Podcast Mengubah Cara Generasi Muda Konsumsi Media
25 November 2025 |
14:30 WIB
Di tengah gempuran dunia digital, podcast sepertinya menjelma salah satu medium paling sering didengar anak muda. Siniar yang dulu cuma dianggap hobi segelintir kreator itu, kiwari naik kelas jadi fenomena budaya dan ladang baru buat para pelaku industri kreatif di Indonesia.
Menurut laporan Populix Podcast Trends 2024, lebih dari 60 persen responden di Indonesia kini rutin mendengarkan podcast setiap minggu. Kategori yang paling populer adalah hiburan, edukasi, dan talk show yang menghadirkan figur publik.
Baca juga: Survei: 45 Persen Gen Z Dengarkan Podcast Lebih dari 1 Jam per Hari
Namun, perubahan paling besar justru terjadi pada format. Masyarakat kini lebih memilih podcast berbentuk video dibandingkan hanya audio. Pergeseran ini terjadi seiring meningkatnya konsumsi konten visual di platform seperti YouTube, TikTok, dan Spotify Video.
Menurut Indah Tanip, VP of Research Populix, minat terhadap video podcast melonjak tajam dalam setahun terakhir. “Bahkan jika dibandingkan dengan data Populix tahun 2023, penikmat podcast format audio saja berkurang lebih dari setengahnya,” ujarnya.
Dua dari tiga penikmat video podcast menonton konten dari awal hingga akhir. Sebagian lainnya juga lebih selektif, atau hanya menonton bila bintang tamunya menarik. Hal inilah, papar Indah, yang menunjukkan bahwa daya tarik utama podcast ada pada narasumber dan keaslian cerita.
Lebih lanjut dia menjelaskan, podcast saat ini juga menjadi medium alternatif yang menjembatani dunia hiburan dan informasi. Banyak jenama kini menggunakan podcast sebagai strategi komunikasi baru untuk membangun narasi yang lebih personal.
“Pendengar menginginkan percakapan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Podcast memberi ruang bagi mereka dan figur publik untuk tampil lebih manusiawi, bukan sekadar menjual produk," imbuhnya.
Fenomena ini juga sejalan dengan hasil riset YouGov Indonesia yang menunjukkan perubahan besar perilaku konsumsi media lintas generasi. Laporan yang melibatkan lebih dari 1.000 responden ini menemukan bahwa Gen Z menjadi penggerak utama pergeseran media di Indonesia.
Berdasarkan Media Consumption Report 2025, Gen Z cenderung menghabiskan waktu lebih lama di dunia digital. Sebanyak 16 persen Gen Z mengonsumsi media lebih dari lima jam per hari pada hari kerja, dan 23 persen pada akhir pekan. Mereka mencari pengalaman media yang lebih personal dan interaktif.
General Manager YouGov Indonesia & India, Edward Hutasoit, mengatakan sekitar 45 persen Gen Z di Indonesia mendengarkan podcast lebih dari satu jam per hari. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menunjukkan bagaimana audio menjadi ruang eksplorasi sekaligus refleksi bagi generasi muda.
Data YouGov juga menunjukkan bahwa podcast tumbuh pesat karena menawarkan kedalaman, bukan sekadar distraksi. Pendengar muda lebih tertarik pada percakapan jujur dan ide autentik ketimbang iklan atau hiburan permukaan.
“Di lanskap media yang semakin terpecah, konsumsi media kini menjadi pengalaman yang aktif dan emosional. Memahami kapan, di mana, dan mengapa masyarakat berinteraksi dengan media adalah kunci membangun koneksi yang relevan," katanya.
Menariknya, audio kini tidak lagi berdiri sendiri. Sebagian besar pengguna media sosial melakukan multitasking lintas media, di mana mereka bisa mendengarkan podcast sambil menonton klip singkat, membaca komentar, atau bahkan berbelanja daring.
Edward menjelaskan, Spotify masih menjadi platform audio paling dominan di Indonesia dengan 81 persen pengguna aktif, sepuluh kali lebih tinggi dibanding Apple Music di posisi kedua. Fenomena ini, paparnya, juga memperlihatkan kuatnya ekosistem streaming lokal yang digerakkan oleh anak muda.
Namun daya tarik podcast tak hanya berhenti pada hiburan semata. Banyak lembaga dan komunitas sosial mulai memanfaatkan format ini untuk menyampaikan isu-isu penting dengan cara yang ringan dan relevan bagi pendengar muda.
Keberagaman format baik wawancara, narasi dokumenter, hingga podcast berita, juga membuka ruang bagi profesi kreatif seperti penulis naskah, produser audio, editor, hingga sound designer. Momen ini digadang menciptakan rantai ekonomi baru di sektor konten digital.
Walakin, meski peluangnya besar, tantangan di balik industri ini tetap ada. Persaingan yang ketat membuat kualitas produksi dan konsistensi menjadi kunci. Pendengar cepat berpindah bila kualitas audio buruk atau pembahasan tidak menarik.
Sementara itu, monetisasi masih menjadi pekerjaan rumah. Menurut Edward, sebagian besar kreator di Indonesia masih mengandalkan sponsor atau kolaborasi merek, sementara sistem pendapatan berbasis langganan masih berkembang di Indonesia.
Namun arah industri ini diprediksi terus positif. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan populasi muda yang besar, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pasar podcast terbesar di Asia Tenggara.
“Dari perubahan preferensi platform hingga meningkatnya perilaku multi-screen, kami melihat sinyal jelas tentang arah audiens ke depan. Tantangan sekaligus peluangnya adalah menerjemahkan wawasan ini menjadi strategi konten yang cerdas dan inklusif," kata Edward.
Podcast kini bukan sekadar media alternatif, melainkan ruang dialog yang membangun identitas budaya baru. Dalam setiap episode, tersimpan potensi untuk memperkuat ekosistem kreatif nasional melalui suara yang jujur, orisinal, dan dekat dengan pendengar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut laporan Populix Podcast Trends 2024, lebih dari 60 persen responden di Indonesia kini rutin mendengarkan podcast setiap minggu. Kategori yang paling populer adalah hiburan, edukasi, dan talk show yang menghadirkan figur publik.
Baca juga: Survei: 45 Persen Gen Z Dengarkan Podcast Lebih dari 1 Jam per Hari
Namun, perubahan paling besar justru terjadi pada format. Masyarakat kini lebih memilih podcast berbentuk video dibandingkan hanya audio. Pergeseran ini terjadi seiring meningkatnya konsumsi konten visual di platform seperti YouTube, TikTok, dan Spotify Video.
Menurut Indah Tanip, VP of Research Populix, minat terhadap video podcast melonjak tajam dalam setahun terakhir. “Bahkan jika dibandingkan dengan data Populix tahun 2023, penikmat podcast format audio saja berkurang lebih dari setengahnya,” ujarnya.
Dua dari tiga penikmat video podcast menonton konten dari awal hingga akhir. Sebagian lainnya juga lebih selektif, atau hanya menonton bila bintang tamunya menarik. Hal inilah, papar Indah, yang menunjukkan bahwa daya tarik utama podcast ada pada narasumber dan keaslian cerita.
Lebih lanjut dia menjelaskan, podcast saat ini juga menjadi medium alternatif yang menjembatani dunia hiburan dan informasi. Banyak jenama kini menggunakan podcast sebagai strategi komunikasi baru untuk membangun narasi yang lebih personal.
“Pendengar menginginkan percakapan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Podcast memberi ruang bagi mereka dan figur publik untuk tampil lebih manusiawi, bukan sekadar menjual produk," imbuhnya.
Fenomena ini juga sejalan dengan hasil riset YouGov Indonesia yang menunjukkan perubahan besar perilaku konsumsi media lintas generasi. Laporan yang melibatkan lebih dari 1.000 responden ini menemukan bahwa Gen Z menjadi penggerak utama pergeseran media di Indonesia.
Berdasarkan Media Consumption Report 2025, Gen Z cenderung menghabiskan waktu lebih lama di dunia digital. Sebanyak 16 persen Gen Z mengonsumsi media lebih dari lima jam per hari pada hari kerja, dan 23 persen pada akhir pekan. Mereka mencari pengalaman media yang lebih personal dan interaktif.
General Manager YouGov Indonesia & India, Edward Hutasoit, mengatakan sekitar 45 persen Gen Z di Indonesia mendengarkan podcast lebih dari satu jam per hari. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menunjukkan bagaimana audio menjadi ruang eksplorasi sekaligus refleksi bagi generasi muda.
Data YouGov juga menunjukkan bahwa podcast tumbuh pesat karena menawarkan kedalaman, bukan sekadar distraksi. Pendengar muda lebih tertarik pada percakapan jujur dan ide autentik ketimbang iklan atau hiburan permukaan.
“Di lanskap media yang semakin terpecah, konsumsi media kini menjadi pengalaman yang aktif dan emosional. Memahami kapan, di mana, dan mengapa masyarakat berinteraksi dengan media adalah kunci membangun koneksi yang relevan," katanya.
Menariknya, audio kini tidak lagi berdiri sendiri. Sebagian besar pengguna media sosial melakukan multitasking lintas media, di mana mereka bisa mendengarkan podcast sambil menonton klip singkat, membaca komentar, atau bahkan berbelanja daring.
Edward menjelaskan, Spotify masih menjadi platform audio paling dominan di Indonesia dengan 81 persen pengguna aktif, sepuluh kali lebih tinggi dibanding Apple Music di posisi kedua. Fenomena ini, paparnya, juga memperlihatkan kuatnya ekosistem streaming lokal yang digerakkan oleh anak muda.
Dari Hiburan ke Edukasi
Namun daya tarik podcast tak hanya berhenti pada hiburan semata. Banyak lembaga dan komunitas sosial mulai memanfaatkan format ini untuk menyampaikan isu-isu penting dengan cara yang ringan dan relevan bagi pendengar muda.Keberagaman format baik wawancara, narasi dokumenter, hingga podcast berita, juga membuka ruang bagi profesi kreatif seperti penulis naskah, produser audio, editor, hingga sound designer. Momen ini digadang menciptakan rantai ekonomi baru di sektor konten digital.
Walakin, meski peluangnya besar, tantangan di balik industri ini tetap ada. Persaingan yang ketat membuat kualitas produksi dan konsistensi menjadi kunci. Pendengar cepat berpindah bila kualitas audio buruk atau pembahasan tidak menarik.
Sementara itu, monetisasi masih menjadi pekerjaan rumah. Menurut Edward, sebagian besar kreator di Indonesia masih mengandalkan sponsor atau kolaborasi merek, sementara sistem pendapatan berbasis langganan masih berkembang di Indonesia.
Namun arah industri ini diprediksi terus positif. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan populasi muda yang besar, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pasar podcast terbesar di Asia Tenggara.
“Dari perubahan preferensi platform hingga meningkatnya perilaku multi-screen, kami melihat sinyal jelas tentang arah audiens ke depan. Tantangan sekaligus peluangnya adalah menerjemahkan wawasan ini menjadi strategi konten yang cerdas dan inklusif," kata Edward.
Podcast kini bukan sekadar media alternatif, melainkan ruang dialog yang membangun identitas budaya baru. Dalam setiap episode, tersimpan potensi untuk memperkuat ekosistem kreatif nasional melalui suara yang jujur, orisinal, dan dekat dengan pendengar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.