Review Film Wicked: For Good, Penutup Manis Kisah Persahabatan yang Penuh Emosi
21 November 2025 |
15:30 WIB
Bagian terakhir dari adaptasi musikal Wicked menghadirkan hiburan yang menyentuh hati, terutama berkat penampilan Ariana Grande yang “bersinar” sebagai Glinda. Dengan lagu easy listening, cerita menyentuh, dan strategi pemasaran kuat, Wicked telah menjadi fenomena budaya pop sejak debutnya di panggung Broadway 22 tahun lalu.
Sejak awal, kisah rumit persahabatan antara dua penyihir dari Oz yaitu Elphaba, penyihir berkulit hijau, dan Glinda, penyihir glamor bergaun merah muda yang telah menciptakan basis penggemar yang loyal, bahkan bisa dikatakan seperti fandom kultus.
Kisah mereka menggambarkan bahwa baik pemberontak maupun ratu pesta prom memiliki sisi emosional yang sama: ingin dimengerti dan diterima. Kini, melalui dua bagian film, cerita tersebut akhirnya mencapai kesimpulan sinematiknya.
Baca juga: Sutradara Wicked Bicara Soal Chemistry Ajaib Ariana Grande dan Cynthia Erivo
Tahun lalu, Ariana Grande dan Cynthia Erivo kerap muncul bersama dalam berbagai wawancara sambil menahan haru, memperlihatkan kedekatan persahabatan yang mereka bangun baik di dalam cerita maupun di balik layar.
Kesuksesan film pertama yang meraup lebih dari US$750 juta di box office, ditambah penjualan merchandise yang membludak, menegaskan Wicked sebagai fenomena budaya. Bagian kedua, Wicked: For Good, hadir sebagai penutup emosional yang tetap menjaga momentum besar tersebut.
Tidak dapat dipungkiri, Wicked memang dibuat untuk para penggemar setianya. Bagi mereka yang tidak akrab dengan gaya drama Broadway yang penuh warna dan sarat sentimentalitas, tampilannya bisa terasa berlebih. Namun bagi penonton yang menyukai musikal dengan emosi yang kental, bagian akhir ini justru tampil lebih kuat dan memberikan hiburan yang memuaskan hingga tirai terakhir.
Film Wicked: For Good terasa seperti lanjutan langsung dari bagian pertama, hampir seperti babak kedua setelah jeda. Dengan lebih banyak adegan nyanyian dan tarian, bagian ini semakin terasa seperti musikal sejati yang dipenuhi drama hidup dan mati. Fokus utama film adalah persahabatan mendalam antara Elphaba dan Glinda, yang sempat berpisah di akhir film pertama saat Elphaba meninggalkan Oz dengan sapunya.
Cynthia Erivo kembali tampil memukau dengan vokal yang kuat dan karakter Elphaba yang penuh keberanian. Ariana Grande pun menunjukkan sisi terbaiknya sebagai Glinda—puitis, ceria, namun tetap menyentuh hati. Sutradara Jon M. Chu memanfaatkan setiap momen emosional dengan maksima seperti kamera berputar dramatis, musik menggelegar, dan suasana yang sengaja dibuat menguras perasaan penonton.
Di tengah konflik politik dan kepalsuan di Oz, Glinda menjadi simbol kebaikan sekaligus “penampilan sempurna”—sampai-sampai gelembung yang ia tumpangi ternyata adalah mesin belaka. Elphaba hidup dalam persembunyian di hutan gelap, sementara Pangeran Fiyero (Jonathan Bailey) yang telah bertunangan dengan Glinda, masih menyimpan perasaan terhadap Elphaba. Di dunia Oz, penampilan adalah segalanya—dan kebenaran sering dikaburkan.
Nessarose, adik Elphaba, kini menjadi Gubernur Munchkinland. Madame Morrible (Michelle Yeoh) memanipulasi cuaca dan opini publik demi menjatuhkan Elphaba. Beberapa karakter ikonik dari The Wizard of Oz muncul sebagai bagian dari cerita, seperti Manusia Kaleng, Orang-orangan Sawah, hingga Singa Pengecut. Bahkan Dorothy disebut sebagai “gadis desa” mucul dalam film nya, tapi hanya terlihat sekilas dari belakang.
Pada akhirnya, Wicked: For Good menjadi penghormatan yang hangat untuk persahabatan sejati. Ketika Elphaba dan Glinda bersiap untuk berpisah, mereka melantunkan “For Good,” sebuah momen puncak yang juga terasa seperti salam perpisahan bagi penonton.
Lirik “Karena aku mengenalmu, aku telah berubah untuk selamanya” menegaskan pesan utama film: bahwa kehadiran seseorang dapat membawa perubahan yang menetap dalam hidup kita. Meski tidak menawarkan kejutan besar, film ini tetap menghadirkan penutup yang manis, emosional, dan memuaskan bagi para penggemar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sejak awal, kisah rumit persahabatan antara dua penyihir dari Oz yaitu Elphaba, penyihir berkulit hijau, dan Glinda, penyihir glamor bergaun merah muda yang telah menciptakan basis penggemar yang loyal, bahkan bisa dikatakan seperti fandom kultus.
Kisah mereka menggambarkan bahwa baik pemberontak maupun ratu pesta prom memiliki sisi emosional yang sama: ingin dimengerti dan diterima. Kini, melalui dua bagian film, cerita tersebut akhirnya mencapai kesimpulan sinematiknya.
Baca juga: Sutradara Wicked Bicara Soal Chemistry Ajaib Ariana Grande dan Cynthia Erivo
Tahun lalu, Ariana Grande dan Cynthia Erivo kerap muncul bersama dalam berbagai wawancara sambil menahan haru, memperlihatkan kedekatan persahabatan yang mereka bangun baik di dalam cerita maupun di balik layar.
Kesuksesan film pertama yang meraup lebih dari US$750 juta di box office, ditambah penjualan merchandise yang membludak, menegaskan Wicked sebagai fenomena budaya. Bagian kedua, Wicked: For Good, hadir sebagai penutup emosional yang tetap menjaga momentum besar tersebut.
Tidak dapat dipungkiri, Wicked memang dibuat untuk para penggemar setianya. Bagi mereka yang tidak akrab dengan gaya drama Broadway yang penuh warna dan sarat sentimentalitas, tampilannya bisa terasa berlebih. Namun bagi penonton yang menyukai musikal dengan emosi yang kental, bagian akhir ini justru tampil lebih kuat dan memberikan hiburan yang memuaskan hingga tirai terakhir.
Film Wicked: For Good terasa seperti lanjutan langsung dari bagian pertama, hampir seperti babak kedua setelah jeda. Dengan lebih banyak adegan nyanyian dan tarian, bagian ini semakin terasa seperti musikal sejati yang dipenuhi drama hidup dan mati. Fokus utama film adalah persahabatan mendalam antara Elphaba dan Glinda, yang sempat berpisah di akhir film pertama saat Elphaba meninggalkan Oz dengan sapunya.
Cynthia Erivo kembali tampil memukau dengan vokal yang kuat dan karakter Elphaba yang penuh keberanian. Ariana Grande pun menunjukkan sisi terbaiknya sebagai Glinda—puitis, ceria, namun tetap menyentuh hati. Sutradara Jon M. Chu memanfaatkan setiap momen emosional dengan maksima seperti kamera berputar dramatis, musik menggelegar, dan suasana yang sengaja dibuat menguras perasaan penonton.
Di tengah konflik politik dan kepalsuan di Oz, Glinda menjadi simbol kebaikan sekaligus “penampilan sempurna”—sampai-sampai gelembung yang ia tumpangi ternyata adalah mesin belaka. Elphaba hidup dalam persembunyian di hutan gelap, sementara Pangeran Fiyero (Jonathan Bailey) yang telah bertunangan dengan Glinda, masih menyimpan perasaan terhadap Elphaba. Di dunia Oz, penampilan adalah segalanya—dan kebenaran sering dikaburkan.
Nessarose, adik Elphaba, kini menjadi Gubernur Munchkinland. Madame Morrible (Michelle Yeoh) memanipulasi cuaca dan opini publik demi menjatuhkan Elphaba. Beberapa karakter ikonik dari The Wizard of Oz muncul sebagai bagian dari cerita, seperti Manusia Kaleng, Orang-orangan Sawah, hingga Singa Pengecut. Bahkan Dorothy disebut sebagai “gadis desa” mucul dalam film nya, tapi hanya terlihat sekilas dari belakang.
Pada akhirnya, Wicked: For Good menjadi penghormatan yang hangat untuk persahabatan sejati. Ketika Elphaba dan Glinda bersiap untuk berpisah, mereka melantunkan “For Good,” sebuah momen puncak yang juga terasa seperti salam perpisahan bagi penonton.
Lirik “Karena aku mengenalmu, aku telah berubah untuk selamanya” menegaskan pesan utama film: bahwa kehadiran seseorang dapat membawa perubahan yang menetap dalam hidup kita. Meski tidak menawarkan kejutan besar, film ini tetap menghadirkan penutup yang manis, emosional, dan memuaskan bagi para penggemar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.