Saat Sepak Bola, Kolonialisme, dan Identitas Bertemu di Panggung “Empire”
08 November 2025 |
18:01 WIB
Lembar demi lembar arsip dalam album foto itu secara bergantian tampil diperbesar di latar panggung. Sesekali memvisualkan para pemain sepak bola, suasana kapal yang menyeberangi Terusan Suez, hingga kerumunan orang Eropa yang tiba di Jawa dan disambut dengan tabuhan gamelan.
Di sela pertunjukan, Marten Schmidt, dalang sekaligus narator, menggerakkan jemari untuk memindai album. Suaranya lantang, membacakan catatan harian Suwandi, kakek buyutnya, dalam bahasa Jerman, Belanda, Inggris, dan Indonesia. Cerita dimulai pada Mei 1934 saat sang kakek berangkat menuju Hindia Belanda.
Baca juga: Festival Musikal Indonesia Hadir Lagi November 2025, 12 Pertunjukan Siap Digelar di TIM Cikini
Inilah salah satu adegan dalam pertunjukan Empire, Rooting for The Anti Hero, yang digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (7/11/2025) malam. Dipentaskan di panggung arena terbuka, lakon ini menyingkap bagaimana sepak bola pernah menjadi alat kekuasaan kolonial dan simbol supremasi Belanda.
Empire menghidupkan kembali kisah perjalanan tim sepak bola putra asal Austria dalam petualangan naif sekaligus hedonistik mereka ke Hindia Belanda pada tahun 1934. Bagi para pemuda ini, tanah jajahan itu tampak seperti taman bermain penuh pesta, perempuan Sunda yang cantik, dan peluang untuk mengadu nasib.
Terinspirasi dari diary sang kakek buyut, Marten mengolahnya menjadi pertunjukan yang jenaka namun sesekali tragis. Dari sudut pandang sang kakek, dia menelusuri kembali entitas dirinya sebagai keturunan campuran Austria–Indonesia serta bagaimana warisan kolonial membentuk identitas dan posisi sosial seseorang.
Premisnya sederhana. Suwandi, sang kakek, adalah salah satu dari rombongan pemain sepak bola asal Austria yang datang ke Hindia Belanda. Dalam perjalanan ini, dia menuliskan petualangannya sebagai kuli pembawa koper hingga pertemuannya dengan para pembesar Hindia Belanda di Surabaya, Bandung, dan Semarang.
Dibungkus laiknya performance naratif, Empire menghadirkan pertunjukan lintas bahasa yang unik tentang kolonialisme, dengan lanskap bunyi ilusi yang mencekam. Mereka memadukan irama techno dan gamelan garapan musisi Austria Anna Anderluh bersama Komunitas Gamelan Mutihan.
Sutradara Franz von Strolchen mengatakan, kisah Empire bukanlah hasil pencarian, melainkan datang kepadanya secara kebetulan. Momen itu terjadi ketika dia menemukan arsip dan potongan berita tentang tim sepak bola Austria yang berkunjung ke Hindia Belanda tahun 1934, kisah yang bahkan di Austria sendiri tidak dikenal.
“Cerita seperti ini tidak saya cari, merekalah yang menemukan saya,” ujar Franz dalam sesi diskusi setelah pementasan. “Prosesnya kolaboratif, di mana Anna tertarik pada gamelan, Marten menelusuri akar keluarganya, dan keduanya bertemu di titik persilangan antara sejarah, musik, dan identitas.”
Sejalan dengan itu, Marten menegaskan bahwa pertunjukan ini berangkat dari catatan harian sang kakek, namun dia juga menambahkan elemen fiktif dalam konteks narasi artistik untuk menciptakan letupan dramaturgis.
“Saya merasa tidak nyaman membagikan kisah pribadi saya di sini, karena di Indonesia, seseorang yang punya darah Barat sering kali memiliki privilese tertentu,” katanya.
Anna Anderluh menuturkan bahwa musik dalam Empire lahir dari eksperimen di studio Graz, Austria. Di sana dia menemukan seperangkat gamelan, merekam suaranya sendiri, mencoba akor-akor, dan memadukannya dengan dentuman elektronik.
“Saya merekam suara saya, lalu mencoba bagaimana nada gamelan bisa cocok dengan harmoni Barat. Setiap instrumen punya perannya sendiri untuk menghadirkan suspense,” ujarnya.
Berlangsung sekitar 90 menit, sejumlah penonton mengaku tersentuh oleh tema tubuh di antara atau ketidakmenentuan identitas. Beberapa menyebut Empire sebagai pengalaman seperti menonton docu-series Netflix secara langsung yang memadukan dokumenter, teater, dan konser musik dalam satu tarikan napas.
