Indonesia Jadi Kekuatan Baru Adopsi AI di Asia Tenggara
13 November 2025 |
22:32 WIB
Transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) berkembang cepat di Asia Tenggara. Namun, diantara negara-negara kawasan, Indonesia tampil sebagai pemimpin regional dalam adopsi pengguna dan momentum komersial. Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, 80 persen pengguna internet di Indonesia kini berinteraksi dengan alat berbasis AI setiap harinya. Angka ini tertinggi kedua di kawasan Asia Tenggara.
Antusiasme masyarakat terhadap teknologi baru ini tidak berhenti di tataran penggunaan semata. Pendapatan dari aplikasi berbasis AI di Indonesia melonjak hingga 127 persen antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2025, menjadikannya pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara.
Baca juga: Masa Depan Industri Kreatif di Era AI, Sorotan dari IdeaFest 2025
“Kita memimpin pertumbuhan pendapatan dari aplikasi dengan fitur AI sebesar 127 persen dari tahun ke tahun,” ujar Country Director Google Indonesia Veronica Utami, saat memaparkan laporan e-Conomy SEA 2025 di kantornya, Kamis (13/11/2025).
Tidak dipungkiri, keterlibatan masyarakat Indonesia dengan AI sudah meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari alat pencari ide, rekomendasi belanja, hingga pengeditan gambar berbasis AI. Sebanyak 51 persen pengguna menyatakan mereka menghabiskan banyak waktu untuk riset dan pembandingan.
Sementara di dunia kerja, 79 persen karyawan terlibat dalam pembelajaran dan meningkatkan keterampilan terkait AI. Artinya, pekerja Indonesia menunjukkan kemauan dan komitmen yang kuat serta sikap proaktif terhadap adaptasi dan mempersiapkan diri secara aktif untuk masa depan berbasis AI.
Veronica menyebut, motivasi utama pekerja menggunakan AI adaah untuk meningkatkan efisiensi, menghemat waktu riset dan perbandingan (51 persen), mendapatkan rekomendasi yang lebih personal (35 persen), serta keamanan yang lebih baik (32 persen).
“Kami melihat adopsi yang luas di kalangan bisnis, permintaan pasar yang kuat, dan respon positif pengguna yang luar biasa, semuanya menegaskan bahwa AI bukan sekadar gelombang teknologi baru, tetapi akan mengubah cara bisnis beroperasi dan berkembang,” tuturnya.
Kendati demikian, di tengah tingginya permintaan ini, investasi modal yang masuk ke sektor AI Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya. Jumlah startup AI di Indonesia (lebih dari 45) dan porsi pendanaan (4 persen dari total ASEAN-10), masih jauh di bawah pusat regional seperti Singapura (lebih dari 495) dan Malaysia (lebih dari 60).
“Ekosistem pengembang dan startup lokal perlu tumbuh lebih cepat agar dapat menyeimbangkan permintaan besar dari konsumen dan tenaga kerja,” tegas Veronica.
Laporan e-Conomy SEA 2025 katanya menggaris bawahi urgensinya. Indonesia perlu secara strategis mengubah antusiasme pengguna dan momentum pasar menjadi inovasi dalam negeri. Hal ini membutuhkan kolaborasi antara investor, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis untuk membangun infrastruktur, mengembangkan talenta, memastikan adopsi dan integrasi AI yang cerdas, serta memperkuat kepercayaan melalui tata kelola yang baik.
“Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat untuk mengamankan kepemimpinannya di masa depan Asia Tenggara yang digerakkan oleh AI,” sebut Veronica.
Baca juga: Waspada, Phising Makin Canggih dengan Menggunakan AI
Antusiasme masyarakat terhadap teknologi baru ini tidak berhenti di tataran penggunaan semata. Pendapatan dari aplikasi berbasis AI di Indonesia melonjak hingga 127 persen antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2025, menjadikannya pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara.
Baca juga: Masa Depan Industri Kreatif di Era AI, Sorotan dari IdeaFest 2025
“Kita memimpin pertumbuhan pendapatan dari aplikasi dengan fitur AI sebesar 127 persen dari tahun ke tahun,” ujar Country Director Google Indonesia Veronica Utami, saat memaparkan laporan e-Conomy SEA 2025 di kantornya, Kamis (13/11/2025).
Tidak dipungkiri, keterlibatan masyarakat Indonesia dengan AI sudah meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari alat pencari ide, rekomendasi belanja, hingga pengeditan gambar berbasis AI. Sebanyak 51 persen pengguna menyatakan mereka menghabiskan banyak waktu untuk riset dan pembandingan.
Sementara di dunia kerja, 79 persen karyawan terlibat dalam pembelajaran dan meningkatkan keterampilan terkait AI. Artinya, pekerja Indonesia menunjukkan kemauan dan komitmen yang kuat serta sikap proaktif terhadap adaptasi dan mempersiapkan diri secara aktif untuk masa depan berbasis AI.
Veronica menyebut, motivasi utama pekerja menggunakan AI adaah untuk meningkatkan efisiensi, menghemat waktu riset dan perbandingan (51 persen), mendapatkan rekomendasi yang lebih personal (35 persen), serta keamanan yang lebih baik (32 persen).
“Kami melihat adopsi yang luas di kalangan bisnis, permintaan pasar yang kuat, dan respon positif pengguna yang luar biasa, semuanya menegaskan bahwa AI bukan sekadar gelombang teknologi baru, tetapi akan mengubah cara bisnis beroperasi dan berkembang,” tuturnya.
Kendati demikian, di tengah tingginya permintaan ini, investasi modal yang masuk ke sektor AI Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya. Jumlah startup AI di Indonesia (lebih dari 45) dan porsi pendanaan (4 persen dari total ASEAN-10), masih jauh di bawah pusat regional seperti Singapura (lebih dari 495) dan Malaysia (lebih dari 60).
“Ekosistem pengembang dan startup lokal perlu tumbuh lebih cepat agar dapat menyeimbangkan permintaan besar dari konsumen dan tenaga kerja,” tegas Veronica.
Laporan e-Conomy SEA 2025 katanya menggaris bawahi urgensinya. Indonesia perlu secara strategis mengubah antusiasme pengguna dan momentum pasar menjadi inovasi dalam negeri. Hal ini membutuhkan kolaborasi antara investor, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis untuk membangun infrastruktur, mengembangkan talenta, memastikan adopsi dan integrasi AI yang cerdas, serta memperkuat kepercayaan melalui tata kelola yang baik.
“Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat untuk mengamankan kepemimpinannya di masa depan Asia Tenggara yang digerakkan oleh AI,” sebut Veronica.
Baca juga: Waspada, Phising Makin Canggih dengan Menggunakan AI
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.