Buku SCAM: Di Balik Industri Penipuan Siber Asia Tenggara. (Sumber gambar: Desyinta Nuraini/Hypeabis.id)

Buku SCAM Bongkar Praktik Penipuan Digital Hingga Kejahatan Kemanusiaan di Asia Tenggara

02 December 2025   |   21:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Penipuan kian masif dan menimbulkan kerugian finansial besar bagi para korban. Menurut data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), kerugian akibat penipuan digital menembus Rp8 triliun per tahun. Sepanjang 22 November 2024 hingga 21 November 2025, tercatat 360.541 laporan masuk, 112.680 rekening diblokir, dan Rp387,8 miliar dana dibekukan.

Kendati demikian, scam tidak hanya memberikan dampak pada finansial. Industri yang berjalan terorganisir ini bahkan menjadi tragedi kemanusiaan. Mungkin sudah banyak laporan media yang mengulas isu ini, tetapi tidak banyak yang mengupasnya secara tuntas mulai dari akar.

Baca juga: Ancaman Siber di Sektor Keuangan Semakin Kompleks, Kaspersky Ungkap Polanya

Buku berjudul SCAM: Di Balik Industri Penipuan Siber Asia Tenggara, karya trio peneliti Ivan Franceschini, Ling Li, dan Mark Bo mungkin bisa menjadi referensi yang tepat untuk mengenal lebih jauh fenomena scam. 

Menghadirkan investigasi mendalam yang membongkar lapisan-lapisan kompleks dari fenomena global ini, buku SCAM bukan sekadar laporan, melainkan upaya ambisius untuk menyajikan gambaran utuh tentang krisis yang melibatkan perdagangan manusia, eksploitasi buruh, hingga dinamika politik yang melindunginya. 

Para penulis tidak hanya mengumpulkan data dari laporan media dan literatur akademik, tetapi juga melakukan kerja lapangan ekstensif selama bertahun-tahun, terutama di Kamboja dan Myanmar. Mark Bo dan Ivan Franceschini, telah mengamati investasi China di Kamboja sejak awal 2010. 

Bo fokus pada dinamika politik serta dampak sosial dan lingkungan, sementara Franceschini secara khusus memperhatikan isu-isu terkait hak-hak buruh. Penulis ketiga, Ling Li, sejak 2022 telah berinteraksi secara intensif dengan 96 penyintas yang berhasil melarikan diri dari scam compound di Kamboja, Myanmar, dan Laos antara 2022 dan 2024.

Para penyintas ini berasal dari berbagai negara, mulai dari China daratan, Taiwan, Hong Kong, hingga negara-negara Asia Tenggara, Afrika (Uganda), bahkan Amerika Selatan (Brasil). 

Kisah mereka mewakili rentang usia yang beragam, dengan yang termuda baru berusia empat belas tahun, menunjukkan betapa luasnya jaring perdagangan manusia ini. Demi keamanan mereka, semua identitas dalam buku ini dirahasiakan, dan nama-nama yang muncul hanyalah samaran.

Wawancara-wawancara yang dikumpulkan Li, kemudian diperiksa silang dengan kesaksian dari praktisi lapangan dan jurnalis, memberikan dimensi kemanusiaan yang mendalam. Mereka bukan hanya angka, melainkan korban nyata yang dipaksa bekerja di bawah tekanan dan ancaman kekerasan.

Untuk mengungkap cara kerja operasional industri ini, para peneliti dalam buku ini juga melakukan penelusuran digital yang cermat. Mereka menyelami aplikasi pesan instan dan grup obrolan di Telegram yang digunakan kelompok kejahatan untuk rekrutmen. Di sana, mereka menemukan iklan lowongan kerja palsu, manual dan teknik-teknik penipuan yang digunakan, bahkan curahan hati dari para pekerja yang tidak puas.

Lebih jauh, buku ini mengungkap cara para perantara secara terbuka mengunggah "harga jual beli manusia dari berbagai kewarganegaraan" untuk ditawarkan ke perusahaan penipuan daring, menegaskan sifat industri ini sebagai perdagangan manusia modern. Bagian yang paling tajam dari buku ini adalah ketika ia mulai mengupas lapisan-lapisan kekuasaan. 

Franceschini, Li, dan Bo menelusuri aktivitas daring para pebisnis dan tokoh elite yang terhubung dengan scam compound. Mereka menemukan bagaimana tokoh-tokoh ini dengan bebas memamerkan kehadiran mereka di acara publik yang terkait dengan perusahaan penipuan, seperti upacara peletakan batu pertama properti atau pertemuan pribadi yang diselenggarakan tokoh ternama.

Bahkan, interaksi antara aktor negara setempat dan perusahaan-perusahaan yang terkait kejahatan kriminal sering terekam di media sosial. Foto-foto pejabat yang menerima sumbangan tunai atau barang dari perhimpunan filantropi yang berafiliasi dengan negara-negara tersebut, bersama dengan data daftar perusahaan lokal, secara tidak terduga mampu mengungkap jaringan korupsi dan hubungan politik yang memungkinkan industri gelap ini berkembang tanpa tersentuh.

SCAM: Di Balik Industri Penipuan Siber Asia Tenggara bisa menjadi bacaan wajib sebagai edukasi betapa gelapnya penipuan daring yang menjadi perantara perdagangan manusia.

Buku yang berisi 238 halaman ini sekaligus memaksa masyarakat untuk terbuka menghadapi kenyataan bahwa kejahatan siber bernilai miliaran dolar ini berakar kuat dalam dinamika politik dan jaringan korupsi di Asia Tenggara.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Awanio Perluas Ekspansi Layanan Cloud, Dorong Kemandirian Teknologi Regional

BERIKUTNYA

‘Rage Bait’ Dinobatkan sebagai Word of the Year 2025 oleh Oxford University Press

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga