Ilustrasi virus influenza. (Sumber gambar: National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Pola Penyebaran Virus Influenza Semakin Sulit Dideteksi, Orangtua Diminta Waspada

28 November 2025   |   09:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Peningkatan kasus influenza pada anak yang merebak di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pola yang baru. Penularannya terbilang lebih cepat dengan gejala yang lebih berat sehingga membuat lonjakan kunjungan pasien di rumah sakit. 

Spesialis Anak Eka Hospital Depok dr. Nadine Shakina Tabit, menerangkan influenza adalah infeksi akut yang menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Adapun influenza disebabkan oleh virus influenza yang terdiri dari tiga tipe, yakni tipe A, B, dan C. 

Baca juga: Mengenal Perbedaan Common Cold & Influenza, Penyakit Rawan di Musim Hujan

Adapun virus influenza tipe A dan tipe B yang menjadi perhatian para tenaga kesehatan saat ini. Virus influenza tipe A diketahui yang paling sering menyebabkan wabah musiman dengan penularan yang cepat dan memberikan dampak yang berat. Sementara virus influenza B, umumnya lebih ringan namun tetap menular. 

“Yang kita hadapi sekarang ini Flu Spanyol (virus influenza A subtipe H1N1), dia balik lagi, tapi dia bisa bermodifikasi menjadi Flu Asia,” ujarnya saat ditemui Hypeabis.id, beberapa waktu lalu. 

Ya, dalam pemantauan klinis belakangan ini, Influenza A terlihat mendominasi kasus dengan kecenderungan menimbulkan gejala lebih berat. Penyakit yang dulu dianggap “musiman” kini sulit ditebak. Penyebaran terjadi tidak hanya di puncak musim hujan atau sejumlah periode tertentu, melainkan sepanjang tahun dengan intensitas gelombang yang berubah-ubah. Ada dugaan bahwa pola pascapandemi, mobilitas masyarakat, dan perubahan iklim ikut memengaruhi dinamika virus.

Pola ini membuat dokter anak menghadapi tantangan baru. Alur penularan yang tidak lagi mengikuti ritme tahunan yang dapat diperkirakan, membuat jumlah pasien bisa meningkat tajam dalam waktu singkat. Dalam situasi demikian, kemampuan fasilitas kesehatan dalam menangani kasus juga diuji, terutama saat jumlah anak yang membutuhkan perhatian khusus bertambah.
 

Spesialis Anak Eka Hospital Depok dr. Nadine Shakina Tabit. (Sumber gambar: Desyinta Nuraini/Hypeabis.id)

Spesialis Anak Eka Hospital Depok dr. Nadine Shakina Tabit. (Sumber gambar: Desyinta Nuraini/Hypeabis.id)

Fenomena influenza yang tengah berlangsung ini lantas menuntut kewaspadaan lebih tinggi. Orang tua disarankan untuk memperhatikan beberapa indikator penting pada anak, seperti anak mengalami demam yang tidak mereda setelah tiga hari, napas cepat atau tampak terengah, muntah berulang, atau kondisi tubuh yang sangat lemas. 

Balita dan anak dengan riwayat kejang demam juga perlu menjadi perhatian khusus. Dalam banyak kasus, penanganan dini berperan penting dalam mencegah komplikasi. Ketika orang tua mengenali tanda-tanda perburukan sejak awal, penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat, sehingga risiko rawat inap dapat ditekan. 

Nadine menjelaskan bahwa influenza A ini memiliki risiko yang buruk terutama terhadap kesehatan bayi. Adapun masalah yang dihadapi pasien biasanya meliputi otitis media (infeksi telinga) yang bisa berdampak pada gangguan saraf, dan paling berbahaya adalah pneumonia. 

“Pada bayi itu gampang banget untuk dia lebih menjadi berat. Bahkan dia bisa sampai komplikasi ke pneumonia, ke otaknya juga bisa, bahkan ke jantung kan juga sebenarnya bisa,” jelasnya. 

Oleh karena itu, Nadine berharap masyarakat semakin waspada dan tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan ketika anak demam lebih dari tiga hari atau tampak tidak seperti biasanya. Para orang tua juga disarankan memberikan vaksin influenza pada anak. 

“Vaksin influenza bisa mengurangi risiko sakit berat dan komplikasi. Tidak mencegah 100 persen, tapi sangat signifikan,” tegasnya. 

Vaksin ini sudah bisa diberikan mulai usia 6 bulan dan perlu diulang setiap tahun karena virus influenza terus bermutasi. Negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi, katanya terbukti memiliki tingkat rawat inap yang lebih rendah.

Selain itu, ajarkan pada anak untuk rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Terapkan etika batuk dan bersin. Lalu, jaga pola hidup seimbang dengan tidur cukup, mengonsumsi gizi seimbang, serta aktivitas fisik teratur untuk meningkatkan imun tubuh. Terakhir, hindari kerumunan saat anak sedang sakit. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Nyanyi Bali Group Kembangkan Restoran Fine Dining & Properti Berkelanjutan

BERIKUTNYA

Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga