Co-Founder Netflix Marc Randolph (sumber: instagram Marcrandolph)

Kebiasaan Pendiri Netflix Marc Randolph untuk Jaga Keseimbangan Hidup

11 November 2025   |   12:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Menjadi salah satu pendiri Netflix identik dengan ritme kerja padat dan tekanan besar. Namun, Marc Randolph menunjukkan bahwa kesuksesan tidak harus mengorbankan waktu pribadi. Dalam wawancaranya dengan Fortune, ia membagikan prinsip sederhana yang membantunya tetap seimbang selama lebih dari tiga dekade.

Kebiasaannya mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang, tetapi sangat jarang dilakukan oleh para eksekutif di dunia startup. Randolph mengaku selalu berhenti bekerja tepat pukul lima sore setiap hari Selasa, apa pun kondisinya. Ia tidak membiarkan rapat, urusan kantor, atau tekanan pekerjaan mengganggu komitmen tersebut.

Baca juga: Jalan Kaki 10 Menit, Kebiasaan Sederhana di Balik Kejeniusan Steve Jobs

“Selama lebih dari tiga puluh tahun saya punya batas keras setiap Selasa. Hujan atau cerah, saya selalu pergi pukul lima sore dan menghabiskan malam dengan sahabat saya,” ujar Randolph seperti dikutip dari Fortune.

Ia menambahkan bahwa tidak ada satu hal pun yang boleh menghalangi rutinitas itu. “Tidak ada yang boleh mengganggu waktu itu,” kata Randolph, mengutip dari Fortune. Kebiasaan tersebut menjadi cara dirinya menjaga kewarasan, membangun keseimbangan hidup, dan memastikan bahwa karier tidak menelan seluruh ruang pribadi.

Rutinitas sederhana itu ternyata menjadi bagian penting dari filosofi hidup Randolph. Ia percaya bahwa kreativitas dan ketajaman berpikir justru tumbuh ketika seseorang memiliki waktu jeda dari rutinitas kerja yang padat. Dengan memisahkan waktu kerja dan kehidupan pribadi secara tegas, ia merasa lebih fokus saat bekerja dan lebih hadir secara emosional ketika bersama keluarga atau teman.

Melansir dari Fortune, Randolph menilai banyak profesional modern yang terjebak dalam budaya kerja tanpa henti hingga kehilangan arah. Ia mengingatkan bahwa kesibukan bukan tanda produktivitas, melainkan bisa menjadi bentuk pelarian dari refleksi diri. “Kita sering berpikir kalau kita sibuk berarti kita berguna, padahal tidak selalu begitu”.

Kebiasaan pulang pukul lima sore setiap Selasa juga menggambarkan prinsip dasar yang ia bawa sejak awal mendirikan Netflix. Randolph percaya bahwa kerja keras harus disertai dengan kemampuan menjaga keseimbangan hidup agar energi dan semangat tetap terjaga dalam jangka panjang. Ia bahkan menganggap aturan kecil itu sebagai bagian dari kesuksesannya dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.

Di tengah budaya kerja yang semakin menuntut jam panjang dan mobilitas tinggi, kisah Randolph menjadi pengingat penting bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa lama seseorang bekerja, tetapi dari seberapa bijak ia mengatur waktunya.

Ia menjadi contoh nyata bahwa bahkan seorang pendiri perusahaan besar pun tetap bisa memprioritaskan kehidupan pribadi tanpa kehilangan performa profesionalnya.

Cerita Marc Randolph seolah menjadi refleksi bagi banyak pekerja di era modern, termasuk di Indonesia, di mana keseimbangan kerja dan kehidupan sering kali terabaikan. Dengan langkah sederhana seperti menetapkan waktu pulang yang konsisten, setiap orang sebenarnya bisa belajar untuk lebih menghargai batas antara karier dan kehidupan pribadi.

Seperti yang dibuktikan Randolph, kesuksesan sejati bukan hanya tentang membangun perusahaan besar, tetapi juga tentang mampu menjaga diri agar tetap utuh di tengah kesibukan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Mengenal Fenomena Moonlighting, Ketika Satu Pekerjaan Tak Lagi Cukup

BERIKUTNYA

Pesona Bunga Telang, Pewarna Alami dengan Segudang Khasiat untuk Kesehatan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga