Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025
28 November 2025 |
13:46 WIB
Di tengah riuhnya Pertamina SMEXPO 2025 di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan, yang berlangsung 25-30 November 2025, berbagai stand UMKM menampilkan produk-produk unggulannya. Dari kuliner lokal hingga kerajinan kreatif, suasana terasa auntusias dalam memasarkan brand ciptaan mereka.
Di antara keramaian itu, sebuah booth dengan deretan mukena dan kerudung premium berwarna lembut tampak menarik perhatian pengunjung. Jahitannya rapi, rata-rata bermotif bunga yang elegan, dan setiap produk memiliki karakter berbeda.
Di balik karya-karya tersebut adalah Adabina Scarves, sebuah UKM asal Jakarta yang lahir bukan dari proses produksi besar-besaran, melainkan dari tangan-tangan terampil dan dedikasi tinggi untuk menghadirkan produk modest fashion yang nyaman, stylish, dan berkualitas.
Baca juga: Kerajinan Denim Daur Ulang Jagat Craft Jogja Bawa Identitas Budaya ke SMEXPO 2025
Henni Danasuoro (53), pemilik Adabina Scarves, menyambut setiap pengunjung dengan ramah. Perjalanan bisnisnya tidak dimulai dari industri besar, melainkan dari perannya sebagai ibu rumah tangga yang ingin membantu perempuan Indonesia tetap tampil cantik, modis, namun tetap menutup aurat dengan baik. “Saya ingin wanita Indonesia tetap cantik dan modis, tapi nyaman ketika beribadah,” ujarnya.
Henni menjelaskan bahwa seluruh mukena dan kerudung di Adabina Scarves didesain dan diproduksi sendiri. Ia memilih bahan-bahan premium agar penggunanya merasa betah, nyaman, dan tetap stylish. Untuk kerudung, dia menggunakan bahan foil premium yang adem, sedangkan mukena dibuat dari katun berkualitas tinggi dan beberapa varian lainnya, termasuk paris Jepang yang lembut dan jatuh.
Setiap bulan, Henni memperbarui motif kerudung dengan desain baru agar pelanggan selalu memiliki pilihan yang segar. Hal ini menjadikan Adabina Scarves dikenal sebagai brand yang menghadirkan motif unik, eksklusif, dan tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Salah satu produk yang paling diminati adalah Mukena Travel—ukuran kecil saat dilipat, tetapi tetap besar saat dipakai. Produk ini dilengkapi dengan cantelan kecil sehingga mudah digantung di tas, seperti gantungan aksesori atau big charm. “Lebih nyaman kalau bawa mukena sendiri, lebih bersih dan lebih yakin,” jelasnya.
Dalam proses kreatif, Henni kerap melakukan brainstorming dan menerima masukan dari pelanggan. Desain yang terus diperbarui inilah yang menjadi kekuatan Adabina Scarves. Namun, tantangannya tidak kecil. Sumber daya manusia menjadi salah satu kendala utama tukang jahit atau tukang potong yang tiba-tiba resign membuatnya harus terus melatih orang baru dari awal. Henni sangat selektif dalam memilih penjahit, karena ia mengutamakan kualitas jahitan halus dan rapi, bukan sekadar cepat selesai.
Saat ini, produksi Adabina Scarves ditangani empat orang penjahit. Ketika permintaan meningkat, mereka mampu menghasilkan hingga 60 produk per hari, terutama menjelang Ramadan ketika permintaan hampers mukena dan kerudung melonjak signifikan.
Meski produk dan kualitasnya kuat, Henni mengakui bahwa kendala terbesar lain terletak pada pemasaran online. Ia belum menemukan admin yang telaten untuk mengelola e-commerce atau melakukan live shopping secara konsisten. Namun ia menyadari pentingnya adaptasi digital dan terus belajar agar brand-nya tetap relevan mengikuti perkembangan zaman.
Baca juga: Batik Mierto (Poenja) Tampilkan Wastra Premium Bernuansa Kekinian di SMEXPO 2025
Henni juga menuturkan bahwa bergabung dengan Pertamina melalui kurasi UMKM memberi dampak besar bagi perkembangan usahanya. Ia diundang ke berbagai pameran, termasuk SMEXPO dan Trade Expo Indonesia (TEI), yang memperluas koneksi serta meningkatkan penjualan. “Banyak pelatihan dan peluang yang diberikan. Pertamina luar biasa dalam mendampingi UMKM,” tuturnya.
Ke depan, Henni berharap Adabina Scarves dapat semakin berkembang, memperluas pasar, menguatkan pemasaran digital, dan menembus lebih banyak peluang global. Dengan konsistensi, kualitas tinggi, dan dukungan yang tepat, ia optimis brand-nya dapat terus bersaing di dunia modest fashion.
Adabina Scarves merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Di antara keramaian itu, sebuah booth dengan deretan mukena dan kerudung premium berwarna lembut tampak menarik perhatian pengunjung. Jahitannya rapi, rata-rata bermotif bunga yang elegan, dan setiap produk memiliki karakter berbeda.
Di balik karya-karya tersebut adalah Adabina Scarves, sebuah UKM asal Jakarta yang lahir bukan dari proses produksi besar-besaran, melainkan dari tangan-tangan terampil dan dedikasi tinggi untuk menghadirkan produk modest fashion yang nyaman, stylish, dan berkualitas.
Baca juga: Kerajinan Denim Daur Ulang Jagat Craft Jogja Bawa Identitas Budaya ke SMEXPO 2025
Henni Danasuoro (53), pemilik Adabina Scarves, menyambut setiap pengunjung dengan ramah. Perjalanan bisnisnya tidak dimulai dari industri besar, melainkan dari perannya sebagai ibu rumah tangga yang ingin membantu perempuan Indonesia tetap tampil cantik, modis, namun tetap menutup aurat dengan baik. “Saya ingin wanita Indonesia tetap cantik dan modis, tapi nyaman ketika beribadah,” ujarnya.
Henni menjelaskan bahwa seluruh mukena dan kerudung di Adabina Scarves didesain dan diproduksi sendiri. Ia memilih bahan-bahan premium agar penggunanya merasa betah, nyaman, dan tetap stylish. Untuk kerudung, dia menggunakan bahan foil premium yang adem, sedangkan mukena dibuat dari katun berkualitas tinggi dan beberapa varian lainnya, termasuk paris Jepang yang lembut dan jatuh.
Setiap bulan, Henni memperbarui motif kerudung dengan desain baru agar pelanggan selalu memiliki pilihan yang segar. Hal ini menjadikan Adabina Scarves dikenal sebagai brand yang menghadirkan motif unik, eksklusif, dan tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Salah satu produk yang paling diminati adalah Mukena Travel—ukuran kecil saat dilipat, tetapi tetap besar saat dipakai. Produk ini dilengkapi dengan cantelan kecil sehingga mudah digantung di tas, seperti gantungan aksesori atau big charm. “Lebih nyaman kalau bawa mukena sendiri, lebih bersih dan lebih yakin,” jelasnya.
Dalam proses kreatif, Henni kerap melakukan brainstorming dan menerima masukan dari pelanggan. Desain yang terus diperbarui inilah yang menjadi kekuatan Adabina Scarves. Namun, tantangannya tidak kecil. Sumber daya manusia menjadi salah satu kendala utama tukang jahit atau tukang potong yang tiba-tiba resign membuatnya harus terus melatih orang baru dari awal. Henni sangat selektif dalam memilih penjahit, karena ia mengutamakan kualitas jahitan halus dan rapi, bukan sekadar cepat selesai.
Saat ini, produksi Adabina Scarves ditangani empat orang penjahit. Ketika permintaan meningkat, mereka mampu menghasilkan hingga 60 produk per hari, terutama menjelang Ramadan ketika permintaan hampers mukena dan kerudung melonjak signifikan.
Meski produk dan kualitasnya kuat, Henni mengakui bahwa kendala terbesar lain terletak pada pemasaran online. Ia belum menemukan admin yang telaten untuk mengelola e-commerce atau melakukan live shopping secara konsisten. Namun ia menyadari pentingnya adaptasi digital dan terus belajar agar brand-nya tetap relevan mengikuti perkembangan zaman.
Baca juga: Batik Mierto (Poenja) Tampilkan Wastra Premium Bernuansa Kekinian di SMEXPO 2025
Henni juga menuturkan bahwa bergabung dengan Pertamina melalui kurasi UMKM memberi dampak besar bagi perkembangan usahanya. Ia diundang ke berbagai pameran, termasuk SMEXPO dan Trade Expo Indonesia (TEI), yang memperluas koneksi serta meningkatkan penjualan. “Banyak pelatihan dan peluang yang diberikan. Pertamina luar biasa dalam mendampingi UMKM,” tuturnya.
Ke depan, Henni berharap Adabina Scarves dapat semakin berkembang, memperluas pasar, menguatkan pemasaran digital, dan menembus lebih banyak peluang global. Dengan konsistensi, kualitas tinggi, dan dukungan yang tepat, ia optimis brand-nya dapat terus bersaing di dunia modest fashion.
Adabina Scarves merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.