Ilustrasi Diabetes (Sumber Foto: Freepik/@xb100)

1 dari 8 Orang Akan Kena Diabetes di 2050, Gen Z Wajib Waspada

21 November 2025   |   12:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Diabetes bukan sekadar penyakit gula darah tinggi. Penyakit ini dijuluki “mother of diseases”,  lantaran menjadi sumber dari berbagai komplikasi serius seperti stroke, kebutaan, penyakit jantung, gagal ginjal, hingga luka kronis yang berisiko amputasi.

Berdasarkan data International Diabetes Federation, secara global diperkirakan 1 dari 8 orang dewasa atau sekitar 853 juta orang akan hidup dengan diabetes pada 2050. Jumlah ini meningkat 46 persen dari tahun ini. 

Baca juga: Prevalensi Diabetes di Indonesia Meningkat, Ini Langkah Preventif yang Harus Diketahui

Sementara di Asia Tenggara, Indonesia termasuk negara dengan angka diabetes yang tinggi. Mengutip Kementerian Kesehatan RI, lebih dari 20 juta orang di Indonesia hidup dengan diabetes melitus. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada 2045 jika tidak ada intervensi yang efektif.

Pada 2022, tercatat 41.814 kasus diabetes tipe 1 di Indonesia, dengan 13.311 di antaranya berusia di bawah 20 tahun. Ini menunjukkan bahwa diabetes mulai mengancam generasi muda. 

Sementara itu, data IDF 2025 menyebutkan bahwa sekitar 90 persen penderita diabetes merupakan diabetes tipe 2, yang umumnya terkait dengan pola hidup tidak sehat.

Deasy Natalia Adriana, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital PGI Cikini, menegaskan kembali pentingnya edukasi, deteksi dini, dan perubahan gaya hidup sebagai langkah utama mencegah peningkatan kasus diabetes di Indonesia.

“Diabetes bukan hanya soal gula, tapi penyakit yang menyerang pembuluh darah di seluruh tubuh. Kerusakan ini yang memicu komplikasi di berbagai organ,” jelas Deasy.

Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik yang ditandai oleh peningkatan kadar gula darah akibat resistensi insulin atau gangguan fungsi pankreas dalam memproduksi insulin. Hormon insulin berperan penting dalam mengatur metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, serta menjaga kadar gula darah tetap normal. 

Kondisi ini tidak hanya menyerang orang dewasa atau lanjut usia, tetapi juga dapat dialami oleh bayi, anak-anak, hingga remaja, terutama jika memiliki faktor genetik dari orang tua.

Gejala awal klasik diabetes yang perlu diwaspadai disingkat 3P, yaitu:
  • Poliuria sering buang air kecil
  • Polidipsi (sering haus)
  • Polifagi (sering lapar)

"Gejala ini muncul karena kadar gula darah yang tinggi membuat tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan baik," ujar Deasy.

Lebih lanjut dokter Deasy mengungkap bahwa, dirinya pernah menangani pasien berusia 27 tahun yang sudah mengidap diabetes tipe 2. Hal ini menunjukkan bahwa pola hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas, konsumsi tinggi gula dan lemak, serta stres, semakin mempercepat munculnya DMT2 pada usia muda. 

"Ini perlu perhatian serius karena banyak remaja dan dewasa awal yang kini berisiko mengalami komplikasi di usia produktif,” ujarnya.

Pada usia muda, diabetes dapat muncul dalam beberapa tipe, mulai dari Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1) yang disebabkan faktor autoimun maupun idiopatik, Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) yang dipengaruhi genetik dan gaya hidup, hingga diabetes tipe monogenik seperti MODY dan diabetes neonatal yang terkait kelainan gen tunggal.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa diabetes dapat terjadi bukan hanya pada orang dewasa, tetapi juga pada anak dan remaja," lanjutnya.

Faktor risiko diabetes dibagi dua, yaitu yang tidak bisa diubah (usia dan keturunan) serta yang bisa dikendalikan seperti berat badan, pola makan, merokok, hipertensi dan aktivitas fisik. Karena itu, edukasi dan deteksi dini menjadi langkah penting agar diabetes tidak berkembang menjadi komplikasi berat.
 

Pencegahan dan Penanganan Diabetes

Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikontrol. Oleh karenanya, sangat dianjurkan untuk melakukan skrining supaya gejala dapat dideteksi sejak dini. 

Skrining bisa dilakukan lewat pemeriksaan penyakit dalam, laboratorium, dan edukasi gaya hidup sehat untuk mencegah serta mengendalikan komplikasi jangka panjang. Dokter Deasy menambahkan, diabetes memang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, namun resikonya dapat diminimalkan dengan pola hidup sehat. 

Caranya dengan menjaga pola makan bergizi seimbang, mengontrol berat badan, rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu tanpa jeda lebih dari dua hari, tidak merokok maupun mengonsumsi alkohol, serta rutin memantau kadar gula darah.

“Menjaga kesehatan bukan hanya tentang berobat saat sakit, tetapi menjaga keseimbangan tubuh melalui pola hidup sehat setiap hari sebagai investasi jangka panjang,” ujarnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Ini Rekomendasi Makanan Tepat Saat Flu, Cara Cepat Pulihkan Tubuh Secara Alami

BERIKUTNYA

7 Rekomendasi Game PC Terbaik Pilihan Para Gamer Ahli

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga