Menafsir Indonesia melalui Seni Rupa Satu Tanah, Seribu Ketangguhan
27 November 2025 |
11:00 WIB
Seni rupa tak pernah berdiri sendirian. Dia merekam denyut masyarakat, mencatat perubahan zaman, dan menyuarakan kegelisahan kolektif. Para seniman juga tidak hanya memamerkan estetika, tetapi merangkum memori, luka, dan harapan masyarakat Indonesia.
Keragaman ekspresi tersebut terekam dalam puluhan karya seni rupa pada pameran Satu Tanah, Seribu Ketangguhan di Bentara Budaya Jakarta. Berlangsung pada 20 hingga 29 September 2025, pameran ini menampilkan 40 karya dari 27 seniman Tanah Air.
Baca juga: Mengintip Jejak Tekstil Nusantara dalam Pameran Sandang Sanding Agraria
Dikuratori Hilmi Faiq, pameran ini menegaskan bagaimana Indonesia mampu bertahan dan terus tumbuh selama 80 tahun melalui gotong royong, solidaritas, dan cinta Tanah Air. Termasuk daya tahan kolektif dalam menghadapi sejarah panjang perjuangan hingga masa kini.
Sebanyak 40 karya yang ditampilkan terdiri dari lukisan, keramik, drawing, instalasi, dan grafis. Karya-karya tersebut menghadirkan tafsir visual tentang sejarah masyarakat Indonesia bersatu, memperjuangkan kemerdekaan, dan mempertahankannya sampai sekarang.
Senarai tema tersebut misalnya tertuang dalam karya berjudul Sarang Penyamun, Sarang Penyayang (2025). Terdiri dari tiga panel, karya Setiyoko Hadi ini menampilkan citra hutan yang rusak dan burung-burung yang kehilangan sarangnya akibat pembalakan liar.
Namun di depan lukisan, sang seniman juga menghadirkan instalasi sarang burung. Publik dapat menuliskan harapan mereka pada batu putih kecil yang dibentuk lonjong seperti telur burung sebagai simbol masa depan yang lebih baik.
“Instalasi ini saya beri nama Sarang Penyayang, yang menjadi lawan dari Sarang Penyamun. Ini untuk mengajak penonton berinteraksi dengan menulis telur sebagai simbol benih dan harapan,” katanya.
Seniman Walid Basalamah membawa pendekatan berbeda. Perupa yang kini bermukim di Depok, Jawa Barat, itu memamerkan karya berjudul Optimisme Geometrik (2025) yang menempatkan Tanah Air sebagai ruang spiritual dan sosial, tempat bangsa Indonesia menanam harapan sekaligus menyusun kehidupan.
Bermedium cetak saring di atas tas kertas, karya berdimensi 40 x 60 sentimeter ini menghadirkan susunan bidang dan warna yang membentuk imaji flora fauna, arsitektur, dan pola yang menyimbolkan Nusantara. Di bagian bawah terdapat pola kubus yang menandakan fondasi sosial.
Perupa Adi Dharma atau Stereoflow juga menghadirkan karya berjudul Off Beat Harmony (2025). Dia menggunakan warna-warna yang saling tumpang tindih tetapi justru melahirkan keserasian. Garis-garis tegas yang lurus dan menyiku dia timpa dengan garis lengkung dan guratan yang memburai.
Spontanitas juga hadir lewat sapuan spray paint yang mencerminkan naik turunnya kondisi sosial politik Indonesia. Dari sepilihan karyanya yang terkesan abstrak, Stereoflow seperti sedang menciptakan harmoni dari keacakan ritme, layaknya sebuah komposisi dengan cara yang jujur.
Kurator Hilmi Faiq mengatakan pameran ini dirancang untuk merayakan beragam lapisan pengalaman manusia Indonesia. Setiap karya merepresentasikan lanskap yang dibentuk oleh peristiwa sejarah, memori komunal, trauma yang disembuhkan, dan harapan yang terus tumbuh.
Tajuk “Tanah” diposisikan bukan sebagai objek visual semata tetapi simbol kehidupan yang menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menurut Hilmi, ketangguhan Indonesia selalu lahir dari hal-hal yang sederhana seperti gotong royong dan sikap tolong menolong.
“Tanah adalah tubuh bersama. Dia menyimpan ingatan purba tentang siapa kita, dari mana kita tumbuh, dan bagaimana kita saling menguatkan sebagai bangsa,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa seni rupa memiliki peranan penting sebagai media pemersatu bangsa. Karena itu pihaknya terus memperkuat ekosistem seni rupa sebagai bagian dari usaha pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
Fadli juga mendorong agar kegiatan seni rupa diperbanyak sehingga karya para perupa mendapatkan apresiasi di panggung nasional maupun internasional. Usaha memajukan kebudayaan nasional, katanya, merupakan tanggung jawab bersama.
