Konduktor Wishnu Dewanta Ungkap Tantangan Pertunjukan Beauty and The Beast in Concert
28 September 2025 |
20:00 WIB
Pertunjukan Beauty and the Beast in Concert yang digelar 27-28 September 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta, berhasil memukau banyak penonton. Konduktor Wishnu Dewanta memimpin penampilan ini dan mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah sinkronisasi antara musik dengan film.
Wishnu mengatakan bahwa seluruh musisi yang terlibat sudah mendapatkan partitur resmi dari pemilik lisensi Disney. Jadi, para musisi diwajibkan untuk menguasai partitur tersebut sebelum latihan dimulai. “Para musisi harus datang sudah siap bermain, bukan latihan partitur pada saat itu,” ujarnya di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Minggu, 28 September 2025.
Baca juga: Hari Terakhir, Disney’s Beauty and The Beast In Concert Hadir di Ciputra Artpreneur
Dengan begitu, dia mengungkapkan, tantangan utama dalam pertunjukan Beauty and the Beast in Concert adalah memastikan musik mengikuti adegan film secara tepat. Sistem pertunjukan sudah diatur sedemikian rupa, dengan tempo dan ritme dikendalikan oleh klik, yaitu ketukan yang terdengar oleh para musisi melalui earphone.
Latihan difokuskan terhadap harmonisasi scoring dengan telinga musisi, sementara konduktor bertugas memastikan mood musik tersampaikan sesuai nuansa adegan.
Wishnu menambahkan bahwa pengalamannya sebagai konduktor dalam pertunjukan musikal sebelumnya membuatnya sudah familiar dengan sistem sinkronisasi ini. Namun, Beauty and the Beast in Concert lebih kompleks karena temponya berubah-ubah setiap detik. “Temponya dinamis,” ujarnya. Kondisi ini memaksa Wishnu dan para musisi untuk belajar lebih intensif agar seluruh scoring dapat dimainkan secara presisi.
Jumlah scoring yang harus diiringi juga cukup banyak. Musik tidak hanya membawakan lagu utama, tetapi juga mengiringi percakapan dan adegan film. Hal ini membuat tantangan lebih besar dibanding sekadar memainkan lagu. Konduktor harus memastikan setiap bagian musik menekankan mood yang tepat agar cerita film tersampaikan dengan maksimal.
Untuk menyampaikan nuansa film, Wishnu menggunakan pendekatan yang juga dinamis. Ia menekankan kontras antara bagian yang keras atau kuat dan bagian yang lembut agar ekspresi musik terasa jelas. Meskipun partitur sudah menunjukkan arahannya, konduktor menentukan seberapa keras atau lembut bagian tertentu dalam musik dimainkan sesuai interpretasi artistik dan kebutuhan adegan.
Wishnu mengatakan, Disney memberikan kebebasan penuh kepada konduktor dalam hal interpretasi musikal. Namun, beberapa hal tetap dibatasi, misalnya aransemen scoring yang harus mengikuti partitur resmi. “Jadi, kami semua memainkan partitur lisensinya Disney,” jelas Wishnu.
Dalam pertunjukan ini, semua instrumen dimainkan secara live oleh 65 musisi, dengan kombinasi pemain lokal dan internasional. Elemen yang diambil langsung dari film hanya vokal dan beberapa efek suara, seperti suara air.
Wishnu mengatakan bahwa seluruh musisi yang terlibat sudah mendapatkan partitur resmi dari pemilik lisensi Disney. Jadi, para musisi diwajibkan untuk menguasai partitur tersebut sebelum latihan dimulai. “Para musisi harus datang sudah siap bermain, bukan latihan partitur pada saat itu,” ujarnya di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Minggu, 28 September 2025.
Baca juga: Hari Terakhir, Disney’s Beauty and The Beast In Concert Hadir di Ciputra Artpreneur
Dengan begitu, dia mengungkapkan, tantangan utama dalam pertunjukan Beauty and the Beast in Concert adalah memastikan musik mengikuti adegan film secara tepat. Sistem pertunjukan sudah diatur sedemikian rupa, dengan tempo dan ritme dikendalikan oleh klik, yaitu ketukan yang terdengar oleh para musisi melalui earphone.
Latihan difokuskan terhadap harmonisasi scoring dengan telinga musisi, sementara konduktor bertugas memastikan mood musik tersampaikan sesuai nuansa adegan.
Wishnu menambahkan bahwa pengalamannya sebagai konduktor dalam pertunjukan musikal sebelumnya membuatnya sudah familiar dengan sistem sinkronisasi ini. Namun, Beauty and the Beast in Concert lebih kompleks karena temponya berubah-ubah setiap detik. “Temponya dinamis,” ujarnya. Kondisi ini memaksa Wishnu dan para musisi untuk belajar lebih intensif agar seluruh scoring dapat dimainkan secara presisi.
Jumlah scoring yang harus diiringi juga cukup banyak. Musik tidak hanya membawakan lagu utama, tetapi juga mengiringi percakapan dan adegan film. Hal ini membuat tantangan lebih besar dibanding sekadar memainkan lagu. Konduktor harus memastikan setiap bagian musik menekankan mood yang tepat agar cerita film tersampaikan dengan maksimal.
Untuk menyampaikan nuansa film, Wishnu menggunakan pendekatan yang juga dinamis. Ia menekankan kontras antara bagian yang keras atau kuat dan bagian yang lembut agar ekspresi musik terasa jelas. Meskipun partitur sudah menunjukkan arahannya, konduktor menentukan seberapa keras atau lembut bagian tertentu dalam musik dimainkan sesuai interpretasi artistik dan kebutuhan adegan.
Wishnu mengatakan, Disney memberikan kebebasan penuh kepada konduktor dalam hal interpretasi musikal. Namun, beberapa hal tetap dibatasi, misalnya aransemen scoring yang harus mengikuti partitur resmi. “Jadi, kami semua memainkan partitur lisensinya Disney,” jelas Wishnu.
Dalam pertunjukan ini, semua instrumen dimainkan secara live oleh 65 musisi, dengan kombinasi pemain lokal dan internasional. Elemen yang diambil langsung dari film hanya vokal dan beberapa efek suara, seperti suara air.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.