Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbicara di ajang IdeaFest 2025, Minggu (2/11/2025). (Foto: Desyinta Nuraini/Hypeabis.id)

Tak Kena Post Power Syndrome, SBY Ngaku Lebih Bahagia Jadi Seniman

03 November 2025   |   06:25 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono kini menjalani hari-harinya dengan lebih tenang dan bahagia, terutama sebagai seniman. Setelah satu dekade memimpin negeri dan puluhan tahun berkarier di militer, pria yang karib disapa SBY itu, menemukan bentuk lain dari kepemimpinan.
 
Tidak mau terjebak post power syndrome, SBY bersama istrinya, Ani Yudhoyono, bahkan merancang kegiatan dan keinginan yang akan dilakukan usai tidak lagi menjabat sebagai presiden. Rencana itu disusun sejak 1-2 tahun sebelum masa kepimimpinannya berakhir. 

Baca juga: Pamer 3 Lukisan di IdeaFest 2025, SBY Sebut Melukis Bentuk Ekspresi & Pemulihan Jiwa
 
SBY mengaku saat istri tercintanya masih hidup, sebagian keinginan yang dirancang sudah terwujud. Sempat terpuruk usai kepergian Ani, pria asal Pacitan itu lantas memutuskan untuk meraih kembali mimpi-mimpinya. Salah satunya yakni aktif kembali pada kegiatan berkesenian.
 
Dia kembali memegang kuas, menatap kanvas, dan menuliskan bait-bait yang merekam perjalanan batin seorang negarawan yang tak lagi berurusan dengan politik praktis, namun tetap terhubung dengan bangsa dan kemanusiaan.
 
"Saya sebagai seniman sekarang, saya lebih merdeka. I have my own liberty to choose apa yang bisa saya lakukan di hari tua seperti ini, ketika kembali ke pangkuan masyarakat biasa dan saya enjoy, saya bahagia karena bisa melakukan sesuatu di dunia seni, dunia olahraga, sambil sekali-sekali diminta pandangan berbagai kalangan dalam dan luar negeri tentang Indonesia dan dunia," tutur SBY dalam panggung IdeaFest 2025 yang dihelat di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (2/11/2025)
 
Sejak muda, SBY memang tidak asing dengan seni. Dia pernah bermain band, menulis puisi, dan melukis di sela kesibukan militernya. Kini, di usia 76 tahun, hobi lama itu berubah menjadi jalan penyembuhan dan ekspresi diri. 
 
Di Museum dan Galeri Seni Ani Yudhoyono di Pacitan, hasil karya tangannya terpajang berdampingan dengan kenangan masa lalu potret perjalanan seorang anak desa yang bermimpi besar. 
 
Bagi SBY, melukis bukan sekadar kegiatan mengisi waktu pensiun. Setiap goresan kuas baginya adalah percakapan dengan diri sendiri, dan terkadang dengan dunia yang terus bergejolak. 
 
Sempat lama terpuruk karena ditinggal sang istri tercinta yang kembali ke pangkuan Tuhan, SBY menemukan penghiburan lewat seni, puisi, dan perjalanan. “Saya harus melakukan sesuatu supaya masih punya asa, punya harapan. Kalau tidak, hati bisa tergerus. Maka saya terus berkarya, melukis, menulis, dan bersyukur masih bisa berbuat hal kecil untuk keluarga dan masyarakat," jelasnya.
 
Dari situ, seni menjadi cara SBY berdialog dengan rasa kehilangan. Bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk bangkit. 
 
Kini, hidupnya diisi dengan hal-hal sederhana, melukis, menulis puisi, bermain musik, dan sesekali melakukan perjalanan dengan bus kesayangannya ke berbagai kota. Ya, SBY kembali menjadi rakyat biasa yang menikmati kebebasan memilih arah hidup.
 
“Dulu, sebagai presiden, saya bekerja atas dasar konstitusi dan tanggung jawab besar. Sekarang lebih bebas, lebih merdeka, lebih enjoy, lebih happy dan mungkin karena saya tidak kena penyakit post power syndrome," tutur SBY.

SEBELUMNYA

Kolaborasi Indofood & Rekosistem di IdeaFest, Sulap Sampah Jadi Produk Kreatif

BERIKUTNYA

RM BTS Serukan Dukungan Global untuk Industri Budaya di KTT APEC 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga