Mochi.Cozee: Kisah Pasangan Muda Mengubah Camilan Manis Menjadi Bisnis Sukses
09 November 2025 |
14:04 WIB
Dunia kuliner Indonesia terus diramaikan oleh inovasi anak muda yang berani mencoba hal baru. Salah satu kisah inspiratif datang dari pasangan muda Ryan Ricky Ananta dan Nabila Maulida Rijal, pendiri Mochi.Cozee, yang memulai perjalanan bisnis mereka dari nol saat masih menjadi mahasiswa.
Dengan semangat pantang menyerah dan kreativitas tinggi, keduanya berhasil mengubah camilan tradisional Jepang menjadi peluang usaha yang manis dan menjanjikan. Awalnya, Ryan dan Nabila tidak langsung menjual mochi. Mereka sempat berjualan cakwe di kantin kampus, mencoba mencari cara agar bisa mandiri secara finansial.
Namun, persaingan di dunia kuliner asin cukup ketat, membuat keduanya harus memutar otak untuk mencari ide lain. Dari situlah lahir gagasan untuk membuat mochi, sebuah camilan yang lembut, kenyal, dan digemari banyak orang.
Baca juga: Perjuangan Dua Brand Pottery Lokal yang Ubah Tanah Liat Jadi Karya Bernilai
“Awalnya kami jualan cakwe di kantin kampus,” ujar Nabila sambil tertawa mengenang masa awal perjuangan mereka. “Tapi karena pasar makanan asin sudah ramai, kami cari sesuatu yang lebih unik.”
Resep awal Mochi.Cozee pun tercipta berkat bantuan sang bibi yang sudah berpengalaman di bidang kuliner. Ryan dan Nabila tak segan bereksperimen dengan berbagai bahan dan rasa, hingga akhirnya menemukan komposisi yang pas.
“Kami kasih contoh varian dari pedagang lain, lalu dimodifikasi,” jelas Ryan. Dari situ, lahirlah beragam varian rasa yang menggoda, mulai dari strawberry cream, taro keju, matcha, tiramisu crunchy, hingga varian musiman seperti kurma coklat saat Ramadan.
Setiap rasa mereka sesuaikan dengan selera pelanggan, termasuk mengurangi kadar manis jika dirasa berlebihan. “Kalau ada yang bilang terlalu manis, kami ubah biar lebih seimbang,” tambah Nabila.
Tak hanya soal rasa, manajemen bisnis pun mereka kelola dengan matang. Ryan bertanggung jawab di bagian operasional dan keuangan, sementara Nabila fokus pada strategi pemasaran dan promosi. “Kami saling percaya dan tahu tanggung jawab masing-masing,” ujar Ryan.
Kerja sama itu berbuah hasil nyata. Mereka sempat memenangkan lomba proposal bisnis di kampus, yang kemudian menjadi modal awal untuk membuka stand pertama di area street food kampus.
Perjalanan mereka menuju kesuksesan tidak selalu mulus, namun semangat pantang menyerah membawa hasil yang manis. Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika video mereka berjualan di tengah hujan menjadi viral di TikTok.
“Kami enggak nyangka bisa FYP, pesanan langsung banyak banget,” ungkap Nabila. Berkat momen viral itu, Mochi.Cozee mulai dikenal luas dan kini mampu meraih omzet antara Rp10 juta hingga Rp30 juta per bulan. Mereka juga memperluas penjualan ke platform online seperti Shopee Food dan GrabFood, menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Meski harus membagi waktu antara kuliah dan magang, Ryan dan Nabila tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas produk dan pelayanan. “Kami belajar disiplin dan manajemen waktu. Tanggung jawab itu penting banget,” kata Ryan. Bagi mereka, bisnis bukan hanya soal keuntungan, tapi juga tentang proses belajar dan pembentukan karakter.
“Jangan takut duluan. Modal kami dulu cuma Rp30.000. Yang penting mulai dulu aja,” pesan Nabila.
Ke depan, pasangan muda ini berencana membuka cabang baru di sekitar Yogyakarta setelah menyelesaikan KKN. “Targetnya setelah KKN kami tambah cabang baru,” ujar Ryan dengan semangat.
Kisah Mochi.Cozee menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam dunia wirausaha. Dengan ketekunan, kerja sama, dan kemauan belajar, Ryan dan Nabila berhasil membuktikan bahwa keberhasilan bisa diraih dari ide sederhana yang dikerjakan dengan sepenuh hati.
Dari dapur kecil hingga stand kampus, mereka menjadikan mochi bukan sekadar camilan manis, melainkan simbol dari tekad, kreativitas, dan kerja keras anak muda yang ingin berdiri di atas kaki sendiri.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dengan semangat pantang menyerah dan kreativitas tinggi, keduanya berhasil mengubah camilan tradisional Jepang menjadi peluang usaha yang manis dan menjanjikan. Awalnya, Ryan dan Nabila tidak langsung menjual mochi. Mereka sempat berjualan cakwe di kantin kampus, mencoba mencari cara agar bisa mandiri secara finansial.
Namun, persaingan di dunia kuliner asin cukup ketat, membuat keduanya harus memutar otak untuk mencari ide lain. Dari situlah lahir gagasan untuk membuat mochi, sebuah camilan yang lembut, kenyal, dan digemari banyak orang.
Baca juga: Perjuangan Dua Brand Pottery Lokal yang Ubah Tanah Liat Jadi Karya Bernilai
“Awalnya kami jualan cakwe di kantin kampus,” ujar Nabila sambil tertawa mengenang masa awal perjuangan mereka. “Tapi karena pasar makanan asin sudah ramai, kami cari sesuatu yang lebih unik.”
Resep awal Mochi.Cozee pun tercipta berkat bantuan sang bibi yang sudah berpengalaman di bidang kuliner. Ryan dan Nabila tak segan bereksperimen dengan berbagai bahan dan rasa, hingga akhirnya menemukan komposisi yang pas.
“Kami kasih contoh varian dari pedagang lain, lalu dimodifikasi,” jelas Ryan. Dari situ, lahirlah beragam varian rasa yang menggoda, mulai dari strawberry cream, taro keju, matcha, tiramisu crunchy, hingga varian musiman seperti kurma coklat saat Ramadan.
Setiap rasa mereka sesuaikan dengan selera pelanggan, termasuk mengurangi kadar manis jika dirasa berlebihan. “Kalau ada yang bilang terlalu manis, kami ubah biar lebih seimbang,” tambah Nabila.
Tak hanya soal rasa, manajemen bisnis pun mereka kelola dengan matang. Ryan bertanggung jawab di bagian operasional dan keuangan, sementara Nabila fokus pada strategi pemasaran dan promosi. “Kami saling percaya dan tahu tanggung jawab masing-masing,” ujar Ryan.
Kerja sama itu berbuah hasil nyata. Mereka sempat memenangkan lomba proposal bisnis di kampus, yang kemudian menjadi modal awal untuk membuka stand pertama di area street food kampus.
Perjalanan mereka menuju kesuksesan tidak selalu mulus, namun semangat pantang menyerah membawa hasil yang manis. Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika video mereka berjualan di tengah hujan menjadi viral di TikTok.
“Kami enggak nyangka bisa FYP, pesanan langsung banyak banget,” ungkap Nabila. Berkat momen viral itu, Mochi.Cozee mulai dikenal luas dan kini mampu meraih omzet antara Rp10 juta hingga Rp30 juta per bulan. Mereka juga memperluas penjualan ke platform online seperti Shopee Food dan GrabFood, menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Meski harus membagi waktu antara kuliah dan magang, Ryan dan Nabila tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas produk dan pelayanan. “Kami belajar disiplin dan manajemen waktu. Tanggung jawab itu penting banget,” kata Ryan. Bagi mereka, bisnis bukan hanya soal keuntungan, tapi juga tentang proses belajar dan pembentukan karakter.
“Jangan takut duluan. Modal kami dulu cuma Rp30.000. Yang penting mulai dulu aja,” pesan Nabila.
Ke depan, pasangan muda ini berencana membuka cabang baru di sekitar Yogyakarta setelah menyelesaikan KKN. “Targetnya setelah KKN kami tambah cabang baru,” ujar Ryan dengan semangat.
Kisah Mochi.Cozee menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam dunia wirausaha. Dengan ketekunan, kerja sama, dan kemauan belajar, Ryan dan Nabila berhasil membuktikan bahwa keberhasilan bisa diraih dari ide sederhana yang dikerjakan dengan sepenuh hati.
Dari dapur kecil hingga stand kampus, mereka menjadikan mochi bukan sekadar camilan manis, melainkan simbol dari tekad, kreativitas, dan kerja keras anak muda yang ingin berdiri di atas kaki sendiri.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.