Forum Budaya Dunia, IPACS 2025 Bakal Digelar di Kupang
09 November 2025 |
10:08 WIB
Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Pasifik akan segera dipertemukan dalam sebuah forum kebudayaan lintas batas bertajuk Indonesia–Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025. Dalam forum ini, mereka akan berdialog dan berkolaborasi untuk memajukan kebudayaan antarbangsa.
IPACS 2025 dijadwalkan berlangsung pada 11–13 November 2025 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan mengusung tema Celebrating Shared Cultures and Community Wisdom. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog dan kolaborasi bagi para pemimpin budaya, seniman, dan akademisi dari berbagai negara kepulauan di Pasifik.
Baca juga: Kemenbud Ingin Bangun Lebih Banyak M Bloc Agar Ruang Seni Terus Bertumbuh
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, lebih dari sekadar pertemuan antarbangsa, IPACS 2025 dirancang sebagai jembatan budaya yang mempererat hubungan antarnegara melalui nilai-nilai tradisi dan warisan maritim yang sama, khususnya di kawasan Asia-Pasifik.
Dia menilai, IPACS juga dapat menjadi forum penting untuk merangkul negara-negara di kawasan Pasifik guna membahas isu-isu strategis di bidang kebudayaan sekaligus mempromosikan budaya Indonesia di kancah global. Forum ini, lanjutnya, menjadi bagian dari penguatan diplomasi budaya dan pembangunan berkelanjutan.
“Kegiatan ini mencakup pertemuan tingkat menteri, dialog budaya, pameran budaya dan kerajinan tradisional, pertunjukan kolaboratif, residensi, hingga pembahasan isu lingkungan yang menjadi perhatian serius di kawasan Pasifik,” paparnya dalam taklimat resmi.
Kupang dipilih menjadi tuan rumah bukan tanpa alasan. Kota ini, paparnya, berada di persimpangan antara Indonesia bagian timur dan negara-negara Pasifik. Dari kota pesisir inilah, dia berharap percakapan tentang laut, manusia, dan budaya di kawasan akan menemukan maknanya.
Forum ini akan dihadiri oleh perwakilan dari berbagai negara di kawasan Pasifik, para duta besar, seniman, lembaga kebudayaan, serta komunitas lokal. Selama tiga hari, IPACS akan menampilkan dialog tingkat menteri, sesi pleno tematik, pameran budaya, pertunjukan kolaboratif, hingga kunjungan edukatif ke situs budaya di Nusa Tenggara Timur.
Menjelang acara utama, serangkaian pra-kegiatan akan lebih dulu digelar. Salah satunya ialah program residensi budaya pada 3–10 November 2025 yang melibatkan perwakilan dari 10 negara Pasifik dan enam provinsi di Indonesia bagian timur. Mereka akan berkolaborasi menciptakan karya di tiga bidang, yakni kerajinan bambu, musik tradisional, dan tari.
Hasil dari proses tersebut akan dipresentasikan dalam pameran dan pertunjukan pada acara puncak. Melalui residensi ini, IPACS tak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan proses lintas budaya yang hidup—sebuah ruang belajar dan saling memahami antarbangsa.
Selain residensi, IPACS 2025 juga akan menampilkan Pameran Besar Pemajuan Kebudayaan Indonesia di Kawasan Timur. Pameran ini menyoroti keberagaman ekspresi budaya dan inovasi kreatif masyarakat pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari jaringan budaya Pasifik.
Salah satu agenda utama forum adalah Ministerial Dialogue bertema “Rich and Diverse Cultural Heritage of the Pacific Region as a Driver and Enabler of Sustainable Development.” Dalam dialog ini, para pemimpin kebudayaan akan membahas bagaimana warisan budaya dapat menjadi penggerak pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Forum ini juga diharapkan menghasilkan Joint Statement bertajuk “A Shared Vision for Sustainable and Resilient Pacific.” Dokumen tersebut akan memuat komitmen bersama antarnegara Pasifik untuk memperkuat kerja sama budaya, menghadapi perubahan iklim, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Fadli menegaskan, IPACS bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan ruang strategis untuk membangun jejaring budaya di kawasan. Ia menilai, diplomasi budaya menjadi semakin relevan di era kini ketika isu lingkungan, teknologi, dan identitas saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat global.
Hingga kini, sebanyak 17 negara kawasan Pasifik telah diundang, dan 12 di antaranya telah mengonfirmasi kehadiran. Forum ini juga diharapkan melahirkan gagasan konkret, mulai dari pembentukan jejaring residensi budaya permanen hingga kolaborasi ekonomi kreatif berbasis tradisi.
“Lewat IPACS, kita ingin menunjukkan bahwa kerja sama kebudayaan bisa menjadi pintu masuk menuju diplomasi yang lebih hangat dan setara. Budaya selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan manusia,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
IPACS 2025 dijadwalkan berlangsung pada 11–13 November 2025 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan mengusung tema Celebrating Shared Cultures and Community Wisdom. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog dan kolaborasi bagi para pemimpin budaya, seniman, dan akademisi dari berbagai negara kepulauan di Pasifik.
Baca juga: Kemenbud Ingin Bangun Lebih Banyak M Bloc Agar Ruang Seni Terus Bertumbuh
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, lebih dari sekadar pertemuan antarbangsa, IPACS 2025 dirancang sebagai jembatan budaya yang mempererat hubungan antarnegara melalui nilai-nilai tradisi dan warisan maritim yang sama, khususnya di kawasan Asia-Pasifik.
Dia menilai, IPACS juga dapat menjadi forum penting untuk merangkul negara-negara di kawasan Pasifik guna membahas isu-isu strategis di bidang kebudayaan sekaligus mempromosikan budaya Indonesia di kancah global. Forum ini, lanjutnya, menjadi bagian dari penguatan diplomasi budaya dan pembangunan berkelanjutan.
“Kegiatan ini mencakup pertemuan tingkat menteri, dialog budaya, pameran budaya dan kerajinan tradisional, pertunjukan kolaboratif, residensi, hingga pembahasan isu lingkungan yang menjadi perhatian serius di kawasan Pasifik,” paparnya dalam taklimat resmi.
Kupang dipilih menjadi tuan rumah bukan tanpa alasan. Kota ini, paparnya, berada di persimpangan antara Indonesia bagian timur dan negara-negara Pasifik. Dari kota pesisir inilah, dia berharap percakapan tentang laut, manusia, dan budaya di kawasan akan menemukan maknanya.
Forum ini akan dihadiri oleh perwakilan dari berbagai negara di kawasan Pasifik, para duta besar, seniman, lembaga kebudayaan, serta komunitas lokal. Selama tiga hari, IPACS akan menampilkan dialog tingkat menteri, sesi pleno tematik, pameran budaya, pertunjukan kolaboratif, hingga kunjungan edukatif ke situs budaya di Nusa Tenggara Timur.
Menjelang acara utama, serangkaian pra-kegiatan akan lebih dulu digelar. Salah satunya ialah program residensi budaya pada 3–10 November 2025 yang melibatkan perwakilan dari 10 negara Pasifik dan enam provinsi di Indonesia bagian timur. Mereka akan berkolaborasi menciptakan karya di tiga bidang, yakni kerajinan bambu, musik tradisional, dan tari.
Hasil dari proses tersebut akan dipresentasikan dalam pameran dan pertunjukan pada acara puncak. Melalui residensi ini, IPACS tak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan proses lintas budaya yang hidup—sebuah ruang belajar dan saling memahami antarbangsa.
Selain residensi, IPACS 2025 juga akan menampilkan Pameran Besar Pemajuan Kebudayaan Indonesia di Kawasan Timur. Pameran ini menyoroti keberagaman ekspresi budaya dan inovasi kreatif masyarakat pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari jaringan budaya Pasifik.
Salah satu agenda utama forum adalah Ministerial Dialogue bertema “Rich and Diverse Cultural Heritage of the Pacific Region as a Driver and Enabler of Sustainable Development.” Dalam dialog ini, para pemimpin kebudayaan akan membahas bagaimana warisan budaya dapat menjadi penggerak pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Forum ini juga diharapkan menghasilkan Joint Statement bertajuk “A Shared Vision for Sustainable and Resilient Pacific.” Dokumen tersebut akan memuat komitmen bersama antarnegara Pasifik untuk memperkuat kerja sama budaya, menghadapi perubahan iklim, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Fadli menegaskan, IPACS bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan ruang strategis untuk membangun jejaring budaya di kawasan. Ia menilai, diplomasi budaya menjadi semakin relevan di era kini ketika isu lingkungan, teknologi, dan identitas saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat global.
Hingga kini, sebanyak 17 negara kawasan Pasifik telah diundang, dan 12 di antaranya telah mengonfirmasi kehadiran. Forum ini juga diharapkan melahirkan gagasan konkret, mulai dari pembentukan jejaring residensi budaya permanen hingga kolaborasi ekonomi kreatif berbasis tradisi.
“Lewat IPACS, kita ingin menunjukkan bahwa kerja sama kebudayaan bisa menjadi pintu masuk menuju diplomasi yang lebih hangat dan setara. Budaya selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan manusia,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.