Co-founder of Naughty Goat Coffee Artisans, Winston (kanan) dan Co-founder Jen memberikan paparan saat diskusi bertema Brewing Mischief: Coffee Date With Naughty Goat pada acara IdeaFest 2025 di Jakarta, Sabtu (1/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Coffee Date Bersama Naughty Goat di IdeaFest 2025, Meracik Kopi di Dunia Tanpa NPC

01 November 2025   |   18:27 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Menyeruput secangkir kopi bukan lagi sekadar rutinitas pagi bagi sebagian orang. Di balik aroma yang menenangkan dan rasa pahit yang khas, tersimpan kisah tentang perjalanan panjang, dedikasi, dan kreativitas para peracik kopi artisan yang menjadikan setiap tegukan memiliki makna tersendiri.

Dalam sesi talkshow IdeaFest 2025 bertajuk Brewing Mischief: Coffee Date With Naughty Goat — where passion meets the perfect roast pada Sabtu, 1 November 2025, para pendiri Naughty Goat Coffee Artisans, yakni Join Winston dan Jen membagikan kisah di balik berdirinya merek kopi tersebut. 

Adapun Naughty Goat Coffee Artisans adalah kedai kopi yang berlokasi di Jalan Dewi Sri, Legian, Kuta, Bali. Tempat ini menghadirkan konsep unik yang disebut oleh Winston dan Jen sebagai fine dining versi kopi. 

Baca juga: Gusti Bhre Ajak Masyarakat Kelola Warisan Budaya Jadi Aset Ekonomi di IdeaFest 2025

Tidak seperti kafe pada umumnya, Naughty Goat berfokus sepenuhnya pada pengalaman menikmati kopi, tanpa makanan pendamping atau pengharum ruangan yang bisa mengganggu aroma minuman. 

Semua yang disajikan berbasis kopi, mulai dari berbagai jenis seduhan manual hingga Signature Cold Brew yang difermentasi selama 40 jam dalam botol elegan yang disebut sebagai “manifesto” cita rasa mereka. 

Selain itu, pengunjung bisa mencoba coffee flight atau coffee omakase, yakni pengalaman mencicipi berbagai kopi pilihan yang diseduh langsung oleh barista sesuai karakter rasa pelanggan.

Dengan konsep private coffee bar dan jam operasional terbatas, Naughty Goat tidak sekadar menjadi tempat minum kopi, melainkan destinasi bagi para penikmat yang ingin memahami kopi sebagai bentuk seni dan ekspresi.

Perjalanan berdirinya Naughty Goat Coffee Artisans bermula dari kesederhanaan, yakni menyeduh kopi dingin di dapur rumah mereka di Bali, lalu mengirimkannya ke berbagai penjuru Indonesia.

“Awalnya kami hanya menjual cold brew, tapi entah bagaimana, ada saja orang yang memesan dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, bahkan Papua,” ujar Winston. 

Dari eksperimen sederhana itu, lahirlah bisnis kopi yang kini dikenal luas bukan hanya karena rasa, tetapi karena pengalaman yang menyertainya. Namun, apa sebenarnya pengalaman tersebut? Winston mengaku, dia dan Jen pun sempat bingung. 

"Kami tidak pernah merancang pengalaman tertentu. Kami hanya menyajikan kopi yang kami sukai, duduk bersama tamu, dan berbincang, tapi mereka bilang, wah ini sebuah pengalaman," katanya.

Selama enam bulan terakhir, Winston dan Jen mencoba mencari tahu apa yang dimaksud dengan “Naughty Goat Experience” yang banyak dibicarakan orang-orang setelah berkunjung ke kedai kopi mereka.

Jawabannya datang ketika mereka diminta menghadirkan pengalaman tersebut di ajang Jia Curated Week di Bali, sebuah festival seni dan desain.

"Panitia meminta kami membawa Naughty Goat Experience ke sana. Awalnya kami bingung, karena kami pikir pengalaman itu hanya bisa dirasakan di tempat kami sendiri, di ruang yang kami rancang dan kelola dengan alat kami sendiri," ujar Jen.

Namun, di luar dugaan, pengalaman itu ternyata bisa dihadirkan di mana saja. Dalam sesi omakase yang biasanya dipimpin Winston, kopi hanya sebatas medium untuk berbagi cerita tentang kehidupan. 

"Ini adalah tentang orang-orang yang saling terhubung lewat percakapan ringan sambil menyeruput secangkir kopi," sambung Jen.

Dari sanalah lahir filosofi yang kini menjadi DNA Naughty Goat: A World Without NPCs yakni dunia tanpa karakter pasif. Mereka ingin setiap interaksi terasa nyata. Barista bukan sekadar barista, pelanggan bukan sekadar pelanggan. Semuanya adalah orang-orang yang saling berinteraksi dan terhubung.

Winston dan Jen mengenang awal mula mereka hanya bisa berjualan cold brew lewat pesan singkat saat pandemi, semua komunikasi dilakukan lewat WhatsApp. Mereka sering mengobrol panjang dengan pelanggan seperti menanyakan selera mereka, menjelaskan rasa kopi, bahkan kadang bercanda. 

"Awalnya tampak ribet, tapi justru dari sana muncul kedekatan. Dari situ pula kami ingin membuka ruang fisik agar bisa melihat wajah orang-orang itu secara langsung," Ujar Winston.

Kini nilai tersebut telah menjadi inti dari budaya kerja tim Naughty Goat. Mulai dari resepsionis hingga barista, membawa semangat yang sama yakni tidak ada NPC alias karakter yang hanya menjalankan peran tanpa jiwa.

Di samping itu, Winston dan Jen juga menyadari pentingnya komunikasi yang tercermin melalui karya mereka. Bagi keduanya, pesan yang disampaikan tidak hanya datang dari kata-kata atau interaksi dengan pelanggan, tetapi juga dari cara mereka menciptakan sesuatu. Mulai dari rasa kopi hingga desain ruang dan kemasan.

Keduanya dikenal sebagai sosok yang sama-sama idealis. Winston berfokus pada sisi produk, sementara Jen menaruh perhatian penuh pada desain. Perbedaan pandangan kerap memunculkan perdebatan, namun justru dari gesekan ide itulah lahir keseimbangan dan inovasi.

Dari sisi produk, Winston memilih untuk mengelola seluruh rantai pasok dari petani hingga pelanggan sebagai bentuk tanggung jawab atas kualitas kopinya. Sementara Jen, sangat fokus pada detail seperti pengemasan sampai pencahayaan ruangan.

"Kami percaya bahwa cinta bisa dirasakan, bahkan dari hal sekecil tekstur kertas pada kemasan, orang mungkin tidak bisa menjelaskan, tapi mereka tahu ketika sesuatu dibuat dengan tulus," kata Jen.

Dia menambahkan, mungkin ketika orang-orang melihatnya sedang menyeduh kopi, membersihkan cangkir, atau menyapa tamu dengan tulus, mereka bisa melihat bahwa setiap hal kecil dalam hidup juga bisa berarti besar, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikannya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

IdeaFest 2025 Soroti Perkembangan Art Award yang Pacu Ekosistem Seni di Indonesia

BERIKUTNYA

Wacana Mindfulness Ala Nusantara Jadi Sorotan di IdeaFest 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga