Sesi IdeaTalks bertajuk The Impact of AI: Support or Threat for Creative Industry di IdeaFest 2025. (Sumber gambar: IdeaFest 2025)

Masa Depan Industri Kreatif di Era AI, Sorotan dari IdeaFest 2025

04 November 2025   |   11:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan katalis yang mengguncang sekaligus memperkaya cara manusia berkreasi, berinovasi, dan mengekspresikan diri di industri kreatif. Fenomena ini menjadi sorotan dalam sesi IdeaTalks bertajuk The Impact of AI: Support or Threat for Creative Industry di IdeaFest 2025. 

Kehadiran kecerdasan buatan lantas menuntut industri kreatif nasional untuk beradaptasi. Pasalnya, AI hadir tidak hanya sebagai alat produksi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menciptakan nilai baru, mempercepat proses, dan memperluas jangkauan karya.

Baca juga: Game Changer Jakarta Menuju Kota Global Dikupas di IdeaFest 2025

Arifaldi Dasril, Founder and Managing Partner of Magnifique Indonesia menjelaskan, perkembangan AI bukan akhir dari industri kreatif, melainkan awal dari era baru yang penuh potensi. Tantangan saat ini bukan lagi soal apakah AI akan menggantikan manusia, tetapi bagaimana semua orang bisa mengoptimalkannya untuk menciptakan karya yang lebih orisinal dan relevan. 

“Pada akhirnya, esensi kreativitas sejati tetap bersumber dari empati dan intuisi manusia, dua hal yang belum mampu diprogram oleh mesin,” ujarnya, dikutip Hypeabis.id, Senin (3/11/2025).

Potensi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia didukung oleh data yang kuat. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), kontribusi ekonomi kreatif nasional pada 2023 sudah menembus lebih dari Rp1.300 triliun dan menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja.
 
Raline Shah, Special Advisor to the Minister of Communications and Digital Affairs, menambahkan, dari data kami, AI diprediksi akan membuka lapangan kerja baru di tiga klaster utama. Pertama, di industri konten dan kreator untuk otomatisasi editing dan dubbing. 

Kedua, di game dan animasi untuk mempercepat pembuatan aset visual. Ketiga, untuk UKM digital, di mana AI membantu personalisasi iklan dan foto produk. “Teknologi ini bisa mempercepat ideasi, produksi, dan analisis, tapi keberhasilannya bergantung pada cara kita mengelola kreativitas manusia di baliknya,” jelasnya.
 
Besarnya potensi di sektor konten digital ini sejalan dengan peran teknologi AI secara fundamental yang telah mengubah cara kita dalam mengonsumsi dan menciptakan konten. Marianne Rumantir, CEO dan Co-Founder TS Media, melihat AI sebagai pendamping kreatif yang memperkuat storytelling, bukan menggantikannya. 

AI mengubah cara pihaknya memproduksi konten, membuat prosesnya lebih efisien. Namun, tugas sebagai storyteller kini bergeser, yakni menjadi kurator yang lebih baik untuk memastikan human touch dan otentisitasnya tetap ada. “Karena itulah yang membangun hubungan personal dengan audiens,” imbuhnya.
 

Transformasi Digital Kreatif

Kemampuan AI sebagai pendamping kreatif ini sejalan dengan fokus pengembangan AI di Indonesia. Data Komdigi menunjukkan sektor seperti konten digital, game, dan animasi diprediksi akan merasakan dampak AI paling signifikan. 

Pertumbuhan inilah yang kini diwujudkan menjadi aplikasi-aplikasi nyata oleh para praktisi teknologi, seperti yang dilakukan di industri kreatif dan teknologi immersive. Menyoroti perkembangan teknologi AI terkini, Belinda Luis, Founder Pixie Lab and Genexyz menyampaikan, pihaknya sudah tidak lagi bicara AI sebagai konsep, tapi sebagai aplikasi nyata. 

Di Pixie Lab, mereka memadukan teknologi AI dan data nyata dari wajah serta kulit manusia untuk mengembangkan sistem biometrik canggih di sektor kecantikan dan fashion. Belinda menyebut teknologi perusahaannya tidak hanya menganalisis wajah, tetapi juga berusaha memahami wajah, karakter, dan kebutuhan unik setiap individu. 

“Kami percaya, melalui teknologi ini, setiap orang dapat diberdayakan untuk menjadi versi terbaik dirinya, dengan kebebasan memilih produk yang paling sesuai berdasarkan analisis personal mereka,” jelas Belinda.
 
Seiring dengan pertumbuhan teknologi yang berkembang pesat, kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni menjadi semakin krusial. Hal ini menyoroti tantangan mengenai kesiapan talenta muda Indonesia untuk mengadopsi dan memanfaatkan AI secara produktif, serta mendorong transisi mereka dari sekadar konsumen menjadi kreator.
 
Menjawab tantangan kesiapan talenta, Amanda Simandjuntak, Co-Founder Markoding and Perempuan Inovasi, menegaskan tantangan terbesar generasi muda Indonesia hari ini bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bertransformasi menjadi kreator yang bertanggung jawab. Di Markoding, pihaknya percaya bahwa penguasaan kemampuan teknis saja tidak cukup. 

“Dalam mengimplementasikan AI, setiap langkah harus disertai pemikiran kritis dan kesadaran beretika, agar teknologi yang kita ciptakan tidak merugikan, menyingkirkan, atau mengambil hak kreativitas orang lain,” jelasnya.

Baca juga: SBY Nyanyi Lagu Bintang di IdeaFest 2025, Maknanya Dalam Banget

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Fakta Zombie di Film Abadi Nan Jaya, Dari Kantong Semar Hingga Anomali Virus

BERIKUTNYA

Prediksi Pemain & Catatan Laga Timnas Indonesia vs Zambia di Piala Dunia U-17

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga