Generasi Z Makin Takut Menikah, Media Sosial dan Realita Hidup Jadi Alasannya
03 November 2025 |
19:00 WIB
Pernikahan dulu dianggap sebagai tanda kedewasaan dan pencapaian hidup yang “lengkap.” Namun bagi generasi muda saat ini, hal itu tampaknya tak lagi jadi prioritas. Melansir dari Cosmopolitan UK, semakin banyak anak muda, khususnya generasi z dan milenial, memilih untuk menunda bahkan menolak pernikahan sama sekali.
Perubahan ini bukan cuma terjadi di negara Barat, tapi mulai terasa juga di Indonesia. Menurut laporan tersebut, survei menunjukkan sekitar 25 persen orang di usia 40 tahun di Amerika belum menikah pada 2021, naik drastis dibandingkan 6 persen pada 1980.
Baca juga: Riset: Ekspektasi Orang Tua & Bujet Terbatas Jadi Hambatan Anak Muda Menikah
Angka ini menandakan adanya perubahan besar dalam cara generasi muda memandang pernikahan. Jika dulu menikah dianggap kewajiban sosial, kini lebih banyak yang menganggapnya sebagai pilihan hidup. Alasan utamanya beragam.
Banyak anak muda tumbuh melihat bagaimana generasi orang tua mereka menghadapi perceraian, konflik rumah tangga, hingga hubungan yang tak bahagia.
Pengalaman itulah yang kemudian menumbuhkan rasa takut akan kegagalan dalam hubungan jangka panjang. Generasi Z ingin memastikan kestabilan emosional dan finansial dulu sebelum masuk ke tahap serius, atau bahkan memutuskan tidak menikah jika itu dirasa lebih menenangkan.
Kondisi ini juga tercermin di Indonesia. Kini, menikah di usia muda bukan lagi norma yang diikuti banyak orang. Banyak anak muda yang memilih fokus pada karier, pendidikan, atau mengejar kebebasan pribadi dulu.
Faktor ekonomi pun tak bisa diabaikan, mulai dari harga rumah yang tinggi, biaya resepsi, hingga tuntutan hidup yang semakin berat membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum berkomitmen secara legal.
Selain itu, media sosial juga memainkan peran besar dalam membentuk cara pandang generasi sekarang terhadap pernikahan. Setiap hari, publik disuguhkan berita tentang rumah tangga publik figur yang kandas, kisah perselingkuhan viral, atau pasangan yang bercerai meski terlihat bahagia di depan kamera.
Fenomena ini membuat banyak generasi z semakin skeptis terhadap konsep “selamanya”. Bahkan, sebagian merasa lebih aman membangun hubungan yang fleksibel tanpa label hukum atau sosial yang mengikat.
Bukan hanya dari dunia hiburan, contoh di sekitar pun ikut memengaruhi. Ketika teman, saudara, atau bahkan tetangga mengalami kegagalan rumah tangga, persepsi terhadap pernikahan ikut berubah. Banyak yang kemudian memilih berhati-hati dan lebih rasional sebelum memutuskan untuk menikah.
Ada pula yang berpendapat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari status “menikah”, tetapi dari hubungan yang sehat dan seimbang, dengan atau tanpa cincin di jari.
Menariknya, meskipun angka pernikahan menurun, minat terhadap hubungan yang stabil dan intim tetap tinggi. Bedanya, generasi sekarang ingin hubungan yang didasarkan pada kesetaraan, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional, bukan semata-mata memenuhi ekspektasi masyarakat. Mereka ingin memastikan bahwa jika suatu hari menikah, keputusan itu benar-benar berasal dari keinginan pribadi, bukan karena tekanan sosial.
Melihat tren ini, jelas bahwa cara pandang terhadap pernikahan sedang mengalami pergeseran besar. Penurunan angka pernikahan bukan berarti generasi muda kehilangan makna cinta atau komitmen, tapi mereka ingin menjalaninya dengan lebih sadar.
Sementara di Indonesia, perubahan ini juga menjadi refleksi dari realitas sosial yang kian kompleks, di mana kebahagiaan personal dan kesehatan mental kini dianggap sama pentingnya dengan status di mata masyarakat.
Pilihan menikah atau tidak adalah hal yang sangat pribadi. Namun satu hal yang pasti: generasi muda kini berani menentukan sendiri jalan hidupnya, tanpa merasa harus meniru pola lama yang mungkin sudah tak lagi relevan dengan zaman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Perubahan ini bukan cuma terjadi di negara Barat, tapi mulai terasa juga di Indonesia. Menurut laporan tersebut, survei menunjukkan sekitar 25 persen orang di usia 40 tahun di Amerika belum menikah pada 2021, naik drastis dibandingkan 6 persen pada 1980.
Baca juga: Riset: Ekspektasi Orang Tua & Bujet Terbatas Jadi Hambatan Anak Muda Menikah
Angka ini menandakan adanya perubahan besar dalam cara generasi muda memandang pernikahan. Jika dulu menikah dianggap kewajiban sosial, kini lebih banyak yang menganggapnya sebagai pilihan hidup. Alasan utamanya beragam.
Banyak anak muda tumbuh melihat bagaimana generasi orang tua mereka menghadapi perceraian, konflik rumah tangga, hingga hubungan yang tak bahagia.
Pengalaman itulah yang kemudian menumbuhkan rasa takut akan kegagalan dalam hubungan jangka panjang. Generasi Z ingin memastikan kestabilan emosional dan finansial dulu sebelum masuk ke tahap serius, atau bahkan memutuskan tidak menikah jika itu dirasa lebih menenangkan.
Kondisi ini juga tercermin di Indonesia. Kini, menikah di usia muda bukan lagi norma yang diikuti banyak orang. Banyak anak muda yang memilih fokus pada karier, pendidikan, atau mengejar kebebasan pribadi dulu.
Faktor ekonomi pun tak bisa diabaikan, mulai dari harga rumah yang tinggi, biaya resepsi, hingga tuntutan hidup yang semakin berat membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum berkomitmen secara legal.
Selain itu, media sosial juga memainkan peran besar dalam membentuk cara pandang generasi sekarang terhadap pernikahan. Setiap hari, publik disuguhkan berita tentang rumah tangga publik figur yang kandas, kisah perselingkuhan viral, atau pasangan yang bercerai meski terlihat bahagia di depan kamera.
Fenomena ini membuat banyak generasi z semakin skeptis terhadap konsep “selamanya”. Bahkan, sebagian merasa lebih aman membangun hubungan yang fleksibel tanpa label hukum atau sosial yang mengikat.
Bukan hanya dari dunia hiburan, contoh di sekitar pun ikut memengaruhi. Ketika teman, saudara, atau bahkan tetangga mengalami kegagalan rumah tangga, persepsi terhadap pernikahan ikut berubah. Banyak yang kemudian memilih berhati-hati dan lebih rasional sebelum memutuskan untuk menikah.
Ada pula yang berpendapat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari status “menikah”, tetapi dari hubungan yang sehat dan seimbang, dengan atau tanpa cincin di jari.
Menariknya, meskipun angka pernikahan menurun, minat terhadap hubungan yang stabil dan intim tetap tinggi. Bedanya, generasi sekarang ingin hubungan yang didasarkan pada kesetaraan, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional, bukan semata-mata memenuhi ekspektasi masyarakat. Mereka ingin memastikan bahwa jika suatu hari menikah, keputusan itu benar-benar berasal dari keinginan pribadi, bukan karena tekanan sosial.
Melihat tren ini, jelas bahwa cara pandang terhadap pernikahan sedang mengalami pergeseran besar. Penurunan angka pernikahan bukan berarti generasi muda kehilangan makna cinta atau komitmen, tapi mereka ingin menjalaninya dengan lebih sadar.
Sementara di Indonesia, perubahan ini juga menjadi refleksi dari realitas sosial yang kian kompleks, di mana kebahagiaan personal dan kesehatan mental kini dianggap sama pentingnya dengan status di mata masyarakat.
Pilihan menikah atau tidak adalah hal yang sangat pribadi. Namun satu hal yang pasti: generasi muda kini berani menentukan sendiri jalan hidupnya, tanpa merasa harus meniru pola lama yang mungkin sudah tak lagi relevan dengan zaman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.