Ini Penyebab Startup AI di Indonesia Masih Kalah Jauh dari Singapura
16 November 2025 |
21:30 WIB
Investasi untuk perusahaan rintisan berbasis artificial intelligence (AI) di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan potensi pasar dan tingkat adopsinya yang terus melesat. Meski antusiasme terhadap teknologi ini mencapai salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara, jumlah startup AI yang lahir di dalam negeri masih terbatas, begitu pula aliran modal yang masuk.
Data e-Conomy SEA 2025 menunjukkan Indonesia hanya menyumbang 4 persen dari total pendanaan AI di kawasan ASEAN-10, dengan jumlah startup AI lebih dari 45 unit. Jumlah ini terpaut jauh dari Singapura yang memiliki lebih dari 495 startup dan Malaysia dengan lebih dari 60 startup.
Baca juga: Arah Pendanaan Global Berubah, Investor Lirik Startup Berbasis AI
Data e-Conomy SEA 2025 menunjukkan Indonesia hanya menyumbang 4 persen dari total pendanaan AI di kawasan ASEAN-10, dengan jumlah startup AI lebih dari 45 unit. Jumlah ini terpaut jauh dari Singapura yang memiliki lebih dari 495 startup dan Malaysia dengan lebih dari 60 startup.
Baca juga: Arah Pendanaan Global Berubah, Investor Lirik Startup Berbasis AI
Beberapa faktor disebut menjadi penghambat utama, mulai dari minimnya talenta teknologi yang memiliki kemampuan khusus di bidang AI, kebutuhan modal tinggi untuk infrastruktur komputasi, hingga ekosistem pendukung yang belum optimal.
Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, menegaskan bahwa kebutuhan akan talenta developer AI jauh lebih besar daripada ketersediaannya, sehingga menciptakan kesenjangan signifikan di pasar. “Bagaimana kita memastikan developer di Indonesia semuanya menguasai AI,” ujarnya, saat melaporkan riset e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, beberapa waktu lalu.
Selain itu, startup AI membutuhkan kapasitas komputasi besar dan biaya modal yang mahal, menciptakan hambatan masuk yang tinggi bagi pemain lokal maupun investor. Belum optimalnya konektivitas antara inovator dan pemilik modal juga membuat banyak ide AI tidak tersalurkan menjadi produk yang matang.
Kendati demikian, minat investor terhadap AI sebenarnya sangat tinggi. Partner Bain & Company, Aadarsh Baijal, menyatakan bahwa pendanaan untuk startup AI melonjak tajam dalam dua tahun terakhir. Pada paruh kedua 2024, sekitar 30 persen pendanaan privat di Asia Tenggara mengalir ke sektor ini.
Memasuki 2025, investor mulai lebih tertarik pada perusahaan AI-first, yang menjadikan AI sebagai inti produk dan porsinya dalam portofolio diprediksi terus meningkat. Dari survei terhadap pemodal ventura, 50 persen investor menyebut lebih dari seperempat portofolio mereka kini merupakan startup AI-first, dan diprediksi naik menjadi 70 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, 86 persen investor melihat AI telah meningkatkan efisiensi biaya di portofolio mereka, sementara 71 persen mencatat pertumbuhan pendapatan lebih tinggi dari integrasi AI.
Di Indonesia, supply startup AI yang siap didanai masih menjadi persoalan utama. Rexy Christopher dari perusahaan modal ventura, Init-6, menyampaikan bahwa dana investor sebenarnya sudah menunggu untuk disalurkan, tetapi belum banyak startup AI lokal yang memiliki fondasi produk kuat, tim solid, dan arah bisnis yang jelas. “Kita malah ngelihat supply dari company AI itu sendiri yang di Indonesia masih belum banyak. Karena dari sisi funding, secara capital udah siap,” ujarnya kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.
Kondisi ini berpotensi memperlebar jarak Indonesia dengan negara tetangga yang sudah mulai melahirkan gelombang startup AI baru. Rexy menilai sekarang adalah momentum terbaik bagi talenta teknologi Indonesia untuk membangun solusi AI lokal yang relevan dengan kebutuhan pasar. “Startup-startup yang siap buat nangkep dana investor ini aja sih yang masih belum ada,” imbuhnya.
Kebutuhan infrastruktur AI yang andal juga semakin mendesak. Founder dan CEO Awanio, Irfan Yuta Pratama, menyebut bahwa cloud dan chip komputasi adalah komponen fundamental untuk membangun kapabilitas AI nasional.
Dia menekankan pentingnya memilih jenis cloud sesuai sensitivitas data. Saat ini, banyak layanan pemerintah masih bertumpu pada public cloud asing, dan pola ini dinilai perlu dikaji ulang.
“Kalau kita bicara infrastruktur yang aman, sebaiknya data-data AI atau pemrosesan AI dilakukan di infrastruktur yang lebih private,” jelasnya.
Dengan private cloud, pemrosesan data dan penyimpanan dataset menurutnya dapat dikendalikan penuh oleh lembaga terkait, sehingga keamanan dan kedaulatan data lebih terjaga. Sebagai penyedia cloud lokal, Awanio melihat peluang besar untuk mendukung institusi pemerintah dan perusahaan besar dalam membangun ekosistem AI privat, termasuk pengelolaan GPU, alokasi sumber daya, dan kebutuhan aplikasi AI lainnya.
Adopsi AI Tinggi
Di tengah keterbatasan startup AI yang siap bersaing, Indonesia justru menunjukkan lonjakan adopsi AI yang sangat agresif. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat bahwa 80 persen pengguna internet di Indonesia berinteraksi dengan alat berbasis AI setiap hari, tertinggi kedua di Asia Tenggara.
Pendapatan aplikasi dengan fitur AI juga tumbuh 127 persen dalam setahun terakhir, menjadi yang tercepat di kawasan. "AI bukan tren sesaat, tapi mengubah cara bisnis beroperasi dan berkembang,” kata Veronica.
Menurutnya, Indonesia telah memiliki fondasi kuat setelah bertahun-tahun berinvestasi pada konektivitas digital. Penggunaan AI telah menjangkau aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi belanja hingga pengeditan gambar. Dalam dunia kerja, 79 persen karyawan sudah terlibat dalam pembelajaran dan peningkatan keterampilan berbasis AI.
Motivasi utama penggunaan AI antara lain efisiensi, penghematan waktu riset (51 persen), rekomendasi lebih personal (35 persen), serta keamanan lebih baik (32 persen).
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.