Veronica Utami, Country Director Google Indonesia saat memaparkan laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company. (Sumber gambar: Google Indonesia)

Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksi Tembus US$100 Miliar, Transaksi Video Commerce Melesat

13 November 2025   |   19:33 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Ekonomi digital Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) ekonomi digital di Tanah Air diproyeksikan akan mencapai US$100 miliar pada 2025, tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu.

Disebutkan bahwa hampir seluruh sektor utama ekonomi digital Indonesia mencatat pertumbuhan dua digit. Namun, e-commerce tetap menjadi motor utama, dengan nilai yang diproyeksikan tumbuh lebih dari 14 persen menjadi US$71 miliar pada tahun depan.

Baca juga: Perempuan Jadi Motor Penggerak Ekonomi Digital, Menkomdigi Wanti-wanti Hal Ini

Kenaikan pesat ini didorong oleh pertumbuhan video commerce yang mencatat lonjakan volume transaksi sebesar 90 persen (YoY) hingga mencapai 2,6 miliar transaksi. Tak hanya itu, jumlah penjual dan toko daring di Indonesia juga meningkat 75 persen (YoY) hingga mencapai 800.000.

“Konvergensi antara konten dan perdagangan kini tak terelakkan. Indonesia menjadi pasar video commerce terbesar dan tumbuh paling cepat di Asia Tenggara,” ujar Veronica Utami, Country Director Google Indonesia.

Laporan e-Conomy SEA 2025 juga mencatat bahwa ekonomi digital Asia Tenggara secara keseluruhan menunjukkan resiliensi luar biasa, bahkan di tengah periode kehati-hatian investor dan perubahan kondisi makroekonomi global. Namun, Indonesia tetap menjadi kekuatan pendorong utama transformasi kawasan.

Menurut Aadarsh Baijal Partner di Bain & Company, peluang terbesar saat ini terletak pada bagaimana bisnis dapat memanfaatkan AI sebagai katalis dampak dan membangun kepercayaan, bersamaan dengan penyesuaian strategi terhadap dinamika kawasan.

“Seiring dengan konsolidasi pasar dan kembalinya kepercayaan investor, gelombang pertumbuhan berikutnya akan lebih efisien dan digerakkan oleh inovasi,” tambahnya.

AI disebut-sebut akan menjadi fondasi bagi dekade penciptaan nilai berikutnya di kawasan ini, bukan hanya dalam automasi dan efisiensi, tapi juga dalam membangun personalisasi layanan, deteksi risiko, hingga pembiayaan berbasis data untuk pelaku usaha kecil.

Selain e-commerce, sektor media online muncul sebagai sektor dengan pertumbuhan GMV tercepat di Indonesia, dengan proyeksi peningkatan sebesar 16 persen menjadi US$9 miliar pada 2025. Sektor ini mencakup periklanan digital, gaming, video-on-demand (VOD), dan music-on-demand. 

Gaming menjadi pendorong utama, di mana Indonesia memimpin Asia Tenggara dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap total unduhan mobile game dan 35 persen terhadap pendapatan aplikasi game di kawasan.

Sementara itu, sektor transportasi daring dan layanan pesan-antar makanan tetap menjadi kontributor stabil terhadap pertumbuhan, dengan proyeksi peningkatan 13 persen dari tahun ke tahun hingga mencapai US$10 miliar pada 2025. Berbagai platform kini memperluas model bisnisnya melalui paket berlangganan, peningkatan frekuensi perjalanan, serta iklan dalam aplikasi untuk memperkuat profitabilitas.

Laporan e-Conomy SEA 2025 juga mencatat online travel kembali menemukan momentumnya setelah masa pandemi. Nilai GMV-nya diperkirakan tumbuh 11 persen menjadi US$9 miliar, didorong oleh kembalinya volume perjalanan ke tingkat pra-pandemi dan dukungan kebijakan pemerintah, termasuk perluasan skema visa untuk wisatawan dari China dan India. 

Kemudian, salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan paling pesat adalah Jasa Keuangan Digital. Meski menghadapi tantangan makroekonomi global, sektor ini tetap mencatat pertumbuhan dua digit tinggi dengan proyeksi nilai transaksi (Gross Transaction Value/GTV) mencapai US$538 miliar pada 2025, menjadikannya pasar pembayaran digital terbesar dan tercepat tumbuh di Asia Tenggara.

Kendati demikian, potensi besar ini datang bersama tantangan. Nilai pinjaman digital Indonesia masih berada di bawah negara tetangga seperti Malaysia (US$14 miliar) dan Thailand (US$17 miliar). Celah ini, menurut laporan e-Conomy SEA 2025, bisa diisi dengan memperluas akses pembiayaan modal kerja untuk pelaku usaha mikro dan kecil (micro-SME), termasuk mitra pedagang dan pengemudi di platform digital.

Seiring optimisme tersebut, faktor kepercayaan menjadi elemen krusial. Hampir 46 persen konsumen Indonesia masih menaruh kepercayaan lebih rendah terhadap layanan keuangan digital dibanding bank tradisional.

Bisa dikatakan, keberhasilan sektor ini di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemain digital membangun hubungan berbasis nilai dan transparansi. "Meskipun adopsi digital ini melonjak, tapi hubungan yang mendalam, yang dipercaya, dan juga berbasis nilai, sangat penting untuk perkembangan sektor ini ke depannya," sebut Veronica.

SEBELUMNYA

Menikmati Imajinasi ala Mang Moel, dari Edible Dreams hingga Playful Bites

BERIKUTNYA

Drama Baru Ji Sung, Judge Lee Han Young Pamer Chemistry di Sesi Script Reading

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga