Punya Potensi Besar, Rumput Laut Indonesia Belum Tergarap Maksimal
04 November 2025 |
16:00 WIB
Sebagai negara maritim, Indonesia menyimpan potensi besar dalam perdagangan pangan biru. Dari laut yang membentang luas, beragam hasil perikanan menjadi andalan ekspor, termasuk rumput laut yang kini mulai dilirik, bukan hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai sumber inovasi baru bagi industri modern.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia memiliki ratusan jenis rumput laut, namun hanya sebagian kecil yang dibudidayakan secara komersial. Padahal, komoditas ini memiliki prospek ekonomi tinggi dan mampu menjadi penggerak ekonomi pesisir jika dikelola dengan baik.
Baca juga: 7 Manfaat Mengonsumsi Rumput Laut untuk Kesehatan Tubuh
Rumput laut bahkan bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari bahan baku pangan, kosmetik, hingga farmasi. Sayangnya, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk kering tanpa pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai tambahnya belum maksimal.
Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri menegaskan, rumput laut seharusnya menjadi komoditas unggulan strategis bagi Indonesia. Negara ini memiliki keunggulan karena merupakan produsen terbesar di dunia.
Rokhmin menambahkan, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu penghasil utama karaginan dari jenis rumput laut merah Eucheuma denticulatum dan Eucheuma cottonii. Karaginan ini dapat diolah menjadi bahan pengental, pembentuk gel, dan penstabil untuk industri pangan, farmasi, maupun kosmetik.
Namun, dia mengakui bahwa teknologi hilirisasi rumput laut di Indonesia belum berkembang optimal. Sebagian besar produk masih diekspor dalam bentuk kering atau bahan baku mentah, belum diolah menjadi karaginan murni atau turunan non-hidrokoloid bernilai tambah.
“Di sinilah pentingnya kolaborasi triple helix antara akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah. Hasil penelitian di laboratorium harus bisa diindustrikan,” ujar Rokhmin.
Sementara itu, Periset Ahli Utama BRIN, Dedi Noviendri, dalam Webinar Bincang Riset 3 di kanal BRIN menuturkan bahwa rumput laut menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan aktif obat. Namun dari lebih dari 800 spesies yang tumbuh di Indonesia, baru sekitar 55 jenis yang dimanfaatkan secara komersial.
Selama ini, pemanfaatan rumput laut masih didominasi untuk kebutuhan pangan dan kosmetik. Potensi di bidang farmasi dan biomedis justru masih minim dijelajahi oleh penelitian terapan.
Data KKP mengungkap, produksi rumput laut tahun lalu memang mencapai 8,2 juta ton, tetapi sebagian besar masih dijual langsung ke luar negeri dalam bentuk kering tanpa pengolahan bernilai tambah.
Menurut Dedi, kondisi ini menjadi kerugian besar bagi perekonomian dan dunia riset. Indonesia kehilangan peluang untuk mengolah hasil laut tersebut menjadi bahan aktif dengan nilai strategis yang lebih tinggi.
Rumput laut sendiri mengandung berbagai metabolit sekunder seperti polisakarida sulfat, alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Senyawa-senyawa ini terbukti memiliki manfaat sebagai antioksidan, antikanker, antimikroba, antidiabetes, hingga antivirus.
Beberapa spesies yang menonjol secara farmakologis antara lain Sargassum polycystum, Gracilaria sp., dan Eucheuma cottonii. Penelitian terbaru menunjukkan, ekstrak dari ketiganya memiliki aktivitas imunostimulan yang berpotensi menurunkan risiko penyakit degeneratif.
Namun, tantangan terbesar tetap berada pada aspek hilirisasi. Industri pengolahan rumput laut di Indonesia masih berfokus pada produk dasar seperti karaginan dan agar. Sementara itu, pengembangan produk untuk farmasi, kosmetik canggih, atau bioplastik masih berjalan lambat.
“Ini kerugian besar, baik secara ekonomi maupun ilmiah. Kita kehilangan kesempatan untuk mengolahnya menjadi bahan aktif bernilai tinggi,” tegas Dedi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia memiliki ratusan jenis rumput laut, namun hanya sebagian kecil yang dibudidayakan secara komersial. Padahal, komoditas ini memiliki prospek ekonomi tinggi dan mampu menjadi penggerak ekonomi pesisir jika dikelola dengan baik.
Baca juga: 7 Manfaat Mengonsumsi Rumput Laut untuk Kesehatan Tubuh
Rumput laut bahkan bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari bahan baku pangan, kosmetik, hingga farmasi. Sayangnya, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk kering tanpa pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai tambahnya belum maksimal.
Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri menegaskan, rumput laut seharusnya menjadi komoditas unggulan strategis bagi Indonesia. Negara ini memiliki keunggulan karena merupakan produsen terbesar di dunia.
Rokhmin menambahkan, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu penghasil utama karaginan dari jenis rumput laut merah Eucheuma denticulatum dan Eucheuma cottonii. Karaginan ini dapat diolah menjadi bahan pengental, pembentuk gel, dan penstabil untuk industri pangan, farmasi, maupun kosmetik.
Namun, dia mengakui bahwa teknologi hilirisasi rumput laut di Indonesia belum berkembang optimal. Sebagian besar produk masih diekspor dalam bentuk kering atau bahan baku mentah, belum diolah menjadi karaginan murni atau turunan non-hidrokoloid bernilai tambah.
“Di sinilah pentingnya kolaborasi triple helix antara akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah. Hasil penelitian di laboratorium harus bisa diindustrikan,” ujar Rokhmin.
Pemanfaatan Belum Maksimal
Sementara itu, Periset Ahli Utama BRIN, Dedi Noviendri, dalam Webinar Bincang Riset 3 di kanal BRIN menuturkan bahwa rumput laut menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan aktif obat. Namun dari lebih dari 800 spesies yang tumbuh di Indonesia, baru sekitar 55 jenis yang dimanfaatkan secara komersial.Selama ini, pemanfaatan rumput laut masih didominasi untuk kebutuhan pangan dan kosmetik. Potensi di bidang farmasi dan biomedis justru masih minim dijelajahi oleh penelitian terapan.
Data KKP mengungkap, produksi rumput laut tahun lalu memang mencapai 8,2 juta ton, tetapi sebagian besar masih dijual langsung ke luar negeri dalam bentuk kering tanpa pengolahan bernilai tambah.
Menurut Dedi, kondisi ini menjadi kerugian besar bagi perekonomian dan dunia riset. Indonesia kehilangan peluang untuk mengolah hasil laut tersebut menjadi bahan aktif dengan nilai strategis yang lebih tinggi.
Rumput laut sendiri mengandung berbagai metabolit sekunder seperti polisakarida sulfat, alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Senyawa-senyawa ini terbukti memiliki manfaat sebagai antioksidan, antikanker, antimikroba, antidiabetes, hingga antivirus.
Beberapa spesies yang menonjol secara farmakologis antara lain Sargassum polycystum, Gracilaria sp., dan Eucheuma cottonii. Penelitian terbaru menunjukkan, ekstrak dari ketiganya memiliki aktivitas imunostimulan yang berpotensi menurunkan risiko penyakit degeneratif.
Namun, tantangan terbesar tetap berada pada aspek hilirisasi. Industri pengolahan rumput laut di Indonesia masih berfokus pada produk dasar seperti karaginan dan agar. Sementara itu, pengembangan produk untuk farmasi, kosmetik canggih, atau bioplastik masih berjalan lambat.
“Ini kerugian besar, baik secara ekonomi maupun ilmiah. Kita kehilangan kesempatan untuk mengolahnya menjadi bahan aktif bernilai tinggi,” tegas Dedi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.