Isa Wahyu Prastantyo, pria yang karib disapa Isa Bajaj ini menjalani hidup slow living di Magetan. (Sumber gambar: Isa Bajaj)

Isa Bajaj dan Warung Eropa: Bisnis yang Tumbuh dari Slow Living

24 November 2025   |   09:29 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Gaya hidup slow living kian mencuri perhatian masyarakat urban dalam beberapa waktu terakhir. Tren ini tumbuh sebagai antitesis dari kehidupan kota yang penuh tekanan, mobilitas yang serba cepat, dan tuntutan produktivitas tanpa henti.

Tidak hanya menjadi pilihan gaya hidup, slow living juga mulai membentuk pola usaha baru, yakni bisnis yang tumbuh dari ketenangan, ketelitian, dan kedekatan dengan proses. Menekankan pada kualitas, pemilik usaha terlibat langsung dalam berbagai tahap produksi, dari memilih bahan baku, menyapa pelanggan, hingga menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar. 

Baca juga: Cerita Elfisha Skin, Merek Skincare asal Madiun yang Dukung Pelestarian Budaya

Seperti yang dilakoni Isa Wahyu Prastantyo saat ini. Pria yang karib disapa Isa Bajaj, personel dari trio lawak dari Jakarta, Bajaj, itu tanpa disadari menjalani hidup slow living ketika kembali ke kampung halamannya di Magetan, Jawa Timur, dan mampu menumbuhkan peluang usaha baru. 

“Aku awalnya enggak tahu kalau yang aku jalanin ini slow living. Kok kata orang-orang slow living. Ya memang hidup di sini (Magetan) seperti ini,” ujarnya seraya tertawa kecil saat berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Keputusan kembali ke kampung halaman pada awalnya bukan rencana besar, melainkan panggilan keluarga. Ibunya sedang sakit, dan Isa memilih pulang untuk mendampingi. Dari titik itu, hidupnya bergerak ke jalur yang pelan tetapi pasti, sebuah ritme yang kemudian disebut sebagai slow living.

Hidup di Magetan juga membuka ruang kosong dalam kegiatannya usai berhenti mengambil pekerjaan di Jakarta. Dari ruang kosong itulah dia memulai bisnis kecil yang kini dikenal luas sebagai Warung Eropa, singkatan dari Es Karo Panganan, nama yang sengaja dibuat sederhana agar mudah diingat, sekaligus memancing keingintahuan. 
 

Isa Bajaj dan istri di Warung Nasi Tempong. (Sumber gambar: Isa Bajaj)

Isa Bajaj dan istri di Warung Nasi Tempong. (Sumber gambar: Isa Bajaj)


Isa mengakui dirinya bukan pebisnis berpengalaman. Saat memutuskan ingin membuka usaha untuk menyambung hidup setelah keluar dari Jakarta, dia sempat mempertimbangkan kafe. Kendati demikian, Magetan sudah penuh dengan kedai kopi. 

Dengan rekomendasi teman, Isa memutuskan untuk menjajakan kuliner Nasi Tempong Banyuwangi yang belum ada di Magetan pada 2023. Menu khas itu menjadi pintu masuk Warung Eropa bertumbuh. 

Terletak di Jalan Semeru No.2, Magetan, Jawa Timur, Isa bahkan bisa dikatakan menerapkan konsep slow living terhadap warungnya. Salah satunya memastikan kualitas dari bahan baku yang dipakai.
 

Isa Bajaj saat membeli kebutuhan Warung Eropa. (Sumber gambar: Isa Bajaj)

Isa Bajaj saat membeli kebutuhan Warung Eropa. (Sumber gambar: Isa Bajaj)

Dia terjun langsung ke pasar untuk membeli bahan masakan untuk Warung Eropa. Menurutnya ke pasar bukan hanya kewajiban bisnis, tapi menjadi aktivitas yang dia nikmati karena bisa berinteraksi dengan banyak orang.

Bagi Isa, mengandalkan orang lain untuk memilih bahan tak pernah terasa pas. “Kadang pilihan orang enggak sama kayak pilihan kita. Ukurannya, tingkat kematangannya, itu aku sama istriku punya preferensi sendiri,” jelas Isa.

Beberapa bahan masakan pun dibudidayakannya sendiri guna menjaga kualitas sempurna untuk pelanggan. Tomat ranti yang dia tanam sendiri ketika pasokan tak sesuai harapan, udang kali yang harus segar dan bukan hasil setrum, hingga belut yang hanya dia ambil jika sesuai standar. 

Sementara itu, meskipun tantangan dalam menjalani bisnis cukup besar, termasuk kerasnya persaingan usaha, Isa mengaku tawaran untuk membuka cabang Warung Eropa di wilayah lain sebenarnya sudah datang, termasuk dari teman-teman di Jakarta dan Madiun. 

Sejumlah teman bahkan meminta Isa membuka cabang asalkan dia sendiri yang turun tangan. Namun, Isa memilih menunda. Dia menerangkan masih punya tanggungan untuk menemani bapaknya yang sudah sepuh dan terlibat dalam tumbuh kembang ketiga anaknya. 


Definisi Ulang Kesuksesan

Setelah kembali ke kampung dan menjalani keseharian yang lebih pelan, Isa menyadari hidupnya berbalik arah. Bertahun-tahun sibuk bekerja di Jakarta, kali ini dia bangun pagi tanpa terburu-buru.

Dua tahun tinggal di Magetan, definisi sukses bagi Isa berubah total. “Semua orang butuh duit. Tapi sukses buat saya sekarang adalah punya waktu buat anak-anak dan bapak,” ucapnya.

Pengalaman kehilangan waktu saat ibunya sakit menjadi momentum refleksi. Isa tak ingin melewatkan kesempatan yang sama untuk keluarga yang masih ada. 

Hidup pelan memberinya ruang mengantar anak sekolah, merawat kebun, mengurus hewan, hingga merawat ayahnya yang sudah sepuh. “Dulu apa-apa pengen cepat, pengen banyak. Sekarang yang penting cukup. Bayar sekolah cukup, kebutuhan cukup. Kalau liburan ya ke kota sebelah, sudah senang,” tuturnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Industri MICE Menguat Sepanjang 2025, Permintaan Korporasi Dorong Pemulihan

BERIKUTNYA

Menjelang Akhir Tahun, Sektor MICE Jadi Motor Pemulihan Bisnis Perhotelan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga