Jejak Wastra dalam Pameran Jalinan Waktu di Museum Nasional, dari Batik hingga Kimono Jepang
04 November 2025 |
15:30 WIB
Kimono berlengan panjang itu terbentang anggun di dalam bilik kaca, memperlihatkan hamparan taman bunga bergaya impresionis di bagian punggungnya. Di Jepang, kain tradisional dengan motif serupa pernah populer pada era Taisho (1912–1926).
Terbuat dari sutra, kimono ini memancarkan kesan mewah. Pada masanya, furisode—kimono dengan lengan berayun panjang— ini menjadi busana formal bagi wanita muda yang menampilkan lambang keluarga. Motifnya dikerjakan dengan berbagai teknik melukis langsung menggunakan lem berwarna.
Kimono ini adalah salah satu koleksi wastra Jepang dari Museum Nasional Tokyo yang saat ini dipamerkan di Museum Nasional, Jakarta. Dibungkus dalam tajuk Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang, pameran ini berlangsung hingga 7 Desember 2025.
Baca juga: Wastra Nusantara Koleksi Dewi Motik di Pameran 80 Kain Indonesia
Memasuki ruang pamer, pengunjung langsung disambut dengan rentetan kimono beragam corak. Ada yang menggambarkan liana bunga empat musim dengan warna cerah, hingga corak tirai bambu dan kipas menjuntai yang justru dikontraskan dengan palet pekat.
Kepulauan Jepang yang terletak di zona iklim sedang memang mempengaruhi masyarakat di sana dalam mengeksplorasi kain wastra. Kendati berbeda dengan Indonesia yang berada di wilayah tropis, kedua negara ini sama-sama menghasilkan teknik pewarnaan yang rumit dan sarat makna.
Perbedaan utamanya terletak pada penggunaan medium. Jika di Indonesia menggunakan lilin, di Jepang justru menggambar garis luar dengan lem, menampilkan corak beragam warna dengan menyelipkan gradasi halus menggunakan kuas lewat metode bingata dan yuzen.
Bingata adalah teknik stensil khas Okinawa yang memakai cetakan pola dan pasta pelindung untuk menciptakan warna-warna cerah dan kontras. Adapun yuzen, berasal dari Kyoto, merupakan metode melukis langsung di atas kain sutra menggunakan kuas untuk menghasilkan gradasi lembut dan motif yang anggun.
Misalnya terlihat dari kimono Tirai Bambu dan Kipas Kayu Hinoki. Kimono pengantin wanita ini bermotif pembawa keberuntungan. Coraknya dibuat dengan teknik pewarnaan yuzen, di mana pola digambar menggunakan pasta khusus sebagai pembatas, lalu diisi dengan berbagai warna secara teliti untuk menciptakan detail sempurna.
Sementara itu, teknik bingata hadir dalam kimono bertajuk With Coral Trees, yang menggambarkan bunga deigo tersusun rapat. Pewarnaannya dilakukan dengan menyesuaikan kertas pola secara tepat agar kedua sisinya membentuk corak yang utuh. Cara ini membutuhkan kesabaran dan keterampilan tinggi.
Dari teknik pewarnaan yang rumit itu, tampak bahwa seni wastra bukan sekadar hasil keterampilan, melainkan cermin pandangan dan perjalanan budaya. Pameran Jalinan Waktu pun membuka ruang perenungan atas kisah dan pertukaran yang menautkan identitas tekstil di Asia Timur dan Tenggara.
Kendati tidak memiliki hubungan langsung secara genealogis, batik dan kimono sebenarnya beririsan secara historis dan kultural dalam konteks pertukaran seni tekstil di kawasan. Namun, hubungan ini lebih bersifat pengaruh lintas budaya ketimbang asal-usul yang sama.
Menurut Oyama, pada awal abad ke-17, kalangan bangsawan di Indonesia sudah mengimpor sarasa, kain bermotif hasil teknik pewarnaan dan pencetakan dari India Selatan yang dirancang khusus untuk memenuhi selera lokal melalui perantara pedagang Belanda.
Pesisir Koromandel di timur India juga mengekspor kain sarasa dengan desain yang ditujukan bagi samurai, tuan tanah, dan pedagang kaya di Jepang. Arkian, sarasa menjadi inspirasi penting dalam perkembangan motif wastra Jepang, salah satunya yuzen, yang konon juga memberi pengaruh pada batik.
Momen ini sempat muncul kembali pada awal abad ke-20, kala beberapa orang Jepang mengembangkan usaha batik di Indonesia. Dari sinilah lahir kain Hokokai, jenis batik khas Pekalongan yang berkembang pesat pada masa pendudukan Jepang, dengan corak bunga dan burung khas Jepang.
Bagi pengunjung Indonesia, pameran ini menghadirkan refleksi menarik. Teknik pewarnaan yuzen yang menggunakan lem beras ketan, misalnya, memiliki kemiripan filosofi dengan batik tulis yang memakai malam panas.
Sementara itu, kilau Nishijin-ori, teknik tenun dari Kyoto mengingatkan pada gemerlap songket Sumatra. Terlihat pula bagaimana senarai kimono dalam pameran ini juga digunakan untuk kesenian tradisi Noh, salah satu bentuk teater klasik Jepang yang muncul pada abad ke-14.
Tak hanya menampilkan koleksi bersejarah, pameran ini juga diiringi dengan rangkaian lokakarya budaya Jepang yang digelar setiap akhir pekan hingga pameran berakhir. Kegiatan ini juga dapat diikuti secara gratis, sementara tiket masuk mengikuti tarif reguler yang ditetapkan oleh museum.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Abi Kusno, menyampaikan bahwa pameran ini menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Jepang, menunjukkan bahwa tradisi wastra bukan hanya karya estetika, tetapi juga simbol pengetahuan, identitas, serta hubungan lintas waktu antarbangsa.
“Saya berharap publik juga dapat melihat bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan yang dapat terus kita anyam bersama,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Terbuat dari sutra, kimono ini memancarkan kesan mewah. Pada masanya, furisode—kimono dengan lengan berayun panjang— ini menjadi busana formal bagi wanita muda yang menampilkan lambang keluarga. Motifnya dikerjakan dengan berbagai teknik melukis langsung menggunakan lem berwarna.
Kimono ini adalah salah satu koleksi wastra Jepang dari Museum Nasional Tokyo yang saat ini dipamerkan di Museum Nasional, Jakarta. Dibungkus dalam tajuk Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang, pameran ini berlangsung hingga 7 Desember 2025.
Baca juga: Wastra Nusantara Koleksi Dewi Motik di Pameran 80 Kain Indonesia
Memasuki ruang pamer, pengunjung langsung disambut dengan rentetan kimono beragam corak. Ada yang menggambarkan liana bunga empat musim dengan warna cerah, hingga corak tirai bambu dan kipas menjuntai yang justru dikontraskan dengan palet pekat.
Kepulauan Jepang yang terletak di zona iklim sedang memang mempengaruhi masyarakat di sana dalam mengeksplorasi kain wastra. Kendati berbeda dengan Indonesia yang berada di wilayah tropis, kedua negara ini sama-sama menghasilkan teknik pewarnaan yang rumit dan sarat makna.
Perbedaan utamanya terletak pada penggunaan medium. Jika di Indonesia menggunakan lilin, di Jepang justru menggambar garis luar dengan lem, menampilkan corak beragam warna dengan menyelipkan gradasi halus menggunakan kuas lewat metode bingata dan yuzen.

Zoom out kimono dalam pameran bertajuk “Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Bingata adalah teknik stensil khas Okinawa yang memakai cetakan pola dan pasta pelindung untuk menciptakan warna-warna cerah dan kontras. Adapun yuzen, berasal dari Kyoto, merupakan metode melukis langsung di atas kain sutra menggunakan kuas untuk menghasilkan gradasi lembut dan motif yang anggun.
Misalnya terlihat dari kimono Tirai Bambu dan Kipas Kayu Hinoki. Kimono pengantin wanita ini bermotif pembawa keberuntungan. Coraknya dibuat dengan teknik pewarnaan yuzen, di mana pola digambar menggunakan pasta khusus sebagai pembatas, lalu diisi dengan berbagai warna secara teliti untuk menciptakan detail sempurna.
Sementara itu, teknik bingata hadir dalam kimono bertajuk With Coral Trees, yang menggambarkan bunga deigo tersusun rapat. Pewarnaannya dilakukan dengan menyesuaikan kertas pola secara tepat agar kedua sisinya membentuk corak yang utuh. Cara ini membutuhkan kesabaran dan keterampilan tinggi.
Dari teknik pewarnaan yang rumit itu, tampak bahwa seni wastra bukan sekadar hasil keterampilan, melainkan cermin pandangan dan perjalanan budaya. Pameran Jalinan Waktu pun membuka ruang perenungan atas kisah dan pertukaran yang menautkan identitas tekstil di Asia Timur dan Tenggara.
Catatan Historis
Kendati tidak memiliki hubungan langsung secara genealogis, batik dan kimono sebenarnya beririsan secara historis dan kultural dalam konteks pertukaran seni tekstil di kawasan. Namun, hubungan ini lebih bersifat pengaruh lintas budaya ketimbang asal-usul yang sama.Menurut Oyama, pada awal abad ke-17, kalangan bangsawan di Indonesia sudah mengimpor sarasa, kain bermotif hasil teknik pewarnaan dan pencetakan dari India Selatan yang dirancang khusus untuk memenuhi selera lokal melalui perantara pedagang Belanda.
Pesisir Koromandel di timur India juga mengekspor kain sarasa dengan desain yang ditujukan bagi samurai, tuan tanah, dan pedagang kaya di Jepang. Arkian, sarasa menjadi inspirasi penting dalam perkembangan motif wastra Jepang, salah satunya yuzen, yang konon juga memberi pengaruh pada batik.
Momen ini sempat muncul kembali pada awal abad ke-20, kala beberapa orang Jepang mengembangkan usaha batik di Indonesia. Dari sinilah lahir kain Hokokai, jenis batik khas Pekalongan yang berkembang pesat pada masa pendudukan Jepang, dengan corak bunga dan burung khas Jepang.

Senarai potret perempuan Jepang mengenakan kimono untuk kesenian tradisi Noh, dalam pameran bertajuk “Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Bagi pengunjung Indonesia, pameran ini menghadirkan refleksi menarik. Teknik pewarnaan yuzen yang menggunakan lem beras ketan, misalnya, memiliki kemiripan filosofi dengan batik tulis yang memakai malam panas.
Sementara itu, kilau Nishijin-ori, teknik tenun dari Kyoto mengingatkan pada gemerlap songket Sumatra. Terlihat pula bagaimana senarai kimono dalam pameran ini juga digunakan untuk kesenian tradisi Noh, salah satu bentuk teater klasik Jepang yang muncul pada abad ke-14.
Tak hanya menampilkan koleksi bersejarah, pameran ini juga diiringi dengan rangkaian lokakarya budaya Jepang yang digelar setiap akhir pekan hingga pameran berakhir. Kegiatan ini juga dapat diikuti secara gratis, sementara tiket masuk mengikuti tarif reguler yang ditetapkan oleh museum.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Abi Kusno, menyampaikan bahwa pameran ini menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Jepang, menunjukkan bahwa tradisi wastra bukan hanya karya estetika, tetapi juga simbol pengetahuan, identitas, serta hubungan lintas waktu antarbangsa.
“Saya berharap publik juga dapat melihat bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan yang dapat terus kita anyam bersama,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.