan dan keaslian lanskap pertaniannya bahkan mengantarkan desa ini meraih penghargaan Best Tourism Village dari UNWTO pada tahun 2024.

Baca juga: Mengenal Subak, Warisan Budaya Dunia yang Jadi Tema Indonesia Bertutur 2024

Berlokasi di lereng Gunung Batukaru, Desa Jatiluwih dikenal sebagai kawasan agraris dengan sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai petani. Begitu melewati gerbang tiket masuk, hamparan terasering yang memukau akan langsung menyambut pandangan wisatawan. Jika sedang musim penanaman, kerbau-kerbau gemuk juga akan berkeliaran membajak sawah-sawah yang ada di sana.

 

 

 

 

Subak Jatiluwih Bali (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Subak Jatiluwih Bali (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Lebih dari sekadar lanskap sawah yang menakjubkan, Jatiluwih menawarkan pengalaman yang lebih dalam. Di sinilah wisatawan bisa merasakan keseimbangan yang indah antara budaya lokal, keasrian alam, dan praktik wisata berkelanjutan.

Sistem irigasi bernama subak yang diterapkan di pertanian di kawasan ini memang berbeda dengan pertanian di wilayah lain. Sistem ini bukan cuma mengatur air, melainkan juga menata hubungan antara manusia dan alam. Semua dilakukan dengan prinsip keseimbangan yang kemudian juga menjadi filosofi hidup warga desa.

Pekaseh Subak Jatiluwih, I Wayan Mustra, mengatakan dengan bangga bahwa subak bukan sekadar sistem pengairan, melainkan filosofi. "Subak itu tentang kebersamaan. Tentang bagaimana manusia hidup selaras dengan alam dan Sang Pencipta," ungkapnya.

Filosofi yang menjadi roh subak ini dikenal dengan nama Tri Hita Karana — tiga jalan menuju kebahagiaan. Tiga hal itu adalah menjaga hubungan baik dengan Tuhan (Parahyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam sekitar (Palemahan). Semua diterapkan dalam praktik nyata, dari cara membagi air hingga doa bersama sebelum masa tanam dimulai.

Menariknya, semua pengaturan dilakukan oleh sosok pekaseh, pemuka adat yang memimpin komunitas subak. Ia bukan pejabat atau birokrat, melainkan petani yang dipercaya menjaga keseimbangan irigasi dan tradisi. Setiap keputusan, mulai dari jadwal tanam hingga upacara adat, diambil dengan musyawarah dan rasa saling menghormati.

Perpaduan antara pertanian dan budaya inilah yang menjadikan ekowisata Jatiluwih begitu istimewa. Dengan sistem teraseringnya yang berundak-undak, sawah Jatiluwih tidak hanya sumber pangan, tetapi barangkali juga karya seni yang hidup. Sebab, setiap lekukan tanah, aliran airnya, maupun hal-hal yang tumbuh di antaranya disusun dengan penuh filosofi.

Tak mengherankan bila keunikan ini membuat UNESCO menetapkan sistem subak sebagai Warisan Budaya Dunia. Pengakuan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bali, sekaligus pengingat bahwa harmoni kuno yang mereka jaga ternyata menjadi inspirasi global tentang keberlanjutan.

Berwisata di Jatuluwih menawarkan paket pengalaman yang lengkap. Wisatawan dapat menjelajahi area ini dengan jalur trekking yang tersedia. Ada rute singkat 20 menit hingga yang menantang selama 1,5 jam. Jika tak ingin berjalan kaki, sepeda-sepeda yang disewakan warga siap menemani wisatawan menyusuri jalan setapak di antara petak-petak sawah.

 

 

 

 

Subak Jatiluwih Bali (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Subak Jatiluwih Bali (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Keindahan Jatiluwih tak hanya terletak di sawahnya. Di sekitar desa, terbentang hutan lindung seluas 24 hektare yang menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik, termasuk burung langka dan kukang jawa.

Tak jauh dari area sawah, berdiri pula pura-pura suci yang menjadi pusat spiritual desa. Ada Pura Luhur Sri Rambut Sedana yang dipercaya membawa berkah kesuburan, dan Pura Ulun Siwi Candikuning yang menjadi tempat warga memohon kesejahteraan.

Menutup perjalanan di Jatiluwih, jangan lewatkan mencicipi teh beras merah. Berkat mutu hasil panennya, beras merah dari Jatiluwih juga diolah menjadi teh khas. Proses pembuatannya dimulai dari padi kering yang digiling untuk memisahkan kulitnya. Setelah beras merah bersih, butiran tersebut dipanggang di atas wajan tanah liat hingga matang sempurna, lalu dikemas dengan rapi.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Sambal Bakar Indonesia Group Agresif Garap Segmen FMCG Pasca Akuisisi Eat Sambel

BERIKUTNYA

Rayakan Sastra, FTI Jakarta Dibuka Adaptasi Y.B. Mangunwijaya, Ditutup Adaptasi Danarto

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga