Sarinah (kiri) memintal kapas dalam pembukaan seteleng “Sandang Sanding Agraria” di WTC 3, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Mengintip Jejak Tekstil Nusantara dalam Pameran Sandang Sanding Agraria

25 November 2025   |   13:21 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sarinah tampak khusyuk memintal kapas di depan puluhan pengunjung muda yang penasaran sekaligus takjub. Duduk menggelesor di lantai, tangan kanannya memutar jantra, sementara tangan kirinya naik turun mengikuti putaran roda agar gulungan kapas tidak terputus.

Perempuan berusia 40 tahun itu, barangkali hanyalah satu dari sedikit penenun yang masih setia melestarikan tradisi tenun gedog, asal Tuban, Jawa Timur. Prosesnya menuntut kesabaran tinggi, dari memintal kapas hingga menenun benang yang telah dikuatkan dengan tepung kanji.

Baca juga: Membongkar Kuasa di Balik Pengetahuan dalam Pameran Tiba Tanpa Berangkat

Untuk menghasilkan kain sepanjang tiga meter, Sarinah membutuhkan waktu tiga hingga empat hari, bekerja sejak pagi hingga sore. "Menenun kain ini saya lakukan kalau tidak ikut membantu panen tetangga,” ujarnya.

Di tengah gempuran fast fashion, jemari Sarinah mengingatkan bahwa sehelai kain tradisional lahir dari kesabaran, bukan mesin waktu. Bagi masyarakat Kerek, menenun dan membatik memang menjadi pekerjaan sampingan kaum perempuan.

Padahal, jika menilik ke masa silam, kawasan ini pernah menjadi salah satu sentra penghasil kain batik tenun bermutu tinggi, konon sejak era Dinasti Song. Kini, peluang untuk menghidupkan kembali tradisi pembuatan kain tenun itu dicoba oleh Yayasan Sekar Kawung. 

Berkolaborasi dengan ISA Art Design, mereka menghadirkan pameran yang menelusuri sandang sebagai sistem pengetahuan hidup yang terbentuk dari siklus pertanian, praktik kerajinan, dan relasi manusia dengan alam dalam seteleng “Sandang Sanding Agraria” hingga 9 Januari 2026, di WTC 3, Jakarta.
 
 

Menurut Chandra Kirana, pendiri Sekar Kawung sekaligus kurator pameran, praktik tenun dan batik di Tuban tidak terpisahkan dari falsafah agraria. “Dia bukan sekadar pekerjaan, melainkan simbol identitas, ritual, dan solidaritas yang mencerminkan harmoni antara manusia dan alam,” ujarnya.

Dalam pameran ini, sejumlah karya menelusuri keterhubungan antara tanah, tanaman, dan tubuh manusia. Benang, kapas, dan warna alami dihadirkan bukan hanya sebagai bahan, tetapi sebagai jejak hubungan agraria yang membentuk kebudayaan sandang Nusantara.

Salah satunya adalah kain tenun bermotif Intip Iyan, terinspirasi dari iyan, anyaman bambu yang digunakan untuk menjemur kerak nasi. Motif ini menggambarkan keterhubungan antara keanekaragaman hayati dan budaya lokal. Ada pula batik Bajra Tolak Bala, kain tradisional yang digunakan sebagai penolak bala ketika desa dilanda wabah atau bencana.

Berbeda dari batik pada umumnya, kain tenun batik gedog memiliki tekstur kasar karena benang katunnya tebal. Kombinasi antara tenun dan batik tulis ini menciptakan karakter khas yang menuntut ketelitian ekstra karena pori-pori kain lebih lebar.

Chandra menuturkan, tradisi membatik di Tuban telah berlangsung jauh sebelum masa kolonialisme. Hingga kini, wilayah ini menjadi satu-satunya desa di Jawa yang masih membatik di atas kain hasil tenunan sendiri, dari benang yang dipintal sendiri, serta kapas yang ditanam di tanah sendiri.
 

Sejumlah karya dalam pameran

Sejumlah karya dalam pameran “Sandang Sanding Agraria”, di WTC 3, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Namun, situasi itu berubah sejak masa VOC. Ketika perdagangan global menguat, hubungan antara petani kapas, pemintal benang, dan pembatik di Jawa mulai terputus. VOC secara masif membeli benang pintal tangan dari Jawa untuk diekspor ke Belanda, lalu menenunnya menjadi kain halus di sana.

Sejak saat itu, batik tidak lagi dibuat di atas kain hasil tenunan lokal, melainkan di atas kain mori buatan pabrik yang dipasok oleh VOC. “Maka, wajar bila hingga kini batik identik dengan kain mori, warisan sistem produksi kolonial yang mengubah rantai tradisi dari sawah hingga wastra,” katanya.


Warisan Tekstil Nusantara

Berdiri sejak 2015, Sekar Kawung aktif mengangkat warisan tekstil Indonesia melalui pameran-pameran yang menyoroti dimensi sejarah, seni, dan budaya. Fokus mereka adalah menciptakan rantai nilai di tingkat desa, agar masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah pertanian seperti kapas atau kacang, tetapi memperoleh nilai tambah dari proses kreatif.

Di Tuban, mereka berupaya merestorasi sistem tekstil berkelanjutan dari hulu ke hilir, mulai dari petani kapas hingga perajin tenun. Namun, tidak semua proses tradisional harus dipertahankan apa adanya. Sekar Kawung mencari keseimbangan antara pelestarian dan inovasi, termasuk mengganti tahapan produksi yang berisiko bagi kesehatan tanpa mengurangi nilai artistiknya.

Di tengah gelombang fast fashion, Chandra mengingatkan bahwa kapitalisme kerap hanya menguntungkan segelintir pihak. Karena itu, Sekar Kawung menempuh jalur ekonomi berkeadilan, mengukur keuntungan dari kesejahteraan petani dan perajin, bukan sekadar omzet perusahaan. “Profit kita adalah ketika petani menambah penghasilan,” ujarnya.

Fenomena itu dirasakan langsung oleh Sarinah. Sejak bekerja sama dengan Sekar Kawung pada 2020, dia mengaku kehidupannya membaik. Harga kain meningkat, pembayaran lebih pasti, bahkan dia terbantu ketika anaknya sakit. Meski begitu, dia kerap tidak tahu untuk apa kain yang dia hasilkan digunakan, apakah menjadi busana, batik, atau karya seni.

Barangkali di situlah benang merah pameran ini menemukan maknanya. Sandang Sanding Agraria menghubungkan kembali yang terputus. Dari kapas ke kain, dari tanah ke tubuh, dari tangan perajin ke kesadaran kita sebagai pemakai untuk melihat kekuatan ekonomi desa yang berakar pada budaya sandang.

Sebab di setiap helaian tenun gedog tersimpan bukan hanya tradisi, tetapi juga cara hidup yang menautkan kembali manusia dengan alam. Seperti Sarinah yang di sela menenun ikut memanen kacang dan mengolahnya menjadi produk bernilai, mencerminkan keberlanjutan yang hidup dalam keseharian. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Bintang Peter Pan Jeremy Sumpter dan Rachel Hurd-Wood Reuni di Film Strawberry Roan

BERIKUTNYA

Gelombang Panas & Udara Kotor, Tantangan Baru untuk Kesehatan Kulit

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga