ilustrasi (sumber : Yan Krukau /pexels)

Regenerasi Bangsa di Era Baru, Saat Gotong Royong Jadi Nilai yang Hidup Kembali

04 November 2025   |   19:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah arus perubahan yang cepat dan tantangan global yang kian kompleks, satu nilai lama kembali menemukan relevansinya yaitu gotong royong. Lebih dari sekadar tradisi sosial, semangat kebersamaan ini kini terbukti menjadi kunci bagi proses regenerasi bangsa.

Laporan Regeneration dari Burson menegaskan bahwa kolaborasi lintas generasi mulai dari Baby Boomers hingga Gen Z akan menentukan seberapa siap Indonesia melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045.

Baca juga: Moms, Begini Cara Bangun Jiwa Kepemimpinan dan Entrepreneurship pada Gen Alpha

Laporan ini disusun berdasarkan empat pilar utama yang membentuk masa depan Indonesia yakni lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kepemimpinan. Keempatnya menggambarkan bagaimana nilai gotong royong dan kolaborasi bisa diterjemahkan ke dalam aksi nyata di berbagai bidang kehidupan.


1. Lingkungan: Kepemimpinan dan Aksi Nyata

Ketahanan lingkungan menjadi perhatian lintas generasi. Menariknya, 80% responden menilai bahwa faktor yang konkret seperti udara dan air bersih serta kesehatan masyarakat jauh lebih berpengaruh terhadap kesadaran lingkungan dibanding komitmen perubahan iklim yang masih dianggap abstrak.

Kesadaran ini mengandung makna gotong royong dalam bentuk baru yakni aksi kolektif yang berangkat dari hal-hal nyata. Sebanyak 91% responden sepakat bahwa pemimpin berperan krusial dalam menggerakkan aksi lingkungan, sementara 75% menekankan pentingnya keahlian kepemimpinan untuk mengatasi tantangan sosial dan ekologis.

Artinya, regenerasi kepemimpinan di bidang lingkungan tidak cukup hanya dengan wacana hijau, tetapi juga kemampuan untuk menginspirasi dan menggerakkan masyarakat agar ikut menjaga bumi bersama-sama.


2. Ekonomi: Membangun Pertumbuhan yang Bernilai dan Berkelanjutan

Gotong royong juga tampak dalam pandangan publik tentang masa depan ekonomi. Meski pelaku usaha diakui berperan penting dalam menggerakkan perekonomian, persepsi terhadap korporasi di Indonesia masih cenderung negatif.

Untuk mengubah hal ini, generasi masa kini dan mendatang mendorong perusahaan agar lebih transparan, bertanggung jawab, dan berpihak pada keberlanjutan.

Sebanyak 89% responden berlatar akademik percaya bahwa Bumi harus dipandang sebagai pemangku kepentingan utama dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Lebih dari 50% responden lintas generasi juga mendukung praktik produksi berkelanjutan, desain produk yang dapat didaur ulang, dan pengurangan limbah.

Kolaborasi antargenerasi di sektor ekonomi menjadi penting untuk memastikan pertumbuhan yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga menyejahterakan lingkungan dan masyarakat.


3. Teknologi: Menghubungkan Generasi, Menjembatani Ketimpangan

Dalam era digital, teknologi menjadi sarana utama untuk mempertemukan berbagai generasi. Laporan Burson menunjukkan bahwa 68% responden percaya teknologi dapat mengurangi ketimpangan ekonomi dan sosial, sementara 62% menilai Milenial memiliki keterampilan digital dan daya adaptasi tinggi untuk menghadapi tantangan tersebut.

Bagi Milenial dan Gen Z, teknologi bukan sekadar alat, tapi ruang kolaborasi lintas generasi. Generasi muda membawa ide dan inovasi, sementara generasi yang lebih senior membawa pengalaman dan kebijaksanaan. Sinergi ini bisa menciptakan tenaga kerja yang lebih kompeten dan berdaya saing di tengah ekonomi digital.


4. Kepemimpinan dan Mindset: Regenerasi sebagai Proses Belajar Bersama

Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, kepemimpinan masa depan harus dibangun di atas growth mindset yakni pola pikir yang berorientasi pada pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan.

Generasi Milenial kini dinilai paling siap memimpin, terutama di bidang teknologi (48%) dan lingkungan (39%). Sementara Gen Z dianggap sebagai generasi pemimpin berikutnya berkat dedikasi mereka terhadap keberlanjutan dan keadilan sosial.

Namun, regenerasi tidak akan berjalan tanpa dukungan generasi sebelumnya. Gen X dan Baby Boomers yang masih memegang banyak posisi strategis di pemerintahan dan dunia usaha perlu menumbuhkan inklusi, membuka ruang dialog, serta menanamkan nilai saling menghormati dan belajar dua arah.

“Temuan di laporan Regeneration menjadi paradigma baru dalam membentuk Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujar Harry Deje, Chief Operating Officer Burson Indonesia.

Hampir 97% responden dalam laporan ini sepakat bahwa investasi terhadap pertumbuhan dan pengembangan masyarakat adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045.

Artinya, regenerasi bangsa bukan sekadar estafet kepemimpinan, melainkan proses kolaboratif di mana setiap generasi punya peran. Dari Gen Z yang membawa idealisme, Milenial dengan inovasi, hingga Gen X dan Baby Boomers dengan kebijaksanaan semuanya membentuk satu ekosistem gotong royong modern yang menjadi fondasi masa depan Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Film-film Sains yang Tayang di Science Film Festival 2025 Indonesia

BERIKUTNYA

Dari Sampah Jadi Berkah, Pesantren Krapyak Wujudkan Swakelola dan Energi Mandiri

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga