Seniman Mang Moel berdiri di antara karyanya dalam pameran Playful Bites, di Dialogue, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menikmati Imajinasi ala Mang Moel, dari Edible Dreams hingga Playful Bites

14 November 2025   |   13:24 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Aroma manis kue dan warna-warna mencolok menyambut pengunjung di Artotel Thamrin, Jakarta. Di tengah ruang, bantal raksasa berbentuk potongan makanan tersusun acak. Ada yang menyerupai donat, udang segar, dan buah kiwi yang seolah siap disantap, padahal semuanya terbuat bean bag.

Sensasi itu terasa hangat. Mulyana, atau yang akrab disapa Mang Moel, tengah mengajak publik untuk 'mencicipi' imajinasinya melalui dua pameran tunggal bertajuk “Edible Dreams” dan “Playful Bites”. Kedua pameran ini berlangsung di Artotel Thamrin, dan Dialogue Jakarta hingga 31 Desember 2025.

Baca juga: Nuanu Hadirkan Kolaborasi Seni dan Alam lewat Pameran ‘Liana Reverie: Vivid Colours’

Perupa asal Bandung ini dikenal lewat karyanya yang memadukan warna-warna cerah, bentuk organik, dan karakter “monster” yang ramah. Lewat benang rajut, Mulyana membangun dunia visual yang lembut sekaligus reflektif tentang kehidupan, spiritualitas, dan hubungan manusia.

Dalam proyek terbarunya, Food Monster Project, Mang Moel mengeksplorasi dunia kuliner sebagai inspirasi utama. Dia menyulap makanan menjadi figur-figur lucu sekaligus ganjil, seperti hasil khayalan seorang anak yang bebas bermain di dapur.

Gagasan itu pertama kali muncul saat Mulyana menjalani residensi di Korea pada masa pandemi. Dunia saat itu terasa sempit dan penuh ketidakpastian. Namun, dia berhasil menemukan pelipur lewat kegiatan sederhana: merajut bentuk-bentuk makanan yang membangkitkan kenangan dan rasa hangat.

“Awalnya hanya kegiatan iseng untuk mengusir kebosanan. Tapi seiring waktu, saya merasa bentuk-bentuk itu adalah cara saya menyalurkan perasaan dan menghidupkan kembali semangat di masa sulit," katanya.
 

Senarai karya Mang Moel dalam pameran Edible Dreams, di Artotel Thamrin, Jakarta.

Senarai karya Mang Moel dalam pameran Edible Dreams, di Artotel Thamrin, Jakarta.  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Dari kegiatan ringan itu lahirlah seri Food Monster yang kini tumbuh menjadi proyek artistik berskala besar. Di Artotel Thamrin, Mulyana memamerkan sebelas seri karya lukis dan satu instalasi interaktif berjudul Butho Lemu (2025).

Karya itu berupa bean bag besar berbentuk sosok gemuk berwarna cerah yang dapat dipeluk dan dimainkan pengunjung. Setiap modul bantal dirancang menyerupai potongan makanan yang bisa disusun ulang menjadi figur baru sesuai imajinasi.

Dalam karya partisipatoris ini, interaksi menjadi bagian penting. Bentuknya dapat berubah mengikuti sentuhan, tawa, dan permainan kolektif pengunjung. Karya tersebut hidup melalui partisipasi dan kegembiraan bersama.

Eksperimen tersebut menandai langkah baru Mulyana dalam memperluas praktik dari medium rajut menuju lukisan dan instalasi modular. Salah satu karya lukisnya, Gola (akrilik di atas kanvas, 50 cm, 2025), menggambarkan sosok yang terinspirasi dari kuliner Korea dalam posisi meditasi.

Gaya visualnya memadukan humor dan kontemplasi dengan harmoni yang lembut. “Tahun ini aku memang sedang menjelajahi medium baru, dari lego sampai keramik,” ujarnya. “Selain residensi di Bali, aku juga ingin mencoba karya di atas kanvas.”

Sementara itu, di Dialogue Jakarta Selatan, suasana pameran terasa lebih tenang dan reflektif. Di ruang ini, pengunjung diajak masuk ke dunia rajut Mulyana yang lebih intim dan penuh permainan inderawi.

Salah satu karya utama di lokasi ini adalah “Modular Monster” (2025), yang mengajak pengunjung berinteraksi melalui pantulan cermin dan permainan bentuk. Pengalaman visualnya terasa seperti berhadapan dengan diri sendiri dalam bentuk monster berwarna.

Selain itu, ada 41 seri Food Monster (2024) hasil residensi di Korea. Beragam rajutan berbentuk sayur, rumput laut, dan telur dikemas dalam kaca akrilik transparan, seolah menjadi menu prasmanan yang memanjakan mata. Semua tersusun rapi, menggoda, namun juga asing.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by IndoArtNow (@indoartnow)


Mulyana juga menciptakan jajanan pasar Nusantara dari benang dacron. Ada Ubi Kukus Gulung, Kue Tok, Lemper, Getuk Lindri, Bolu Kukus, hingga Kue Apem. Semua dipajang di atas gerobak kayu seperti pedagang kaki lima, menciptakan kesan nostalgia yang hangat.

Setiap detail dibuat begitu realistis hingga pengunjung nyaris lupa bahwa semua itu hanyalah rajutan. Di titik ini, Mulyana berhasil mengaburkan batas antara realitas dan fantasi, antara rasa lapar dan rasa ingin tahu.

Melalui pendekatan ini, Mulyana seolah memadukan dua dunia, yakni kenangan masa kecil tentang jajanan kampung dan permainan modern. Dia mengajak publik untuk membuka ulang memori, tertawa, dan bernostalgia tanpa kehilangan rasa takjub pada detail dan tekstur rajutannya.

Karya lain yang menonjol adalah Tumpengan, instalasi besar yang terinspirasi dari tradisi nasi tumpeng dan gunungan sekaten. Warna kuning, hijau, dan merah muda berpadu membentuk simbol kebersamaan yang lembut dan hangat.

Baca juga: Jejak Wastra dalam Pameran Jalinan Waktu di Museum Nasional, dari Batik hingga Kimono Jepang

Kurator pameran Nala Nandana menyebut Playful Bites sebagai hasil pengembangan Food Monster Project yang menautkan seni, permainan, dan pengalaman inderawi. “Makanan di sini bukan hanya soal rasa, tapi juga jembatan sosial yang menghubungkan manusia,” ujarnya.

Menurut Nala, proyek ini bukan sekadar transformasi makanan menjadi monster, melainkan refleksi tentang bagaimana kreativitas tumbuh di tengah krisis. Dalam dunia yang sempat kehilangan kedekatan, karya Mulyana menjadi ruang bermain yang inklusif dan inklusif.

“Warna-warna cerah dan bentuk organik karya Mulyana mengundang penonton untuk menegosiasikan kembali memori mereka. Tentang rasa, kebersamaan, dan keintiman dalam relasi sosial," imbuhnya.

SEBELUMNYA

Jadwal & Harga Tiket Timnas U-23 Indonesia vs Mali Jelang SEA Games 2025

BERIKUTNYA

Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksi Tembus US$100 Miliar, Transaksi Video Commerce Melesat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga