Begini Strategi Merencanakan Pendidikan Anak Sejak Dini
10 November 2025 |
17:30 WIB
Biaya pendidikan cenderung meningkat setiap tahunnya, sehingga penting bagi orang tua untuk menyusun rencana tabungan sejak awal. Jika persiapan ditunda, beban keuangan dapat menjadi jauh lebih berat ketika kebutuhan pendidikan anak mulai mendesak.
Head of Planning OneShildt Financial Planning, Agustina Fitria Aryani, menjelaskan bahwa kenaikan biaya pendidikan merupakan salah satu alasan utama pentingnya menyiapkan dana pendidikan sejak awal. Menurutnya, orang tua perlu memiliki bekal keuangan yang kuat agar perencanaan pendidikan tidak mengganggu kebutuhan keluarga lainnya.
Baca juga: Hypereport: Menyimak Sederet Tantangan Pendidikan Indonesia di Usia 80 Tahun Merdeka
Oleh karena itu, sebelum mulai mengalokasikan dana pendidikan, ada beberapa hal mendasar yang idealnya sudah terpenuhi. Pertama, keluarga perlu memiliki dana darurat sebesar 3–6 kali pengeluaran bulanan. Kedua, pencari nafkah utama harus memiliki perlindungan jiwa. Ketiga, seluruh anggota keluarga sebaiknya memiliki proteksi kesehatan, baik melalui BPJS Kesehatan, fasilitas kantor, maupun asuransi tambahan.
Keempat, orang tua juga perlu memastikan sudah ada rencana dana hari tua, misalnya melalui Jaminan Hari Tua atau Jaminan Pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan. Kelima, bagi yang sedang menantikan kelahiran anak berikutnya, penting juga menyiapkan kepastian biaya persalinan, baik melalui fasilitas kantor maupun tabungan khusus.
Setelah fondasi finansial tersebut aman, barulah perhitungan dana pendidikan dapat dilakukan sesuai pilihan jalur pendidikan. Orang tua perlu merencanakan sedini mungkin apakah anak akan bersekolah di lembaga negeri, swasta, atau homeschooling. Setiap pilihan memiliki kebutuhan biaya berbeda.
"Pilihan tersebut bergantung pada kondisi anak [apakah ada berkebutuhan khusus], lalu visi jangka panjang apa yang ingin dikejar [domestik atau internasional]. Lakukan survei biaya pendidikan berbagai jalur tersebut, minimal utk level TK hingga S1," katanya.
Setelah mengetahui biaya pendidikan saat ini, langkah berikutnya adalah memperhitungkan inflasi tahunan. Misalnya, uang pangkal TK saat ini sebesar Rp5 juta. Jika anak baru akan masuk TK dalam empat tahun ke depan dan inflasi biaya pendidikan diasumsikan 10% per tahun, maka biaya tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp7,3 juta ketika waktu pendaftarannya tiba.
Contoh lain, biaya kuliah per semester saat ini Rp5 juta. Dengan asumsi anak mulai kuliah dalam 17 tahun dan inflasi tetap 10% per tahun, maka biayanya diprediksi naik menjadi sekitar Rp25,2 juta per semester. Jika total durasi kuliah delapan semester, maka dana yang perlu dipersiapkan kurang lebih mencapai Rp202,17 juta.
"Oleh karena itu, sebenarnya sangat dianjurkan menabung dana darurat segera setelah berpenghasilan, bukan setelah punya anak. Sehingga masih cukup waktu utk mempersiapkan dana pendidikannya," imbuhnya.
Dalam memilih tempat menyimpan dana pendidikan, penyesuaian perlu dilakukan berdasarkan jangka waktu yang ingin dicapai. Prinsip dasar yang perlu diingat adalah semakin tinggi potensi imbal hasil, semakin besar pula risikonya, sedangkan instrumen berisiko rendah umumnya menawarkan hasil yang lebih kecil.
Untuk kebutuhan jangka pendek hingga maksimal tiga tahun, tabungan pendidikan dapat menjadi pilihan karena hasilnya relatif stabil, meskipun tingkat bunga umumnya tidak secepat kenaikan inflasi biaya pendidikan. Alternatif lain adalah reksa dana pasar uang yang cenderung memiliki risiko paling rendah di antara jenis reksa dana lainnya.
Kemudian, emas juga dapat dipertimbangkan, terutama ketika rencana menyekolahkan anak masih ada pada jangka menengah sekitar 3–10 tahun. Hal ini penting karena jika pada jangka sangat pendek, harga emas bisa bergerak kurang menguntungkan akibat selisih harga jual dan beli.
Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi opsi untuk kebutuhan jangka menengah sekitar 5–10 tahun. Adapun reksa dana yang mengandung saham memiliki fluktuasi yang lebih tinggi, sehingga lebih sesuai untuk tujuan jangka panjang di atas 10 tahun atau bagi mereka yang memiliki profil risiko lebih agresif.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Head of Planning OneShildt Financial Planning, Agustina Fitria Aryani, menjelaskan bahwa kenaikan biaya pendidikan merupakan salah satu alasan utama pentingnya menyiapkan dana pendidikan sejak awal. Menurutnya, orang tua perlu memiliki bekal keuangan yang kuat agar perencanaan pendidikan tidak mengganggu kebutuhan keluarga lainnya.
Baca juga: Hypereport: Menyimak Sederet Tantangan Pendidikan Indonesia di Usia 80 Tahun Merdeka
Oleh karena itu, sebelum mulai mengalokasikan dana pendidikan, ada beberapa hal mendasar yang idealnya sudah terpenuhi. Pertama, keluarga perlu memiliki dana darurat sebesar 3–6 kali pengeluaran bulanan. Kedua, pencari nafkah utama harus memiliki perlindungan jiwa. Ketiga, seluruh anggota keluarga sebaiknya memiliki proteksi kesehatan, baik melalui BPJS Kesehatan, fasilitas kantor, maupun asuransi tambahan.
Keempat, orang tua juga perlu memastikan sudah ada rencana dana hari tua, misalnya melalui Jaminan Hari Tua atau Jaminan Pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan. Kelima, bagi yang sedang menantikan kelahiran anak berikutnya, penting juga menyiapkan kepastian biaya persalinan, baik melalui fasilitas kantor maupun tabungan khusus.
Setelah fondasi finansial tersebut aman, barulah perhitungan dana pendidikan dapat dilakukan sesuai pilihan jalur pendidikan. Orang tua perlu merencanakan sedini mungkin apakah anak akan bersekolah di lembaga negeri, swasta, atau homeschooling. Setiap pilihan memiliki kebutuhan biaya berbeda.
"Pilihan tersebut bergantung pada kondisi anak [apakah ada berkebutuhan khusus], lalu visi jangka panjang apa yang ingin dikejar [domestik atau internasional]. Lakukan survei biaya pendidikan berbagai jalur tersebut, minimal utk level TK hingga S1," katanya.
Setelah mengetahui biaya pendidikan saat ini, langkah berikutnya adalah memperhitungkan inflasi tahunan. Misalnya, uang pangkal TK saat ini sebesar Rp5 juta. Jika anak baru akan masuk TK dalam empat tahun ke depan dan inflasi biaya pendidikan diasumsikan 10% per tahun, maka biaya tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp7,3 juta ketika waktu pendaftarannya tiba.
Contoh lain, biaya kuliah per semester saat ini Rp5 juta. Dengan asumsi anak mulai kuliah dalam 17 tahun dan inflasi tetap 10% per tahun, maka biayanya diprediksi naik menjadi sekitar Rp25,2 juta per semester. Jika total durasi kuliah delapan semester, maka dana yang perlu dipersiapkan kurang lebih mencapai Rp202,17 juta.
"Oleh karena itu, sebenarnya sangat dianjurkan menabung dana darurat segera setelah berpenghasilan, bukan setelah punya anak. Sehingga masih cukup waktu utk mempersiapkan dana pendidikannya," imbuhnya.

Anak sekolah (Sumber gambar: Unsplash/ CDC)
Produk Finansial
Dalam memilih tempat menyimpan dana pendidikan, penyesuaian perlu dilakukan berdasarkan jangka waktu yang ingin dicapai. Prinsip dasar yang perlu diingat adalah semakin tinggi potensi imbal hasil, semakin besar pula risikonya, sedangkan instrumen berisiko rendah umumnya menawarkan hasil yang lebih kecil.Untuk kebutuhan jangka pendek hingga maksimal tiga tahun, tabungan pendidikan dapat menjadi pilihan karena hasilnya relatif stabil, meskipun tingkat bunga umumnya tidak secepat kenaikan inflasi biaya pendidikan. Alternatif lain adalah reksa dana pasar uang yang cenderung memiliki risiko paling rendah di antara jenis reksa dana lainnya.
Kemudian, emas juga dapat dipertimbangkan, terutama ketika rencana menyekolahkan anak masih ada pada jangka menengah sekitar 3–10 tahun. Hal ini penting karena jika pada jangka sangat pendek, harga emas bisa bergerak kurang menguntungkan akibat selisih harga jual dan beli.
Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi opsi untuk kebutuhan jangka menengah sekitar 5–10 tahun. Adapun reksa dana yang mengandung saham memiliki fluktuasi yang lebih tinggi, sehingga lebih sesuai untuk tujuan jangka panjang di atas 10 tahun atau bagi mereka yang memiliki profil risiko lebih agresif.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.