“Di tengah peradaban ini, kita harus mendorong semangat kebudayaan Indonesia sehingga karya-karya perupa bisa lebih muncul, dikenal, dan mendapatkan apresiasi di panggung seni rupa nasional maupun dunia,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Keragaman ekspresi tersebut terekam dalam puluhan karya seni rupa pada pameran Satu Tanah, Seribu Ketangguhan di Bentara Budaya Jakarta. Berlangsung pada 20 hingga 29 September 2025, pameran ini menampilkan 40 karya dari 27 seniman Tanah Air.
Baca juga: Mengintip Jejak Tekstil Nusantara dalam Pameran Sandang Sanding Agraria
Dikuratori Hilmi Faiq, pameran ini menegaskan bagaimana Indonesia mampu bertahan dan terus tumbuh selama 80 tahun melalui gotong royong, solidaritas, dan cinta Tanah Air. Termasuk daya tahan kolektif dalam menghadapi sejarah panjang perjuangan hingga masa kini.
Sebanyak 40 karya yang ditampilkan terdiri dari lukisan, keramik, drawing, instalasi, dan grafis. Karya-karya tersebut menghadirkan tafsir visual tentang sejarah masyarakat Indonesia bersatu, memperjuangkan kemerdekaan, dan mempertahankannya sampai sekarang.
Senarai tema tersebut misalnya tertuang dalam karya berjudul Sarang Penyamun, Sarang Penyayang (2025). Terdiri dari tiga panel, karya Setiyoko Hadi ini menampilkan citra hutan yang rusak dan burung-burung yang kehilangan sarangnya akibat pembalakan liar.
Namun di depan lukisan, sang seniman juga menghadirkan instalasi sarang burung. Publik dapat menuliskan harapan mereka pada batu putih kecil yang dibentuk lonjong seperti telur burung sebagai simbol masa depan yang lebih baik.
“Instalasi ini saya beri nama Sarang Penyayang, yang menjadi lawan dari Sarang Penyamun. Ini untuk mengajak penonton berinteraksi dengan menulis telur sebagai simbol benih dan harapan,” katanya.

Dari Kiri: Karya Seniman Walid Basalamah, berjudul Optimisme Geometrik (2025) , dan Stereoflow berjudul Off Beat Harmony (2025) dalam pameran Satu Tanah, Seribu Ketangguhan di Bentara Budaya Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Seniman Walid Basalamah membawa pendekatan berbeda. Perupa yang kini bermukim di Depok, Jawa Barat, itu memamerkan karya berjudul Optimisme Geometrik (2025) yang menempatkan Tanah Air sebagai ruang spiritual dan sosial, tempat bangsa Indonesia menanam harapan sekaligus menyusun kehidupan.
Bermedium cetak saring di atas tas kertas, karya berdimensi 40 x 60 sentimeter ini menghadirkan susunan bidang dan warna yang membentuk imaji flora fauna, arsitektur, dan pola yang menyimbolkan Nusantara. Di bagian bawah terdapat pola kubus yang menandakan fondasi sosial.
Perupa Adi Dharma atau Stereoflow juga menghadirkan karya berjudul Off Beat Harmony (2025). Dia menggunakan warna-warna yang saling tumpang tindih tetapi justru melahirkan keserasian. Garis-garis tegas yang lurus dan menyiku dia timpa dengan garis lengkung dan guratan yang memburai.
Spontanitas juga hadir lewat sapuan spray paint yang mencerminkan naik turunnya kondisi sosial politik Indonesia. Dari sepilihan karyanya yang terkesan abstrak, Stereoflow seperti sedang menciptakan harmoni dari keacakan ritme, layaknya sebuah komposisi dengan cara yang jujur.
Kurator Hilmi Faiq mengatakan pameran ini dirancang untuk merayakan beragam lapisan pengalaman manusia Indonesia. Setiap karya merepresentasikan lanskap yang dibentuk oleh peristiwa sejarah, memori komunal, trauma yang disembuhkan, dan harapan yang terus tumbuh.
Tajuk “Tanah” diposisikan bukan sebagai objek visual semata tetapi simbol kehidupan yang menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menurut Hilmi, ketangguhan Indonesia selalu lahir dari hal-hal yang sederhana seperti gotong royong dan sikap tolong menolong.
“Tanah adalah tubuh bersama. Dia menyimpan ingatan purba tentang siapa kita, dari mana kita tumbuh, dan bagaimana kita saling menguatkan sebagai bangsa,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa seni rupa memiliki peranan penting sebagai media pemersatu bangsa. Karena itu pihaknya terus memperkuat ekosistem seni rupa sebagai bagian dari usaha pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
Fadli juga mendorong agar kegiatan seni rupa diperbanyak sehingga karya para perupa mendapatkan apresiasi di panggung nasional maupun internasional. Usaha memajukan kebudayaan nasional, katanya, merupakan tanggung jawab bersama.
“Di tengah peradaban ini, kita harus mendorong semangat kebudayaan Indonesia sehingga karya-karya perupa bisa lebih muncul, dikenal, dan mendapatkan apresiasi di panggung seni rupa nasional maupun dunia,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.