KGPAA Mangkunegara X, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. (Sumber foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Gusti Bhre Ajak Masyarakat Kelola Warisan Budaya Jadi Aset Ekonomi di IdeaFest 2025

01 November 2025   |   15:23 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Warisan budaya kini tak lagi menjadi simbol masa lalu, melainkan aset strategis yang dapat dikelola dan dikembangkan secara profesional. Topik ini menjadi sorotan utama dalam sesi talkshow IdeaFest 2025 bertajuk From Legacy to IP: Redefining Heritage in the Modern Cultural Economy.

Pada sesi bincang-bincang yang dipandu oleh Roby Bagindo selaku Founder of Masak.TV, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, bicara tentang upayanya mendefinisikan ulang warisan budaya dalam konteks ekonomi modern.

"Budaya tidak boleh berhenti di masa lalu, tetapi harus menjadi sumber inspirasi dan inovasi bagi masa depan," ujarnya.

Baca juga: IdeaFest Angkat Pentingnya Recovery sebagai Bagian Penting dalam Berolahraga

Sebagai pemimpin muda yang memegang tanggung jawab besar terhadap keberlanjutan Pura Mangkunegaran di Surakarta, Gusti Bhre melihat peluang besar di bidang ekonomi kreatif untuk menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Dia menilai bahwa pendekatan berbasis intellectual property (IP) adalah kunci untuk mengubah warisan budaya menjadi aset ekonomi yang berkelanjutan. 

“IP memungkinkan kita melindungi dan mengembangkan tradisi tanpa kehilangan jati diri. Dengan cara ini, budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi,” jelasnya.

Konsep ini sejalan dengan tren global di mana berbagai negara mulai mengelola aset budaya mereka sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif. Di Indonesia sendiri, upaya ini bisa dilihat dari munculnya berbagai inisiatif yang mengadaptasi unsur tradisional, mulai dari desain busana, kuliner, hingga musik dan pertunjukan ke dalam bentuk produk yang relevan dengan gaya hidup modern. 

Upaya Mangkunegaran dalam mentransformasikan warisan budaya ke bentuk IP bukan hanya tentang komersialisasi, tetapi lebih kepada bagaimana nilai-nilai budaya bisa tetap hidup dan relevan. 
 

KG

Founder of Masak.TV Roby Bagindo bersama KGPAA Mangkunegara X atau Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Sudjiwo KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Sudjiwo saat mengisi diskusi bertema From Legacy to IP: Redefining Heritage in the Modern Cultural Economy pada acara IdeaFest 2025 di Jakarta, Sabtu (1/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)


“Keberlanjutan itu tidak bisa hanya berdasarkan nama besar tapi harus ada fungsi, keberadaan, dan dampak yang jelas bagi publik. Jika tidak relevan, maka institusi sebesar apapun akan kehilangan maknanya,” tuturnya.

Sampai saat ini, Mangkunegaran sendiri memiliki beberapa IP yang menjadi wujud konkret dari upaya pelestarian sekaligus modernisasi nilai-nilai budaya. Misalnya restoran Pracima, yang mengembangkan kuliner berbasis resep-resep kuno kerajaan. Restoran yang berada di area Mangkunegaran ini menyajikan hidangan dan minuman khas kerajaan serta pengalaman bersantap ala kerajaan.

Ada juga IP yang lebih modern, seperti Mangkunegaran Run yang tahun ini memasuki tahun keempat dan rutin diselenggarakan setiap Mei. Kegiatan ini tidak hanya berkonsep olahraga, tetapi juga menjadi sarana promosi dan pengenalan budaya. 

"Tahun depan, acara ini akan diikuti sekitar 8.000 hingga 10.000 peserta di Solo, dan kami akan mengundang berbagai perwakilan budaya dari seluruh Nusantara agar menjadi ajang promosi daerah," ujar Gusti Bhre.

Selain itu, Mangkunegaran juga mendorong kolaborasi lintas sektor melalui gerakan Culture Future, yang melibatkan pelaku industri kreatif dari berbagai bidang, mulai dari olahraga hingga produk gaya hidup. 

Gusti Bhre memaparkan, bahwa modernisasi budaya bukan berarti menghilangkan sakralitasnya. Namun juga harus memastikan setiap adaptasi tetap membawa nilai-nilai luhur dan melibatkan masyarakat sebagai pemilik aslinya.

Lebih jauh, beliau menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin antara seniman, pelaku bisnis, dan pemerintah dalam membangun ekosistem budaya yang sehat. Melalui karya berbasis budaya, para pelaku kreatif dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga keberlanjutan sumber aslinya. 

“Kita perlu menggeser cara pandang dari melestarikan ke mengelola. Dari sekadar menjaga bentuk ke menghidupkan makna,” lanjutnya

Transformasi digital juga disebut sebagai elemen penting dalam perjalanan ini, misalnya melalui keberadaan media sosial dan berbagai platform lainnya.
 
Dengan pendekatan From Legacy to IP, Gusti Bhre mengajak masyarakat untuk melihat budaya bukan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, tetapi sebagai fondasi masa depan ekonomi kreatif Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

IdeaFest 2025 Angkat Pentingnya Recovery sebagai Bagian Penting dalam Berolahraga

BERIKUTNYA

Kata Gusti Bhre Soal Tantangan Mengubah Warisan Budaya Jadi IP di IdeaFest 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga