Penulis Abigail Limuria Hidupkan Budaya Berpikir Kritis Generasi Muda di IdeaFest 2025
31 October 2025 |
16:10 WIB
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya serba instan di media sosial, penulis sekaligus pendiri What Is Up, Indonesia, Abigail Limuria ingin mengajak generasi muda menjadikan budaya membaca dan berpikir kritis sebagai bagian dari gaya hidup.
“Lewat budaya pikir, aku dan co-author-ku, Cania menulis buku Makanya, Mikir dengan harapan merevolusi cara orang melihat budaya membaca,” ujar Abigail dalam sesi IdeaTalks di IdeaFest 2025.
Lewat buku bertajuk Makanya, Mikir, Abigail ingin mengubah cara masyarakat memandang aktivitas berpikir dan membaca dari sesuatu yang dianggap berat dan akademis menjadi hal yang membanggakan dan patut dirayakan.
Baca Juga: Dari Nyanyi Bareng hingga Bocor Banget Politik, IdeaFest X Jadi Ruang Perayaan Budaya Kolaboratif
Menurutnya, perubahan pandangan ini tak bisa berhenti hanya pada isi buku karena itulah, dia dan tim juga memperhatikan keseluruhan proses, mulai dari book launch, strategi pemasaran, hingga visual dan pengalaman membaca.
“Kami nggak cuma menulis buku, tapi juga mikirin banget bagaimana book launch dan marketing-nya bisa membuat membaca terlihat menarik. Karena yang menentukan apa yang keren dan apa yang tidak, itu adalah media,” jelasnya.
Melalui What Is Up, Indonesia, Abigail berupaya menanamkan nilai berpikir kritis dan kesadaran politik tanpa menggurui. Dia percaya, media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang apa yang dianggap keren atau tidak.
“Media punya peran besar dalam menentukan apa yang dianggap keren atau cringe. Karena itu, media penting banget untuk kultur,” tambahnya.
Dalam buku Makanya, Mikir, Abigail berusaha membumikan konsep berpikir kritis agar mudah diakses oleh siapa saja terutama generasi muda yang terbiasa dengan ritme cepat media sosial.
“Aku selalu percaya kalau aku belum bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana sampai anak SMA nggak paham, berarti aku sendiri belum paham,” ujarnya.
Gaya penulisan buku ini dibuat ringan, relevan, dan mudah dicerna tanpa mengurangi substansi. Bahkan, Abigail dan Cania memperhatikan detail kecil seperti contoh keseharian, layout, hingga jarak margin dan tampilan visual agar tetap nyaman dibaca bagi mereka yang terbiasa scrolling di media sosial.
Tak berhenti di buku, keduanya kini tengah mengembangkan penerbit independen bernama Malaka Books, yang bertujuan membangun ekosistem membaca yang lebih hidup dan berkelanjutan.
“Buku itu nggak bisa berjuang sendirian. Harus ada komunitas, ekosistem, dan gerakan bersama yang membuat membaca jadi sesuatu yang hidup,” tutup Abigail.
Bagi para pengunjung IdeaFest yang ingin mengenal lebih dalam proses kreatif di balik buku Makanya, Mikir, Abigail akan menggelar kelas khusus pada Jumat, 31 Oktober 2025 pukul 17.00 WIB di Lower Lobby JICC.
Dia akan membawa topik "Critical Thinking and Its Usage in Life" (Berpikir Kritis dan Penggunaannya dalam Kehidupan) yang membahas bagaimana berpikir kritis bisa jadi hal yang fun, cool, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Resmi Dibuka, IdeaFest 2025 Tumbuhkan Budaya Kreatif Era Modern
“Lewat budaya pikir, aku dan co-author-ku, Cania menulis buku Makanya, Mikir dengan harapan merevolusi cara orang melihat budaya membaca,” ujar Abigail dalam sesi IdeaTalks di IdeaFest 2025.
Lewat buku bertajuk Makanya, Mikir, Abigail ingin mengubah cara masyarakat memandang aktivitas berpikir dan membaca dari sesuatu yang dianggap berat dan akademis menjadi hal yang membanggakan dan patut dirayakan.
Baca Juga: Dari Nyanyi Bareng hingga Bocor Banget Politik, IdeaFest X Jadi Ruang Perayaan Budaya Kolaboratif
Menurutnya, perubahan pandangan ini tak bisa berhenti hanya pada isi buku karena itulah, dia dan tim juga memperhatikan keseluruhan proses, mulai dari book launch, strategi pemasaran, hingga visual dan pengalaman membaca.
“Kami nggak cuma menulis buku, tapi juga mikirin banget bagaimana book launch dan marketing-nya bisa membuat membaca terlihat menarik. Karena yang menentukan apa yang keren dan apa yang tidak, itu adalah media,” jelasnya.
Melalui What Is Up, Indonesia, Abigail berupaya menanamkan nilai berpikir kritis dan kesadaran politik tanpa menggurui. Dia percaya, media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang apa yang dianggap keren atau tidak.
“Media punya peran besar dalam menentukan apa yang dianggap keren atau cringe. Karena itu, media penting banget untuk kultur,” tambahnya.
Dalam buku Makanya, Mikir, Abigail berusaha membumikan konsep berpikir kritis agar mudah diakses oleh siapa saja terutama generasi muda yang terbiasa dengan ritme cepat media sosial.
“Aku selalu percaya kalau aku belum bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana sampai anak SMA nggak paham, berarti aku sendiri belum paham,” ujarnya.
Gaya penulisan buku ini dibuat ringan, relevan, dan mudah dicerna tanpa mengurangi substansi. Bahkan, Abigail dan Cania memperhatikan detail kecil seperti contoh keseharian, layout, hingga jarak margin dan tampilan visual agar tetap nyaman dibaca bagi mereka yang terbiasa scrolling di media sosial.
Tak berhenti di buku, keduanya kini tengah mengembangkan penerbit independen bernama Malaka Books, yang bertujuan membangun ekosistem membaca yang lebih hidup dan berkelanjutan.
“Buku itu nggak bisa berjuang sendirian. Harus ada komunitas, ekosistem, dan gerakan bersama yang membuat membaca jadi sesuatu yang hidup,” tutup Abigail.
Bagi para pengunjung IdeaFest yang ingin mengenal lebih dalam proses kreatif di balik buku Makanya, Mikir, Abigail akan menggelar kelas khusus pada Jumat, 31 Oktober 2025 pukul 17.00 WIB di Lower Lobby JICC.
Dia akan membawa topik "Critical Thinking and Its Usage in Life" (Berpikir Kritis dan Penggunaannya dalam Kehidupan) yang membahas bagaimana berpikir kritis bisa jadi hal yang fun, cool, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Resmi Dibuka, IdeaFest 2025 Tumbuhkan Budaya Kreatif Era Modern
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.