Baca juga: Konduktor Wishnu Dewanta Ungkap Tantangan Pertunjukan Beauty and The Beast in Concert
Di sela pertunjukan, Marten Schmidt, dalang sekaligus narator, menggerakkan jemari untuk memindai album. Suaranya lantang, membacakan catatan harian Suwandi, kakek buyutnya, dalam bahasa Jerman, Belanda, Inggris, dan Indonesia. Cerita dimulai pada Mei 1934 saat sang kakek berangkat menuju Hindia Belanda.
Baca juga: Festival Musikal Indonesia Hadir Lagi November 2025, 12 Pertunjukan Siap Digelar di TIM Cikini
Inilah salah satu adegan dalam pertunjukan Empire, Rooting for The Anti Hero, yang digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (7/11/2025) malam. Dipentaskan di panggung arena terbuka, lakon ini menyingkap bagaimana sepak bola pernah menjadi alat kekuasaan kolonial dan simbol supremasi Belanda.
Empire menghidupkan kembali kisah perjalanan tim sepak bola putra asal Austria dalam petualangan naif sekaligus hedonistik mereka ke Hindia Belanda pada tahun 1934. Bagi para pemuda ini, tanah jajahan itu tampak seperti taman bermain penuh pesta, perempuan Sunda yang cantik, dan peluang untuk mengadu nasib.
Terinspirasi dari diary sang kakek buyut, Marten mengolahnya menjadi pertunjukan yang jenaka namun sesekali tragis. Dari sudut pandang sang kakek, dia menelusuri kembali entitas dirinya sebagai keturunan campuran Austria–Indonesia serta bagaimana warisan kolonial membentuk identitas dan posisi sosial seseorang.
Premisnya sederhana. Suwandi, sang kakek, adalah salah satu dari rombongan pemain sepak bola asal Austria yang datang ke Hindia Belanda. Dalam perjalanan ini, dia menuliskan petualangannya sebagai kuli pembawa koper hingga pertemuannya dengan para pembesar Hindia Belanda di Surabaya, Bandung, dan Semarang.
Dibungkus laiknya performance naratif, Empire menghadirkan pertunjukan lintas bahasa yang unik tentang kolonialisme, dengan lanskap bunyi ilusi yang mencekam. Mereka memadukan irama techno dan gamelan garapan musisi Austria Anna Anderluh bersama Komunitas Gamelan Mutihan.
Sutradara Franz von Strolchen mengatakan, kisah Empire bukanlah hasil pencarian, melainkan datang kepadanya secara kebetulan. Momen itu terjadi ketika dia menemukan arsip dan potongan berita tentang tim sepak bola Austria yang berkunjung ke Hindia Belanda tahun 1934, kisah yang bahkan di Austria sendiri tidak dikenal.
“Cerita seperti ini tidak saya cari, merekalah yang menemukan saya,” ujar Franz dalam sesi diskusi setelah pementasan. “Prosesnya kolaboratif, di mana Anna tertarik pada gamelan, Marten menelusuri akar keluarganya, dan keduanya bertemu di titik persilangan antara sejarah, musik, dan identitas.”
Sejalan dengan itu, Marten menegaskan bahwa pertunjukan ini berangkat dari catatan harian sang kakek, namun dia juga menambahkan elemen fiktif dalam konteks narasi artistik untuk menciptakan letupan dramaturgis.
“Saya merasa tidak nyaman membagikan kisah pribadi saya di sini, karena di Indonesia, seseorang yang punya darah Barat sering kali memiliki privilese tertentu,” katanya.
Anna Anderluh menuturkan bahwa musik dalam Empire lahir dari eksperimen di studio Graz, Austria. Di sana dia menemukan seperangkat gamelan, merekam suaranya sendiri, mencoba akor-akor, dan memadukannya dengan dentuman elektronik.
“Saya merekam suara saya, lalu mencoba bagaimana nada gamelan bisa cocok dengan harmoni Barat. Setiap instrumen punya perannya sendiri untuk menghadirkan suspense,” ujarnya.
Berlangsung sekitar 90 menit, sejumlah penonton mengaku tersentuh oleh tema tubuh di antara atau ketidakmenentuan identitas. Beberapa menyebut Empire sebagai pengalaman seperti menonton docu-series Netflix secara langsung yang memadukan dokumenter, teater, dan konser musik dalam satu tarikan napas.
Baca juga: Konduktor Wishnu Dewanta Ungkap Tantangan Pertunjukan Beauty and The Beast in Concert
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.